Q.S. Al-Ma’idah:5

Setelah sekian lama, akhirnya saya ga tidur sama sekali pas khotbah jum’at. Mungkin karena pas khotbahnya bener-bener lapar dahsyat, jadi meskipun khotbahnya panjang banget dan AC nya dingin, tetep ga tidur juga. Eniwei, isi khotbahnya menarik dan memberi saya pengetahuan baru, jadi saya coba tulis disini isi khotbahnya seinget saya.

Pertama-tama isi khotbah tentunya adalah ajakan takwa kepada Allah SWT. Berikutnya, ini Q.S. Al-Ma’idah:5

Artinya: 5. Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.

Nah, pada khotbah tadi, yang nama khatibnya entah siapa, ada dua hal berkaitan ayat ini yang dibahas, yaitu tentang makanan yang halal dimakan dan orang yang halal dinikahi.

Pertama, makanan yang halal. Jadi, katanya makanan yang halal itu adalah makanan yang baik. Makanan yang baik itu ada 3 syarat:

  1. Disembelih dengan cara yang syar’i (well, sepertinya ini berlaku untuk daging merah-daging merahan saja, mana ada ikan atau sayur disembelih)
  2. Ketika disembelih, diniatkan karena Allah SWT. Sehingga, hewan yang disembelih sekalipun sudah dengan cara yang syar’i tapi niatnya untuk sesajen Nyi Roro Dudul (misalnya) ya tidak boleh
  3. Yang menyembelihnya orang Islam atau orang ahli kitab

Untuk poin 3 ini, kata khotibnya, terjadi perbedaan pendapat tentang halalnya makanan yang disembelih ahli kitab. Hingga saat ini pun terjadi pertentangan dua pendapat besar di kalangan ulama, kelompok yang satu mengatakan sudah tak boleh kita saat ini makan makanan sembelihan orang non-Islam, kelompok yang satu lagi mengatakan masih boleh.

Kelompok yang pertama, di dalamnya termasuk Majelis Ulama Indonesia, mengatakan bahwa kini makanan yang disembelih oleh orang non-Islam itu tidak halal, karena sekalipun ayat 5 surat Al-Ma’idah mengatakan bahwa makanan sembelihan orang ahli kitab itu halal, saat ini sudah tidak ada lagi kaum ahli kitab yang benar. Kaum ahli kitab saat ini sudah tidak sama dengan ajaran yang asli, kitabnya sudah berubah isinya, ajarannya juga, akidahnya, dll. Karena kaum ahli kitab dianggap sudah tidak ada lagi inilah makanya tidak halal lagi makanan sembelihan orang non-Islam.

Kelompok yang kedua, di dalamnya termasuk dr. Yusuf Qardhawi, dr. entah siapa, dan ulama-ulama Islam internasional kontemporer, mengatakan boleh-boleh saja makan makanan sembelihan ahli kitab hingga kini. Karena,  kata kelompok ini, sejak zaman Nabi masih hidup pun kaum Nasrani dan Yahudi sudah melenceng dari ajaran asli, orang Nasrani sudah memulai menuhankan Nabi Isa a.s. sampai-sampai turun ayat tentang “Telah kafir orang yang men-tigakan Tuhan”. Atau mungkin turun ayat tentang “Telah kafir orang yang mengadakan anak Tuhan” ya. Saya juga ga yakin dan lupa (apalagi surat apa ayat apa, sy lebih ga tau lagi), ya pokonya gitu-gitu lah intinya katanya zaman Nabi Muhammad s.a.w. masih hidup pun pelencengan itu telah ada. Tetapi pada saat itu, Nabi Muhammad s.a.w. tetap pernah makan makanan sembelihan orang Nasrani/Yahudi.

Masih menurut kelompok tadi, status seseorang itu dilihat dari kelakuannya. Contohnya, misalnya ada orang ngaku Islam, KTP nya juga Islam, tapi seumur hidup kerjanya zina dan judi, dan ga pernah solat. Ketika mati, orang itu pasti masih dimandikan, dikafani, disolatkan, dan dikuburkan dengan cara Islam. Dia masih dianggap orang Islam. Begitu juga dengan kaum Nasrani dan Yahudi saat ini. Menurut kelompok kedua ini, tak peduli sesesat apa mereka dari ajaran Nasrani dan Yahudi yang dibawa Nabi Isa a.s. dan Nabi Musa a.s., mereka tetap dianggap kaum ahli kitab selama mereka mengaku sebagai Nasrani/Yahudi. Makanya, menurut kelompok kedua ini mah, makanan sembelihan orang Nasrani/Yahudi ya halal-halal saja hingga saat ini.

