Sifat Orang Takwa

Ali Imran:133

Ali Imran:133

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Ali-Imran[3] : 133)

Setiap orang apalagi muslim tentu berharap masuk surga dan selamat dari api neraka. Segala amal kebajikan dilakukan dan amal buruk ditinggalkan tidak lain untuk mendapat ridha Allah SWT sehingga pada hari kiamat kelak menjadi penghuni surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang demikian luas itu oleh Allah SWT hanya disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Takwa berasal dari kata bahasa arab yaitu waqa yaqi waqiyatan yang berarti menjaga diri dari segala sesuatu yang membahayakan, takwa juga berarti takut. Menurut istilah, takwa yaitu menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan melaksanakan segala yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT. Orang-orang yang bertakwa disebut muttaqien sebagaimana yang termaktud dalam al-Qur’an surat Al-Imran ayat 133 yang artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” Dalam ayat selanjutnya dijelaskan sifat-sifat orang bertakwa yang harus kita pahami dan akan kita bahas dalam tulisan yang singkat ini, terjemah ayat itu sebagai berikut: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali Imran[3] : 134)

1. Berinfak Saat Lapang Maupun Sempit

Orang yang bertakwa bisa dan mampu menafkahkan hartanya untuk mencari ridha Allah SWT. Mereka konsisten mengeluarkan infak, tidak berubah sikapnya ketika dalam keadaan lapang, dan tidak pula berubah dalam kesempitan. Kelapangan atau mempunyai harta tidak menjadikan mereka sombong lantas lupa daratan dan kesempitan juga tidak menjadikan mereka berkeluh kesah, cepat putus asa lantas lupa akan kewajiban mereka kepada Allah SWT. Karena itu, yang amat disayangkan adalah banyak diantara kita yang hanya menginfakkan harta dalam keadaan lapang dan lupa akan kewajiban berinfak jika dalam keadaan sempit atau tidak memiliki harta. Selain itu, banyak orang yang meremehkan jika yang berinfak mengeluarkan hartanya hanya seribu rupiah misalnya, padahal jumlah itu biasanya untuk membayar WC umum sehingga menurutnya infak untuk masjid tidak pantas disamakan dengan membayar untuk buang air kecil di toilet umum.

Mereka selalu menyadari bahwa semua harta yang dimilikinya dalam keadaan lapang tersebut merupakan suatu amanah dan juga bisa menjadi cobaan, karena segala sesuatu hanyalah milik Allah dan kita hanya mengamalkan serta menginfakkan apa yang telah Allah berikan. Mereka juga selalu menyadari bahwa kewajiban dalam segala keadaan, terbebas dari sifat kikir dan tamak, merasa diawasi oleh Allah dan selalu bertakwa kepada-Nya. Mereka tidak dipengaruhi oleh sifat kikir yang cinta kepada harta. Diantara contoh orang yang sangat cinta kepada hartanya yaitu Qarun yang baginya harta adalah Tuhannya, sifatnya dalam soal ini adalah kikir dan sombong yang membuat Allah SWT murka kepadanya sehingga diamblaskanlah dia dan hartanya ke dalam bumi, karenanya orang yang menemukan harta berupa uang ataupun emas di dalam tanah disebut harta karun. Orang bertakwa menginfakkan hartanya bukanlah karena nafsu yang mendorongnya, melainkan dorongan yang lebih kuat dari keinginan untuk mendapatkan harta dari belenggu ketamakan dan dari tekanan kebakhilan. Dan yang menjadi pendorong dan motivatornya adalah takwa, karena takwa memang harus dibuktikan.

2. Menahan Amarah

Marah adalah perasaan manusiawi yang diiringi dengan naiknya tekanan darah. Marah merupakan salah satu dorongan yang menjadi kelengkapan penciptaan mausia bahkan salah satu kebutuhan manusia itu sendiri. Manusia tidak dapat menundukkan kemarahan ini kecuali dengan perasaan yang halus dan lembut yang bersumber dari pancaran takwa. Mungkin banyak juga diantara kita yang hanya bisa menahan marahnya saja dari gangguan orang lain tapi sulit untuk memaafkan orang tersebut. Menahan marah belumlah cukup memadai karena adakalanya seseorang itu menahan marah tetapi masih dendam dan benci, sehingga berubahlah kemarahan itu menjadi dendam yang terpendam dan tersembunyi dalam hati. Oleh karena itu, berlanjutlah nash ini untuk mengakhiri kemarahan dan kebencian dalam jiwa orang-orang yang bertakwa, yaitu dengan memaafkan, berlapang dada, dan toleransi. Karena marah juga perlu, maka kemarahan itu dilampiaskan dalam bentuk hal-hal yang positif.

