Kultwit? Go Blog!

Sejak semakin merebaknya pengguna Twitter di Indonesia, muncul satu fenomena yang disebut kultwit. Atau mungkin sebagian orang nulisnya kultweet. Apa itu kultwit? Kultwit adalah kuliah twitter, yaitu sederetan tweet yang beruntun membahas 1 topik tertentu. Biasanya, untuk menandakan bahwa suatu tweet masih merupakan bagian dari suatu kultwit, sang tweeter akan menandai tweetnya dengan hashtag/tagar (simbol #), walaupun ada juga yang tidak menggunakan hashtag. Selain itu, tweet pada kultwit biasanya diberi nomor untuk menandakan urutan baca tweet. Kalau tweet tidak dibaca pada urutan yang tepat, kemungkinan besar hasil bacanya akan menjadi berantakan.

Banyak orang memilih menggunakan metode kultwit ini ketika mereka ingin menyampaikan informasi/opini mereka. Jika Anda termasuk orang yang sering melakukan kultwit, for God’s sake, tolong berhenti sekarang dan beralih ke media lain seperti blog. Kenapa? Berikut 7 alasan kenapa saya tidak suka kultwit:

  1.  Twitter adalah situs mikroblogging. Setiap tulisan di twitter dinamakan tweet, artinya kicauan. Dan yang namanya kicauan, bunyinya pendek dan menarik. Artinya, seharusnya twitter digunakan untuk menulis tulisan yang pendek dan menarik perhatian. Bukan panjang dan beruntun tanpa henti.
  2. Pada saat membaca kultwit di timeline, tweet dari kultwit akan bercampur dengan tweet dari orang lain. Hal ini akan membuat kita tidak fokus membaca kultwit nya (jika kita memang ingin menyimak kultwitnya), atau sebaliknya justru menenggelamkan tweet lain yang lebih relevan dengan perhatian kita.
  3. Pada saat membaca kultwit di timeline, urutan baca kita harus dari bawah ke atas, karena twit yang lebih awal akan berada di bagian bawah timeline. Cara baca dari bawah ke atas ini tidak natural dan kurang nyaman menurut sy mah.
  4. Bisa saja pelaku kultwit di-mute atau di-unfollow jika memang terasa sangat mengganggu, tapi kadang pelaku kultwit adalah seseorang yang kita cukup peduli dengan tweet-tweet casualnya, misalnya sahabat. Sungguh merepotkan kalau harus bolak-balik mute-unmute, follow-unfollow orang hanya karena masalah kultwit.
  5. Kultwit mengurangi kemampuan menulis tulisan utuh yang lengkap. Pada kultwit, setiap tweet merupakan kalimat tersendiri. Pelaku kultwit tidak perlu memikirkan bagaimana caranya membuat tulisan yang koheren, yang sambungan antar kalimat dan sambungan antar paragrafnya runut dan enak dibaca.
  6. Kultwit mengurangi kemampuan membuat tagline. Jika kita ingin tulisan kita dibaca banyak orang, idealnya kita bisa membuat judul atau menentukan cuplikan tulisan yang bisa menarik perhatian orang-orang. Pada kultwit, orang akan membaca tulisan kita bukan karena kita mampu membuat frasa penarik perhatian, melainkan karena terpaksa terbaca karena tulisan kita memenuhi timeline orang tersebut dengan paksa.
  7. Banyak kultwit ujung-ujungnya dirangkum lagi menggunakan layanan seperti chirpstory. Jika memang ujung-ujungnya orang tulisannya dirangkum dalam satu tempat, kenapa tidak dari awal saja menulisnya di blog, lalu tweet judul/bagian menarik dari tulisan kita dan sertakan URL ke tulisan di blog kita?

Dan ngomong-ngomong blog, menulis di blog (kadang) lebih asyik daripada mentweet. Di blog, kita bisa mengkategorikan postingan blog kita menjadi berbagai kategori, memberi tag suatu tulisan sebanyak-banyaknya, menyisipkan gambar, video, mengatur tampilan huruf, dll. Selain itu, tulisan di blog juga bisa dengan mudah kita share kemana-mana. Blog juga sebenarnya sudah menyediakan fasilitas follow seperti Twitter yang akan memberi kita notifikasi jika blogger yang kita follow membuat post baru. Tak lupa, blog juga memberi fasilitas comment, yang dapat menjadi tempat interaksi dan diskusi pembaca tulisan kita. Interaksi di bagian comment lebih hidup dibanding balas-berbalas reply/mention di twitter, karena di satu tempat yang sama siapa saja dapat membaca dan ikut menimpali comments yang ada.

Jadi, jika Anda termasuk orang yang suka membuat kultwit, mohon pertimbangkan untuk beralih dari kebiasaan tersebut dan menulislah di blog Anda sendiri. Membuat dan mengelola blog di WordPress sangat mudah kok. Akhirnya, mohon maap jika ada salah-slaah kata di postingan ini, let’s leave goblog habit and go blog instead!

7 thoughts on “Kultwit? Go Blog!

  1. Ping-balik: Seputar penggunaan kultwit | Soenting Melajoe

  2. sepertinya itu tergantung pada orang nya deh. saya sebagai penikmat kultwit justru merasa terbantu dengan topik2 yg di bicarakan. karena saya tidak harus membaca bacaan panjang, dan ide2 yg di potong spt di kultwit itu malah bisa menempel dngn lekat di otak saya. well, balik lagi ke pribadi masing-masing sih ya~~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s