Bahasan berikutnya adalah tentang pasangan yang halal dinikahi. Jadi, menurut QS Al-Ma’idah ayat 5 diatas, lelaki Islam halal menikahi wanita ahli kitab (walau seperti telah dibahas tadi, ada dua pendapat besar para ulama tentang ahli kitab masa kini). Selama 14 abad, semua fuqaha 4 mazhab besar: Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi sepakat bahwa laki-laki Islam boleh mengawini wanita ahli kitab. Nabi pun pernah mencontohkannya, ada dua istri Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika dinikahi masih belum Islam, satu mantan budaknya, satu lagi dari Mesir -dan yang ini belakangan jadi Ummul Mukminin kata khotibnya- dan sy ga inget nama keduanya sama sekali. Akan tetapi, Umar bin Khattab ketika menjabat khalifah pernah melarang orang Islam menikahi wanita non-Islam. Majelis Ulama Indonesia dan Hukum Negara Indonesia pun tidak mengakui pernikahan beda agama. Mengapa?

Naah, kita akan tinjau satu-satu. Pada masa Umar bin Khattab menjadi khalifah, salah satu (kalau ga salah) panglimanya, Sa’ad bin Abi Waqash menikahi seorang wanita ahli kitab. Hal ini menimbulkan kecemburuan para wanita muslimah, yaitu kenapa para pahlawan Islam yang gagah berani penakluk dunia tidak menikah dengan wanita muslimah saja padahal wanita muslimah ada banyak. Menanggapi hal ini, Umar mengirim surat singkat ke Sa’ad, bunyinya, “Jangan kau simpan suratku ini sebelum kau ceraikan istrimu”. Selanjutnya, kalau saya ga salah inget, ahirnya dibuat peraturan sama Umar ga boleh menikahi wanita non-Islam. Tapi aturannya ini kalau sy ga salah nginget kata khotibnya, berlaku untuk perwira-perwiranya aja.

Terus, kenapa di Indonesia ga boleh? Konon, katanya, karena sejak zaman dahulu, di Indonesia ini pernikahan adalah cara tercepat dan terefektif untuk memurtadkan orang Islam. Karena mudharat ini lah jumhur ulama Indonesia sepakat melarang nikah beda agama.

Lalu sy lupa di bagian mana khotbah, khotibnya juga menyinggung betapa wanita muslimah ga boleh menikah dengan lelaki non-Islam, mau ahli kitab ataupun bukan. Kalau ada wanita muslimah yang nikah dengan lelaki muslimah lalu berhubungan badan, itu diitungnya zina. Kalau nanti punya anak, anaknya ga berhak dapat waris dari bapaknya, dan waktu nikah pun (kalau anaknya perempuan) bapaknya ga bisa jadi wali nikah, karena wali nikah itu harus orang Islam.

Demikianlah khotbah pertama tamat. Khotbah kedua sepenangkapan sy isinya cuma, betapa Yahudi itu dari dulu musuh pisan ke Islam, sedangkan Nasrani begitu dekat dengan Islam, sampai-sampai solat gaib pertama yang dilakukan Nabi Muhammad s.a.w. itu untuk nyolatin raja Habsyah (kalo ga salah namanya begitu) yang beragama Nasrani. Tapi kaum Nasrani selepas masa Nabi Muhammad s.a.w., kata khotibnya, kaum Nasrani salah gaul, sampai jadi ngemusuhin Islam, terjadi perang salib, dll dll sy udah ga konsen nulisnya. Yah kira-kira begitulah. Semoga bermanfaat.

3 thoughts on “Q.S. Al-Ma’idah:5

  1. Wah kuduna urang baca blog maneh basa kebingunan dek dahar naon basa training bung, naha ente teu mere nyaho urang, hahaha…

    Tah jigana kudu nyaho oge bung negara naon wae yang termasuk ke dalam negara ahli kitab… (lamun misal hmlwh ato nilam mau main ke luar negeri)…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s