Sebagai contoh yaitu Ali bin Abi Thalib, dalam suatu perang dan musuh yang saat itu berhadapan dengan Ali terjatuh dan tak berdaya, ketika akan membunuhnya, justru sang musuh meludahi muka Ali. Tentu saat itu Ali sangatlah marah sebagai manusia biasa yang mempunyai rasa marah, akan tetapi Ali dapat menahan amarahnya dengan menahan pedang yang  hendak disarangkannya ke badan musuhnya dan musuh tersebut terheran-heran dan bertanya mengapa Ali tidak membunuhnya, lalu Ali menjawab membunuh kamu bisa kapan saja bisa besok atau lusa tetapi jika aku membunuhmu dalam keadaan marah seperti sekarang karena engkau meludahi saya, bukan karena Allah, tentu aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Begitulah para sahabat yang lain yang bisa menahan amarahnya.

3. Memaafkan Orang Lain

Selain menahan amarah orang bertakwa juga harus mempunyai sifat dapat memaafkan orang lain. Ketika ada seseorang menyakiti kita, tentu tidak mudah bagi kita untuk memaafkannya. Namun, Islam mengajak umatnya agar mau memaafkan kesalahan orang lain, dan menjanjika keutamaan di dunia maupun akhirat. Rasulullaah SAW bersabda, “Orang yang ingin ditinggikan bangunannya di sruga dan diangkat derajat dirinya, maka maafkanlah orang yang telah menzhaliminya, memberi kepada orang yang tidak memberinya, dan menyambung tali silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.” (H.R. Al-Hakim)

Memaafkan kesalahan orang lain menjadi amat penting karena kita pun ada saatnya bersalah kepada mereka, ketika kita bersalah, maka yang kita harapkan adalah memperoleh maaf darinya. Bila kita berharap maaf dari orang lain, mengapa kita tidak mau memaafkan kesalahan orang lain?

4. Ingat Allah dan Taubat

Sifat orang bertakwa yang dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan ampunan dan surga adalah orang yang ketika melakukan perbuatan keji atau melakukan maksiat, dia segera mengingat Allah dan bertaubat meminta ampunan. Bertaubat kepada Allah dilakukan dengan membaca istighfar, menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Dengan melaksanakan keempat amalan ini, semoga kita semua diampuni Allah dan kelak mendapatkan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai dan kekal untuk selamanya. Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang mukmin yang paling tinggi martabatnya. Akan tetapi, toleransi Islam dan rahmatnya bagi manusia termasuk juga ke dalam kalangan orang-orang yang bertakwa, “yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka“. (Q.S. Ali-Imran[3] : 135)

Fahisyah atau perbuatan keji adalah perbuatan dosa yang sangat buruk dan besar, akan tetapi toleransi Islam tidak mengusir orang-orang yang terjatuh ke dalamnya, karena rahmat Allah, dan tidak menjadikan mereka berada di garis belakang kafilah mukminin. Mereka masih diangkat ke martabat yang sangat tinggi, yakni martabat muttaqien atau orang-orang yang bertakwa dengan syarat ingat kepada Allah, lalu meminta ampun atas dosa-dosanya, dan tidak meneruskan tindakannya itu sementara mereka menyadai bahwa tindakannya itu adalah perbuatan dosa,serta tidak bergelimang dengan maksiat tanpa beban dan tanpa rasa malu.

Di ayat selanjutnya dalam surat Al-Imran ayat 136 Allah SWT menjanjikan surga bagi orang-orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman: “Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S. Ali-Imran[3] : 136)

Demikian empat sifat orang yang bertakwa, semoga bisa dijadikan pelajaran serta bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita semua mendapatkan derajat muttaqien yang dijanjikan oleh Allah surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Wallahua’lam.

* Tulisan ini aslinya adalah buatan Hadi Fawwaz, Mahasiswa Fak. Dirasah Islamiyah Universitas Islam Negeri Ciputat dan dimuat di buletin Jum’at KHAIRU UMMAH Edisi 3 – Tahun XX – Muharram 1432 H – Desember 2010 M

** Sebetulnya tadinya mau saya edit tata bahasanya di beberapa bagian karena menurut saya kalimatnya berantakan di beberapa bagian tersebut, tapi ga sempet, akhirnya artikel ini bener-bener saya ketik ulang ngikutin aslinya. Semoga bermanfaat.

2 thoughts on “Sifat Orang Takwa

    • saya tulis di bagian awal tulisan: Takwa berasal dari kata bahasa arab yaitu waqa – yaqi – waqiyatan yang berarti menjaga diri dari segala sesuatu yang membahayakan, takwa juga berarti takut. Menurut istilah, takwa yaitu menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan melaksanakan segala yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s