Membebaskan Belenggu Pola Pikir

minggu kemarin tuh ada acara Forum Indonesia Muda (FIM). naah, syarat untuk jadi pesertanya adalah mengirim essay dengan tema kemiskinan. ternyata, sy dipanggil untuk jadi peserta FIM ini (smpe skarang masi agak bingung juga knapa bisa kepanggil, coz sy ngirim CV+essay telat 10 hari dari deadline, habis baru liat blog FIM nya jg telat 9 hari dr deadline). essay yg sy bikin itu judulnya membebaskan belenggu pola pikir. inti pokok yg ingin sy sampein di essay ini tuh bahwa sbenernya krisis yg melanda Indonesia saat ini tuh gara-gara kelakuan (attitude) orang-orangnya. essay ini sy selesein dengan ngebut, perasaan bikinnya cuma 90 menitan.. so, maap klo dibacanya ga enak.

=====

Miskin, menurut kamus besar Bahasa Indonesia, “berarti tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah)”. Dari definisi yang cenderung terbatas dalam bidang ekonomi tersebut, kata miskin telah berkembang menjadi dapat diterapkan dalam berbagai aspek seperti politik dan budaya. Yang penting syarat keadaan serba kekurangan dalam pelbagai aspek tersebut tetap terpenuhi. Keadaan serba kekurangan ini, disebut dengan kemiskinan.

Kita tidak bisa menutup mata, bahwa saat ini kemiskinan multidimensi nyata terjadi di masyarakat sekitar kita. Dalam bidang ekonomi, politik, maupun budaya, kemiskinan tidak terlepas dari kehidupan kita.

Kemiskinan ekonomi dapat terlihat dengan mudah secara kasat mata. Di suratkabar kita membaca kasus gizi buruk, kasus anak jalanan, kasus kriminal bermotif ekonomi. Dan di lingkungan yang dekat kita – biasanya tidak diperlukan pengamatan jeli, cukup dengan pengamatan sekilas – kita bisa menemukan pemuda-pemuda usia produktif yang hanya menjadi pengangguran, keluarga yang gaya hidupnya besar pasak daripada tiang, dll.

Kemiskinan politik, dapat dilihat dari rendahnya partisipasi dan antusiasme masyarakat terhadap berbagai peristiwa politik. Tingkat golput yang tinggi di berbagai pemilihan kepala daerah, kurangnya ruang aspirasi publik, dan apatisme terhadap proses politik, hanya sebagian dari gejala yang muncul di masyarakat.

Kemiskinan budaya, tampak dari sikap masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yang menunjukkan bahwa pola pikir masyarakat masih terbelenggu. Berbagai tingkah polah negatif masyarakat menunjukkan kemiskinan bangsa Indonesia di bidang budaya. Kebiasaan terlambat (ngaret), lalai, budaya kekerasan, budaya konsumtif, kebiasaan berangan-angan, budaya instan, kebiasaan menyalahkan dan mencari pembenaran, semua merupakan kebiasaan yang seolah dipupuk di kehidupan masyarakat. Hal ini seharusnya tidak terjadi pada masyarakat yang pola pikirnya sudah maju.

Kemiskinan budaya ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Karena, kemiskina budaya ini merupakan kunci untuk menyelesaikan kemiskinan-kemiskinan lainnya.

Budaya adalah pikiran, akal budi. Dari pikiran dan akal budi, manusia kemudian bertindak. Tindakannya itulah yang akan menggiring manusia kepada hasil.

Sehingga, jika saat ini kemiskinan melanda kehidupan masyarakat, hal itu merupakan akibat dari tindakan masyarakat itu sendiri. Dan tindakan masyarakat itu bersumber dari pola pikir yang berkembang di masyarakat.

Mengapa saat ini terjadi kemiskinan di bidang ekonomi, karena di masyarakat saat ini berkembang budaya konsumtif dan ingin instan. Budaya konsumtif, membuat orang sering membeli sesuatu yang tidak tepat guna. Pembelian barang seringkali hanya didasarkan pada keinginan, bukan berdasar pada analisa kebutuhan. Seringnya pembelian barang secara tidak tepat guna ini berdampak pada besarnya pengeluaran yang harus dikeluarkan masyarakat. Parahnya, ketika pengeluaran membesar dan harus dibarengi dengan pemasukan yang membesar pula, yang berkembang di masyarakat justru budaya instan. Masyarakat ingin mendapat hasil yang cepat dan besar tanpa mau bekerja keras. Indikasi dari fenomena ini adalah menjamurnya berbagai kuis sms, yang mana menurut pendapat subjektif saya kuis-kuis sms ini adalah tidak lebih dari pembodohan terstruktur. Alhasil, ketika hasil yang instan tidak didapat, budaya kekerasan mulai timbul di masyarakat. Budaya kekerasan yang dipicu rasa frustasi karena hasil instan yang diharapkan ternyata tidak berhasil didapatkan.

Kebiasaan lain yang menghambat perbaikan taraf ekonomi masyarakat adalah kebiasaan ngaret, dan lalai. Kebiasaan ngaret dan lalai ini sangat mengganggu produktivitas.

