Bekerjalah 40 Jam Saja Seminggu!

Baru-baru ini saya menemukan artikel menarik tentang kondisi pekerjaan di Amerika, yang mana saya rasa paparan dalam artikelnya relevan untuk dikaitkan dengan kondisi pekerjaan di Indonesia. Artikelnya secara umum menyerang keadaan dimana seseorang harus bekerja lebih dari 40 jam seminggu (8 jam sehari selama 5 hari kerja). Untuk yang tertarik membaca versi aslinya dalam Bahasa Inggris, silakan kunjungi http://www.salon.com/2012/03/14/bring_back_the_40_hour_work_week/. Terjemahan bebas saya terhadap artikelnya sebagai berikut.

Penelitian selama 150 tahun membuktikan bahwa jam kerja yang panjang merugikan bagi keuntungan perusahaan, produktivitas, dan karyawan.

Jika Anda cukup beruntung untuk memiliki pekerjaan saat ini, Anda mungkin melakukan apa saja untuk memastikan Anda tetap memiliki pekerjaan. Jika bos meminta Anda untuk bekerja 50 jam seminggu, Anda bekerja 55 jam. Jika bos meminta Anda bekerja 60 jam, Anda mengorbankan waktu malam dan hari Sabtu, dan bekerja 65 jam.

Kemungkinan besar, Anda telah menjalani kehidupan seperti ini selama berbulan-bulan – kalau bukan bertahun-tahun – dan mungkin disertai dengan harga yang harus dibayar berupa waktu bersama keluarga, jadwal olahraga, program diet, tingkat stress, dan kewarasan Anda. Anda terbakar, lelah, sakit-sakitan, dan benar-benar terlupakan oleh pasangan, anak, dan peliharaan Anda. Tapi Anda terus memaksakan gaya hidup ini, karena semua orang tahu bahwa bekerja gila-gilaan adalah cara untuk membuktikan bahwa Anda seorang yang “passionate” dan “produktif” dan “team player” – jenis orang yang mungkin memiliki kesempatan untuk selamat dari gelombang PHK berikutnya.

Seperti inilah kehidupan pekerjaan saat ini. Keadaan ini telah berlangsung sangat lama sampai-sampai sebagian besar orang Amerika tidak menyadari bahwa selama sebagian besar abad 20, konsensus umum pada pemimpin bisnis di Amerika adalah bahwa mempekerjakan orang lebih dari 40 jam seminggu adalah bodoh, sia-sia, berbahaya, dan mahal – dan merupakan tanda bahaya paling nyata bahwa manajemen yang inkompeten sedang berkuasa.

Meski saat ini terdengar bagaikan dusta (semoga beruntung meyakinkan bos Anda mengenai apa yang akan saya tulis), setiap jam yang Anda gunakan untuk bekerja setelah melewati batas 40 jam kerja seminggu membuat Anda menjadi kurang efektif dan kurang produktif baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dan meski terdengar aneh, tapi hal ini benar: satu-satunya cara termudah dan tercepat agar perusahaan Anda bisa meningkatkan output dan keuntungan – mulai hari ini, sekarang – adalah dengan membebaskan setiap orang dari 55 jam kerja seminggu yang membosankan, dan kembali ke patokan dasar 40 jam kerja seminggu.

Ya, hal ini menentang semua hal yang manajemen modern pikir ketahui tentang bekerja. Jadi, kita harus lebih memahami. Bagaimana awalnya ada patokan 40 jam kerja seminggu? Bagaimana kisahnya hingga patokan ini hilang? Apakah ada alasan bisnis mendasar yang menunjukkan bahwa patokan ini seharusnya dikembalikan?

Awal Mula 40 Jam Kerja Seminggu

Hal paling penting untuk diketahui tentang 40 jam kerja seminggu adalah, meski hal ini berawal dari tuntutan Serikat Pekerja, para pemimpin bisnis mutlak mengikuti tuntutan ini karena data mereka sendiri meyakinkan mereka bahwa ini adalah keputusan bisnis yang solid, praktis, dan kuat.

