Kenaikan BBM: Momentum Kebangkitan Nasional

Harga bahan bakar minyak (BBM) untuk jenis premium, solar, dan minyak tanah di Indonesia baru saja mengalami kenaikan. Kenaikan harga BBM ini dikarenakan pemerintah mengurangi subsidi yang biasa diberikan untuk anggaran BBM. Menurut pemerintah, pengurangan subsidi ini disebabkan membumbungnya harga minyak dunia. Pada saat tulisan ini dibuat, harga minyak dunia telah menyentuh nilai $135 per barrel. Kenaikan harga minyak dunia ini membuat anggaran yang harus disediakan negara untuk subsidi BBM ini menjadi sangat berat. Padahal, subsidi yang selama ini diberikan, relatif tidak tepat sasaran. Kebanyakan penerima subsidi ini adalah kaum borju, yang notabene mampu membeli BBM dengan harga non-subsidi. Bayu Krisnamurti, Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Perikanan, bahkan berani mengklaim bahwa jumlah subsidi BBM yang terpakai oleh kaum borju ini mencapai Rp 250-300 triliun (sumber: http://www.inilah.com/berita.php?id=27973).

Sebagai komplemen kenaikan BBM, pemerintah menggulirkan program Bantuan Langsung Tunai (BLT), yaitu bantuan berupa uang tunai sebesar Rp100.000,00/bulan untuk keluarga miskin. Dengan program BLT ini, pemerintah berharap kaum miskin tidak terkena imbas yang berat dari kenaikan harga BBM.

Meski demikian, kenaikan BBM kali ini -yang hanya berselang 4 hari dari peringatan 100 tahun kebangkitan nasional Indonesia- pun diwarnai oleh penolakan dari berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, politisi, hingga masyarakat umum. Demonstrasi dan unjuk rasa menjadi hal yang lumrah dalam kurun akhir-akhir ini. Saya pun berkali-kali mendapat ajakan dari teman-teman sesama mahasiswa untuk turut dalam aksi menolak kenaikan BBM ini (mereka yang mengajak saya menyebut demonstrasi dengan istilah “aksi”).

Dalam demonstrasinya, para penentang kenaikan BBM menyatakan penolakan terhadap kenaikan harga BBM karena kenaikan harga BBM akan menyusahkan kehidupan masyarakat. Kenaikan harga BBM diyakini akan merambat dan menular, menyebabkan harga berbagai kebutuhan naik pula. BLT yang diadakan pemerintah pun dinilai tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagai gantinya, berbagai solusi pun coba diajukan agar harga BBM tidak perlu naik. Diantara solusi-solusi tersebut yang saya ingat adalah: berantas mafia perminyakan, pindahkan pembongkaran minyak dari Singapura ke Indonesia, sita harta koruptor, dan efisiensi pemanfaatan anggaran. Sejujurnya, saya relatif tidak setuju, baik terhadap sikap penolakan ini, maupun dengan solusi yang diajukan.

Saya pikir, harga BBM saat ini memang harus naik. Setahu saya, anggaran yang disusun pemerintah menggunakan asumsi harga minyak dunia maksimum $80 per barrel, atau dalam kondisi terburuk $100 per barrel-nya. Menurut saya yang awam, dengan harga minyak dunia yang sangat jauh diatas angka tersebut pada saat ini, pemerintah memang tidak memiliki pilihan lain selain mengurangi subsidi untuk BBM. Namun, BLT pun jelas bukan merupakan solusi yang tepat untuk mengimbangi kenaikan harga BBM. BLT hanya menumbuhkan mental lemah dan instan. Selain itu, dengan nominal yang hanya Rp100.000,00 per bulan, apa sih yang bisa didapat? Nah, jika harga BBM harus naik tapi BLT harus ditiadakan, apa solusi atas kesusahan yang akan timbul karena kenaikan harga BBM ini? Pertanyaan ini kita simpan dulu, akan saya jawab belakangan setelah pembahasan terhadap solusi dari para penentang.

Solusi dari para penentang kenaikan harga BBM (berantas mafia minyak, sita aset yang hilang karena korupsi, dll) jelas lebih baik daripada solusi yang diajukan pemerintah (BLT). Namun, solusi yang diajukan ini pun menurut saya tidak tepat jika dijadikan prioritas utama solusi untuk mengatasi masalah kenaikan harga BBM ini. Mengapa? Karena solusi-solusi ini amat sulit untuk diwujudkan dalam waktu yang singkat. Memberantas mafia minyak yang telah mengakar bukan hal yang dapat diselesaikan dalam hitungan bulan. Selain itu, solusi-solusi ini pun memiliki kelemahan lain, yaitu terlalu pemerintah-sentris. Semua solusi yang diajukan ini menuntut pemerintah. Lihat saja: memberantas mafia minyak, memindahkan lokasi bongkar minyak, mendapatkan kembali aset yang hilang karena korupsi, semuanya merupakan hal yang hanya bisa dilakukan oleh pemerintah.

