Mengapa tidak kita maafkan?

tulisan ini disarikan dari khutbah jum’at di mesjid MUI sadangserang 21 Maret 2008.

alkisah, ada seseorang yang selalu meludahi Nabi Muhammad s.a.w. setiap Nabi melewatinya. suatu ketika, orang itu sakit, hingga Nabi tidak melihatnya. Nabi lalu bertanya kepada sahabat, “dimana gerangan orang tersebut?” ketika sahabat menjawab, “ia sedang sakit”, Nabi bergegas meninggalkan sahabat dan mengunjungi orang tersebut. orang tersebut, yang terharu atas kelembutan hati Nabi Muhammad s.a.w., lalu mengucap 2 kalimat syahadat, dan masuk Islam.

ketika ditanya mengapa Nabi malah mengunjungi orang yang selalu menyakitinya, Nabi menjawab, “aku memaafkan orang lain, bahkan sebelum ia meminta maaf.” sungguh mulia teladan yang dicontohkan Rasulullah s.a.w. ! bandingkan dengan kehidupan kita sekarang dimana yang sering terjadi malah prinsip sebaliknya, yaitu “aku tidak memaafkannya, walaupun ia telah meminta maaf.”

seringkali kita tidak mau memaafkan orang karena kita merasa kehilangan harga diri jika kita memaafkan (iya ya? perasaan sy mah ga ky gitu. tapi pokonya gitu kata khotibnya). padahal, lihatlah Rasulullah s.a.w. beliau orang yang sangat pemaaf, tapi apakah ia tidak memiliki harga diri? sebaliknya, ia justru merupakan manusia yang paling mulia! karena itu, saudaraku, siapa pun yang membaca tulisan ini dan mengerti bahasa Indonesia, mari kita mencoba memaafkan dan melupakan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan orang lain kepada kita, sekali pun orang tersebut tidak (belum) meminta maaf.

barakallaah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s