Serikat Pekerja mulai memperjuangkan minggu dengan jam kerja lebih pendek di Inggris dan Amerika pada awal abad 19. Pada akhir abad 19, jumlah industri yang mengadopsi jam kerja pendek sebagai norma standar terus meningkat. Dan suatu hal yang aneh terjadi: secara terus-menerus – pada berbagai bidang industri di banyak negara bagian – para pemilik bisnis menemukan bahwa ketika mereka menyerah pada tuntutan Serikat Pekerja dan memotong jam kerja, bisnis mereka menjadi lebih produktif dan menguntungkan secara signifikan. Tom Walker dari Work Less Institute menuliskannya dalam Prosperity Covenant:

Kenyataan bahwa output tidak berbanding lurus dengan jumlah jam kerja adalah pelajaran yang tampaknya harus selalu dipelajari ulang pada tiap generasi. Pada 1848, parlemen Inggris meloloskan hukum 10 jam kerja sehari dan total output harian per pekerja meningkat. Pada tahun 1890an para pemilik bisnis secara luas menguji coba 8 jam kerja sehari dan kembali menemukan peningkatan total output harian per pekerja. Pada dekade pertama abad 20, Frederick W. Taylor, pencipta “Scientific Management” meresepkan pengurangan waktu kerja dan memperoleh peningkatan yang luar biasa pada output per pekerja.

Pada 1914, disemangati oleh hasil penelitian internal selama lusinan tahun, Henry Ford melakukan langkah radikal yang sangat terkenal yakni menggandakan bayaran pekerjanya dan memotong waktu shift di pabrik Ford dari sembilan menjadi delapan jam. Asosiasi Pabrikan Nasional (National Manufacturer Association) mengkritik Ford dengan sengit terkait langkah ini – namun banyak kompetitor Ford yang mengikuti langkah ini pada tahun-tahun berikutnya ketika mereka melihat langkah ini sukses besar memboomingkan bisnis Ford. Pada 1937, 40 jam kerja seminggu ditetapkan secara luas di seluruh penjuru negeri sebagai kesepakatan baru. Pada titik ini, penelitian industrial yang solid selama lima dekade telah membuktikan bahwa, tanpa keraguan, jika Anda ingin menjaga para pekerja cerdas, sehat, produktif, aman, dan efisien pada bentangan waktu yang berkelanjutan, Anda harus membatasi jam kerja tidak lebih dari 40 jam seminggu dan 8 jam sehari.

Evan Robinson, seorang software engineer dengan ketertarikan yang panjang pada produktivitas programmer merangkum sejarah ini dalam sebuah makalah yang ia tulis untuk Asosiasi Pengembang Game Internasional (International Game Developer Association) pada 2005. Makalah aslinya mengandung banyak tautan ke berbagai kajian yang dilakukan perusahaan, universitas, asosiasi industri, dan militer yang mendukung kebijakan para pimpinan bisnis awal abad 20 dalam mendorong minggu pendek (minggu dengan jam kerja pendek / 40 jam). “Sepanjang tahun 30an – 50an, kajian-kajian ini dibuat oleh ratusan pihak”, tulis Robinson; “Dan pada tahun 60an, keuntungan 40 jam kerja seminggu diterima nyaris tanpa pertanyaan di perusahaan seantero Amerika. Pada tahun 1962, kementrian perdagangan (Chamber of Commerce) bahkan mempublikasikan pamflet yang memuji-muji peningkatan produktivitas sebagai akibat pengurangan jam kerja.”

Kajian-kajian ini menunjukkan, secara berulang-ulang, bahwa pekerja industri hanya memiliki delapan jam kerja yang bagus dan dapat diandalkan. Secara rata-rata, tidak ada hasil lebih yang didapat dengan bekerja 10 jam sehari dibanding bekerja 8 jam sehari. Begitu pula, output mingguan keseluruhan akan sama persis antara akhir hari keenam dan akhir hari kelima. Sehingga, membayar para pekerja untuk terus bekerja setelah melewati batas mingguan 40 jam pada dasarnya tidak lebih dari sebuah cara yang bodoh dan kasar untuk membakar keuntungan. Biarkan para pekerja pulang, beristirahat, dan kembali hari Senin. Hal ini lebih baik bagi semua orang.