Solusi yang lebih tepat dijadikan prioritas utama menurut saya adalah: MENDEMONSTRASI MASYARAKAT, MENUNTUT PERUBAHAN POLA PIKIR DAN GAYA HIDUP!! Perubahan perilaku masyarakat harus diutamakan, karena yang paling merasakan dampak kenaikan harga BBM adalah masyarakat. Sehingga, masyarakatlah yang harus lebih berperan dalam usaha mengatasi dampak kenaikan harga BBM. Ada banyak hal yang harus dituntut dari masyarakat, diantaranya:

1. Masyarakat level ekonomi menengah ke atas HARUS mau menyisihkan sebagian hartanya untuk turut menanggung beban masyarakat kurang mampu di daerahnya. Harta yang disumbangkan sebisa mungkin tidak boleh berbentuk uang, hanya boleh berupa makanan, pakaian, obat-obatan, atau beasiswa. Pemberian uang dikhawatirkan akan menumbuhkan mental konsumtif dan pengemis.

2. Hemat listrik. Energi listrik di Indonesia masih mengandalkan BBM dalam proses pembangkitannya. Mengingat mahalnya energi listrik tersebut, alangkah sayang dan sia-sianya jika masyarakat memboroskan listrik. Contoh sederhana pemborosan listrik yang kadang tidak disadari: menonton acara perusak moral seperti reality show penuh siluman bencong selama 6 jam atau kuis tebak koper; menghidupkan lampu di ruang yang masih terang atau tidak dipakai; dll.

3. Menggunakan kendaraan umum daripada mobil pribadi untuk keperluan sehari-hari. Jika saat ini kualitas moda transportasi umum sangat buruk, jika kendaraan umum menjadi pilihan mayoritas orang, niscaya kualitasnya akan meningkat dengan sendirinya. Kebiasaan penggunaan kendaraan umum juga dapat menekan kebiasaan masyarakat kita yang terkadang hanya menjadikan mobil pribadi sebagai alat untuk menaikkan gengsi. Padahal berlomba-lomba dalam gengsi adalah sesuatu yang sangat bodoh karena dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Selain itu, pengurangan jumlah mobil pribadi juga dapat membuat keasrian lingkungan lebih terjaga.

4. Jangan merokok. Industri rokok memang merupakan industri penyumbang besar ke penghasilan negara. Namun sifat rokok yang menyebabkan kecanduan menjadikan keburukannya lebih besar dibanding manfaatnya. Harga sebungkus rokok saat ini berkisar Rp7.000,00 – Rp9.000,00. Bagi orang yang telah tercandu rokok, dalam sehari rokok yang dihabiskan dapat mencapai 1-2 bungkus. Bayangkan jika orang yang kecanduan adalah orang miskin. Hasil kerja kerasnya seharian bisa habis hanya karena rokok. Selain itu, jangan lupakan pula berbagai penyakit yang dapat ditimbulkan karena kebiasaan merokok.

5. Berperilaku sesuai kemampuan. Orang miskin dan orang biasa jangan bermewah-mewahan, orang kaya dan orang biasa jangan memanfaatkan fasilitas yang diperuntukkan bagi orang miskin. Contoh-contoh: orang miskin jangan suka membeli barang-barang yang sifatnya hanya untuk gaya, seperti handphone dengan harga diatas Rp 1 juta. Orang biasa harus biasa berhemat, misal jangan terlalu sering membeli makan di restoran. Orang kaya jangan menggunakan bensin bersubsidi (Premium), gunakan saja Pertamax.

6. Taat pajak. Dengan segala hutang-hutang yang ditanggungnya, beban pemerintah dalam mengurus negara ini sangat berat. Masyarakat jangan mempersulit keadaan dengan menghindari pajak yang harus dibayarnya.

7. Bersikap kreatif. Kenaikan harga BBM seharusnya bukan disambut dengan keluh kesah dan sumpah serapah, melainkan dengan karya nyata disertai perubahan sikap. Contoh konkrit ditunjukkan oleh Ahmad Radea, seorang pengusaha yang menciptakan tungku alternatif yang dapat memberi penghematan hingga 20 kali lipat.

8. Last but not least, bersikap religius. 4JJ1 tidak akan meninggalkan umat-Nya yang dekat pada-Nya.

8 poin diatas, jika diterapkan, akan membantu pembentukan masyarakat yang tangguh. Masyarakat tangguh akan memicu kebangkitan nasional. Kini, tinggal bagaimana kita menyikapi kenaikan harga BBM kali ini, apakah kita akan menjadikannya momentum untuk melakukan pencerdasan masyarakat, atau akan membuang energi untuk menyuarakan penolakan terhadap perubahan yang tak terhindarkan. Pilihan ada di tangan kita masing-masing untuk berperan mewujudkan kebangkitan nasional Indonesia jilid dua.

Bangkit itu, aku. Untuk Indonesiaku.

4 thoughts on “Kenaikan BBM: Momentum Kebangkitan Nasional

  1. Hmmm… kok gitu ya??? Knapa Indonesia yang notabene penghasil minyak justru kelabakan pas minyak dunia naek? Kuwait, yang produksi minyaknya lebih kecil dari kita, justru bergelimang devisa gara-gara kenaikan harga minyak.

    Soww??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s