Ketua Umum PSSI: Jangan Sampai Mengulang Kesalahan

Kisruh organisasi PSSI tampaknya akan segera memasuki babak akhir. Sampai dengan saat ini, berbagai kisruh dan polemik telah terlewati; mulai dari penyelenggaraan Liga Primer Indonesia yang profesional, demo suporter setiap hari menuntut Nurdin Halid turun, penolakan atas Nurdin Halid pada pertandingan tim nasional, penyegelan kantor PSSI oleh massa, perang statement antara Nurdin Halid dan Menpora, pencabutan dukungan pemerintah terhadap organisasi PSSI, penyelenggaraan Kongres PSSI yang kacau balau, keputusan FIFA yang melarang pencalonan kembali Nurdin Halid untuk menjadi ketua PSSI dan membentuk Komite Normalisasi (KN) untuk menyelematkan PSSI, hingga berita terbaru pada saat posting ini dibuat adalah pengunduran Nugraha Besoes dari jabatan Sekjen PSSI yang telah dipegangnya selama bertahun-tahun.

Sekarang, KN sedang bekerja keras menampung semua saran dan aspirasi stakeholder sepakbola Indonesia untuk memilih Ketua PSSI baru yang kredibel dan membentuk manajemen PSSI yang profesional. Hal yang menarik, dan sekaligus menyedihkan bagi saya pribadi, dalam perkembangan terkini adalah, mendadak ada banyak sekali orang yang mau menjadi Ketua Umum PSSI. Bagai cendawan di musim hujan, setiap hari saya membaca berita ada saja orang yang mendadak mengatakan siap/mau menjadi ketua umum PSSI:

  • Sutiyoso
  • EE Mangindaan
  • Jusuf Rizal
  • Diza Ali Rasyid
  • Adhan Dambea
  • Manase Robert Kambu

Oke, mungkin saja nama-nama di atas terbukti memiliki track record yang bagus dalam mengelola sepakbola (well, sebetulnya sebagian besar dari nama-nama di atas saya tidak tahu prestasinya apa). Mungkin juga nama-nama di atas memang memiliki ide dan gagasan serta kemampuan mewujudkan ide-idenya untuk sepakbola Indonesia yang lebih baik. Tapi, pertanyaan saya adalah, kemana saja mereka kemarin-kemarin? Ketika Arifin Panigoro dengan luar biasa membuat kontribusi nyata membuat Liga Medco untuk pembinaan usia muda dan LPI untuk klub-klub yang mau dan mampu profesional, ketika George Toisutta maju dengan gagah menantang sang diktator Nurdin Halid dan menyikapi serangan-serangan yang ditujukan padanya dengan (menurut saya) bijaksana, dimana suara dan keberanian mereka yang sekarang tiba-tiba mau menjadi Ketua PSSI ini dalam menentang rezim Nurdin Halid? Kenapa baru sekarang, setelah Nurdin Halid tidak punya harapan untuk kembali menjadi Ketua PSSI, nama-nama ini nyaring terdengar?

Jujur saja, saya meragukan motivasi dan itikad para pahlawan kesiangan ini. Mereka bisa berkoar dan membuat seribu alasan pembenaran keterlambatan mereka berdiri untuk maju, tapi bagi saya kapasitas mereka tetap meragukan. Menurut saya, PSSI kali ini butuh figur ketua yang benar-benar tulus beritikad baik ingin memajukan sepakbola bangsa, dan memiliki keberanian mendobrak segala kemapanan yang bobrok dan kebobrokan yang mapan yang menggerogoti dunia sepakbola nasional; dan saya benar-benar tidak yakin mereka – yang baru serius membuat statement mau menjadi Ketua PSSI setelah Nurdin Halid benar-benar tidak berpeluang kembali menjabat – adalah jawaban yang dibutuhkan dunia sepakbola nasional. Mudah-mudahan bangsa Indonesia tidak mengulang kesalahan dalam memilih Ketua PSSI kali ini. Jayalah selalu bangsa dan sepakbola Indonesia!

* rizasaputra – insya Allah bobotoh Persib anti anarki sampai mati *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s