Seiring perjalanan waktu, Serikat Pekerja menjadikan kompensasi cacat dan keamanan tempat kerja menjadi isu yang terus membesar, yang mana lebih jauh lagi menopang kebijaksanaan minggu pendek. Segunung data yang terus meningkat menunjukan bahwa malapetaka kerja – jenis kecelakaan yang menimbulkan cacat pada pekerja, merusak peralatan vital, menutup bisnis, membuka perusahaan ke tuntutan hukum, dan mengecewakan pemegang saham – jauh lebih mungkin terjadi ketika pekerja bekerja berlebihan dan terlalu lelah.

Sebuah norma pun tersegel: untuk sebagian besar bisnis, resiko SDM, modal, hukum, dan finansial sebagai akibat jam kerja lebih dari 40 jam seminggu tidak layak untuk diambil. Saat perang dunia 2, konsensus ini sangat jelas dan tersebar luas: bahkan (atau terutama!) di bawah tekanan ekstrim saat perang, mempekerjakan karyawan secara berlebihan adalah kontraproduktif dan berbahaya, dan seharusnya tidak ada tempat kerja yang bonafide yang mencoba mendorong orang-orangnya melebihi batas 40 jam.

Pengecualian Kerja Lebih / Lembur

Ada satu pengecualian pada aturan 40 jam kerja seminggu ini. Penelitian oleh Business Roundtable pada tahun 1980an menemukan bahwa Anda bisa mendapat peningkatan jangka pendek dengan bekerja 60 – 70 jam dalam kurun waktu yang singkat – misalnya, bekerja ekstra keras selama beberapa minggu untuk memenuhi deadline produksi yang kritis. Akan tetapi, ada banyak kerugian serius terkait hal ini yang sebelumnya umum diketahui, namun sekarang sebagian besarnya telah terlupakan.

Salah satunya adalah peningkatan jam kerja di kantor selama 50% (dari 40 jam menjadi 60 jam) tidak serta merta menghasilkan peningkatan output 50% (sama dengan hasil penelitian Henry Ford). Sebagian besar manajer modern berasumsi akan terjadi korelasi langsung satu-satu antara jam kerja ekstra dan output ekstra, tapi mereka hampir selalu salah mengenai ini. Faktanya, biasanya peningkatan output yang diperoleh hanya sekitar 25-30% dengan peningkatan jam kerja 50%.

Ini alasannya. Pada akhir jam kedelapan, kinerja terbaik seseorang biasanya telah terlewati (umumnya seseorang mencapai kinerja terbaiknya antara jam kedua hingga jam keenam). Pada jam kesembilan, seiring munculnya kelelahan, pekerja hanya dapat memberikan sebagian dari kemampuan normalnya. Dan seiring penambahan jam kerja setelahnya, tingkat produktivitas pekerja terus menurun, dimana umumnya antara jam kesepuluh dan jam keduabelas pekerja mencapai titik lelah total yang tak bisa dipaksakan lagi.

Alasan lainnya adalah peningkatan jam kerja hanya efektif pada jangka waktu yang sangat pendek. Hal ini disebabkan (sebagaimana ditunjukkan Sidney Chapman pada 1909) produktivitas harian akan menurun mulai minggu kedua, dan menurun secara drastis di minggu-minggu berikutnya seiring kejenuhan yang mulai melanda. Tanpa tidur, rekreasi, nutrisi dan waktu istirahat yang cukup, pekerja menjadi tumpul dan bodoh. Mereka kesulitan fokus. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu membalas email dan melamun dibanding mengerjakan tugas. Mereka membuat kesalahan yang mereka takkan pernah buat jika mereka istirahat cukup; dan memperbaiki kesalahan menghabiskan waktu yang bahkan lebih lama lagi karena mereka sudah “gosong”. Robinson menulis bahwa ia sering melihat tim pembuat software yang bekerja berlebihan sering turun ke mode progress-negative, dimana mereka malah membuat kemunduran setiap minggu karena mental mereka sangat lelah sehingga mereka membuat lebih banyak error dibanding yang dapat mereka perbaiki.

Kajian oleh Business Roundtable menunjukkan bahwa setelah delapan minggu bekerja 60 jam seminggu, penurunan produktivitas sangat nyata hingga rata-rata tim akan mencapai hasil yang sama dan bahkan lebih baik jika mereka tetap bekerja 40 jam seminggu. Dan pada 70-80 jam kerja seminggu, penurunan produktivtas terjadi bahkan lebih cepat lagi: total output hasil bekerja 80 jam seminggu menjadi sama saja dengan total output hasil bekerja 40 jam seminggu setelah tiga minggu beruntun bekerja 80 jam seminggu.