Sangat berbeda dengan bangsa-bangsa maju, masyarakat kita sangat toleran terhadap keterlambatan. Padahal, keterlambatan berarti pembuangan waktu. Sebagai gambaran betapa berbedanya kita dengan bangsa maju, dalam cara jalan, masyarakat kita sering berjalan dengan santai, bandingkan dengan orang Jepang yang selalu bergegas.

Kebiasaan lalai juga dengan mudah terlihat dari senangnya masyarakat kita menggampangkan suatu persoalan. Contoh sederhana dari kelalaian, di dalam suatu gedung, kita sering menjumpai orang yang duduk di tangga. Padahal, tangga dibuat untuk memperlancar proses. Jika tangga terhalangi, tentu kelancaran yang diharapkan muncul tidak akan sempurna. Itu hanya contoh kecil, yang mungkin efeknya tidak terlalu signifkan. Contoh lain kebiasaan lalai adalah, jarangnya masyarakat kita melakukan dokumentasi yang semestinya. Ketika mengerjakan suatu pekerjaan, dokumentasi merupakan alat yang sangat berguna untuk proses evaluasi, apalagi jika pekerjaan tersebut akan diulangi. Faktanya di masyarakat saat ini, dokumentasi sering dianggap hanya merupakan formalitas, dan karenanya dilakukan secara asal-asalan.

Fenomena ngaret dan lalai ini mungkin terasa kecil, tapi semua hal besar bermula dari hal yang dianggap kecil. Sebenarnya, tidak ada hal yang kecil di dalam kehidupan. Yang ada hanyalah urutan prioritas.

Selain miskin secara ekonomi, miskin dalam hal politik juga berpangkal dari miskinnya rasa dan karsa dalam budaya. Keadaan yang eksis di sebagian masyarakat, dunia politik masih dianggap suatu hal yang tabu dan sebaiknya dijauhi. Sikap beberapa orang dari golongan ini malah berkembang menjadi apatisme, tidak percaya sama sekali pada semua hasil politik. Sementara, sebagian masyarakat lain justru kebablasan dalam berpolitik, mereka terlalu sibuk berpolitik tapi lupa untuk berkarya sesuai kompetensi keahlian yang dia miliki. Dan yang paling parah, ada golongan-golongan masyarakat yang berkonflik karena sebab politik. Jika ditilik, penyebab semua itu adalah buruknya mental masyarakat. Jika budaya saling menghargai, adil, dan optimis mampu ditumbuhkan di masyarakat, niscaya kehidupan politik di lingkungan masyarakat tersebut akan berkembang.

Kurangnya kemampuan masyarakat umum untuk cerdas berpolitik ini, salah satunya dipengaruhi tidak adanya figur pemimpin teladan yang berintegritas dan berkemampuan. Pemerintahan yang saat ini dipegang pemimpin-pemimpin yang belum sepenuhnya mampu memimpin dengan ideal, telah turut memelihara kemiskinan masyarakat umum dalam berpolitik, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Namun, kita juga tidak dapat sepenuhnya menyalahkan masyarakat atau pun pemerintah atas merebaknya budaya buruk ini. Media informasi dalam berbagai bentuknya baik cetak maupun elektronik turut berperan dalam menyuburkan budaya negatif ini. Berbagai acara/muatan media dalam berbagai bentuk, seringkali hanya menjual mimpi, penyakti moral, atau keadaan yang mustahil. Sebagai contoh, kita dapat melihat menjamurnya waria di televisi, atau banyaknya karya sastra dengan tema cinta picisan.

Sayangnya, ternyata masyarakat kita menggemari acara seperti ini. Hal ini disebabkan sampai sejauh ini belum ada counter terhadap media pembodohan seperti ini. Penyebabnya, mungkin adalah karena orang-orang yang concern untuk menumbuhkan sikap budaya positif sepertinya belum menguasai ilmu dan teknologi yang diperlukan untuk membuat media yang dapat menyaingi media yang sudah ada sekarang.

Dapat disimpulkan, untuk memperkaya kehidupan di masyarakat, hal pertama yang perlu diusahakan adalah membentuk budaya positif. Budaya positif ini dapat tumbuh jika dan hanya jika setiap komponen masyarakat memiliki mental yang positif pula. Untuk membangun mental positif ini, diperlukan dua komponen utama, yaitu pemimpin masyarakat yang berintegritas dan berkemampuan serta media massa sebagai alat propaganda dan pembelajaran.

Pemimpin masyarakat ini tidak perlu menduduki jabatan formal struktural dalam pemerintahan, namun dia harus mampu menjadi teladan yang dapat digugu masyarakat. Selain itu, dia juga harus mampu mendidik masyarakat sekitarnya agar mau dan mampu berpikiran terbuka, berwawasan luas, dan bertindak nyata.

Media massa harus mampu menjadi alat pembelajaran yang netral, aktif, arif, kritis, namun tidak provokatif. Selain itu, media massa ini juga sebaiknya harus menarik dan menghibur bagi masyarakat. Media massa dalam bentuk film, lagu, atau novel dapat menjadi media pembelajaran yang ampuh dalam mencerdaskan masyarakat jika digarap dengan sungguh-sungguh.

Dengan diberantasnya kemiskinan budaya, niscaya taraf hidup masyarakat akan meningkat. Pola pikir yang merdeka akan berimbas pada tindakan yang berujung pada karya nyata yang menerangi kehidupan bumi nusantara.

One thought on “Membebaskan Belenggu Pola Pikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s