Dan akhirnya: pawai kematian ini memakan korban berupa produktivitas jangka panjang pula. Ketika krisis deadline telah terlewati dan tim yang bekerja 60 jam seminggu kembali ke jadwal reguler 40 jam seminggu, dibutuhkan beberapa minggu sebelum kejenuhan mulai terangkat dari tim hingga tim tersebut dapat kembali ke tingkat produktivitas normal. Untuk sementara waktu, tim ini akan menghasilkan output yang lebih rendah dari biasanya secara signifikan meski jam kerjanya telah dikembalikan ke 40 jam seminggu.

Manajer yang bijaksana dan memahami ini akan a) menghindari situasi genting yang mengharuskan bekerja berlebihan karena mereka sadar dampak buruk jangka panjang yang mengikuti dan tak terhindarkan; b) membatasi suasana genting sesingkat mungkin ketika benar-benar diperlukan; c) memberi tambahan beberapa hari libur – 1-2 hari libur per minggu kerja lebih – pada akhir kerja sprint yang melelahkan. Tambahan hari libur ini memberi kesempatan pekerja yang bekerja lebih untuk pulih dengan lebih cepat dan komplit. Jauh lebih produktif membiarkan para pekerja yang bekerja lebih untuk berlibur selama seminggu – dan lalu kembali ke kantor, cukup istirahat, dan siap untuk bekerja – dibandingkan memaksakan mereka datang ke tempat kerja tapi terlalu jenuh untuk melakukan apa pun yang berguna selama sebulan berikutnya.

Sebagai ringkasan: menambah jam kerja harian tidak berkorelasi satu-satu dengan produktivitas. Bekerja melebih batas waktu tidak memberi peningkatan yang berkelanjutan dan hanya efektif pada jangka waktu yang sangat pendek. Dan banyak bekerja melebih batas waktu mendatangkan kejenuhan jauh lebih cepat, lebih akut, dan membutuhkan jauh lebih banyak hal untuk mengatasinya dibanding bayangan sebagian besar bos atau pekerja. Penelitian membuktikan bahwa bekerja berlebihan lebih dari beberapa minggu menghasilkan lebih banyak keburukan dibanding manfaat.

Pekerja Kantoran

Setelah perang dunia 2, seiring meningkatnya pekerja kantoran / pekerja kerah putih (pekerja yang lebih banyak membutuhkan kemampuan berpikir), pemilik bisnis mulanya mengasumsikan bahwa batas 40 jam yang berlaku pada buruh / pekerja kerah biru (pekerja yang lebih banyak membutuhkan kemampuan fisik) tidak berlaku pada pekerja kantoran. Mereka tahu bahwa delapan jam sehari merupakan batas bagi seorang pekerja yang mengayunkan palu atau sekop; tapi orang-orang berkemeja flanel itu hanya duduk di depan meja. Mereka berpikir, “Kami membayar lebih untuk orang-orang yang hanya duduk di meja ini, bukankah seharusnya kami bisa meminta lebih dari mereka?”

Jawaban singkatnya adalah: tidak. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa pekerja kantoran malah memiliki batas waktu kerja harian yang lebih sedikit dibanding buruh manual – rata-rata hanya sekitar enam jam alih-alih delapan jam. Ini mungkin terdengar aneh, tapi jika Anda adalah seorang pekerja kantoran, kebenaran hal ini mungkin tampak lebih jelas jika Anda berpikir hari kerja biasa Anda. Kemungkinan besar Anda menghasilkan 5-6 jam pekerjaan mental yang produktif, dan menghabiskan 2-3 jam dalam meeting, membalas email, menelepon, dst. Anda bisa saja diam di kantor lebih lama jika bos meminta, tapi setelah enam jam, semua yang tersisa hanyalah pantat di atas kursi. Otak dan pikiran Anda telah pulang ke rumah.

Hal lain tentang pekerja kantoran adalah mereka sangat sensitif terhadap kurangnya tidur, bahkan yang minor sekalipun. Penelitian oleh militer Amerika menunjukkan bahwa kehilangan 1 jam jam tidur setiap malam selama seminggu akan menyebabkan penurunan tingkat kognitif hingga ke tingkat yang sama dengan yang disebabkan tingkat alkohol dalam darah 0.10 (sekitar 3-4 botol bir / gelas wine untuk orang dengan berat 70 kg). Yang lebih buruk: beda dengan orang mabuk, sebagian besar pekerja kantoran yang kurant tidur ini tidak menyadari betapa buruknya kondisi mereka. Keburukan ini hanya tampak dari kualitas output kerja yang jauh lebih rendah. Robinson menulis, “Jika ada pekerja datang ke kantor mabuk, kita akan memecatnya – kita akan menganggapnya sebagai tindakan yang wajar terkait resiko yang muncul terhadap perusahaan, data, modal, kita, dan pekerja mabuk itu sendiri. Akan tetapi, kita tidak berpikir dua kali untuk tetap mempekerjakan pekerja yang kurang tidur dengan tingkat kognitif yang sama dengan pekerja mabuk.”

Dan potensi bencana akibat pekerja kantoran sama tingginya dengan akibat buruh manual. Robinson mengutip investasi tindak lanjut terkait bencana Exxon Valdez dan ledakan pesawat ulang alik Challenger. Kedua investigasi tersebut menemukan bahwa pembuat keputusan yang bekerja berlebihan dan terlalu lelah memainkan peran yang signifikan dalam membawa kedua bencana tersebut. Selain itu, juga terdapat banyak penelitian yang meneliti kesalahan yang membahayakan nyawa yang dibuat oleh petugas medis yang kelelahan, dan penelitian oleh militer Amerika mengenai efek katastropis berupa kesulitan membedakan target antara kawan dan lawan pada serdadu pemegang senjata yang kelelahan. (Sedikit lelucon dalam catatan Robinson: “Untung saja pekerja kantoran jarang harus mengkhawatirkan salah tembak.”)

“Passion”, Runtuhnya Perserikatan, dan Akhir Dari 40 Jam Kerja

Bagaimana bisa pengetahuan mengenai jam kerja ini, yang tertanam secara dalam pada tiga generasi manajemen bisnis Amerika, tampak begitu lenyap saat ini? Mungkin ada beberapa jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut, tapi ada tiga faktor yang menonjol.

Yang pertama adalah kemunculan Silicon Valley sebagai kelompok ekonomi besar pada akhir 1970an. Sejak perang dunia 2, Silicon Valley telah menarik perhatian jenis pekerja yang unik – ilmuwan dan ahli teknologi yang memiliki passion tunggal terhadap penelitian dan inovasi. Meski Asperger Syndrome tidak dinamai dan diidentifikasi hingga tahun 1994, pada 1950an, industri pertahanan di Santa Clara Valley California telah menarik pemuda-pemudi brilian dengan profil seperti pribadi Asperger: tulus, canggung secara sosial, tidak emosional, dan diberkahi (atau dikutuk) dengan fokus yang tunggal, unik, tajam pada area khusus yang menarik perhatiannya. Bagi orang-orang ini, bekerja bukan hanya bekerja; bekerja adalah passion dalam hidup, dan mereka mengabdikan setiap jam mereka terjaga untuk bekerja, biasanya bahkan hingga mengesampingkan hubungan sosial di luar pekerjaan, olahraga, makan, tidur, dan perawatan diri. Stereotype populer orang-orang geek dilahirkan dari beberapa kebenaran mengenai profil khusus orang-orang yang tertarik pada teknologi di tahun-tahun awal.

Kultur yang berkembang di Silicon Valley pada beberapa dekade berikutnya merefleksikan dan meninggikan nilai kepribadian ganjil yang pada akhir 50an disebut “Kepribadian Sci-Tech” oleh psikolog perusahaan Lockheed. Perusahaan-perusahaan memperlebar jam kerjanya, sehingga programmer yang datang di siang hari dan bekerja hingga tengah malam dapat membuat jadwal kerjanya sendiri. Dress code diperlonggar, eksentrisitas seseorang dipuji. HP terkenal membawakan sarapan setiap pagi sehingga engineer-engineernya tidak lupa makan. Supermarket 24 jam lokal menjual microchip disamping snack kentang, sehingga pekerja yang bekerja di garasi dapat mampir jam 2 pagi untuk membeli makanan sekaligus onderdil.

Kemudian, pada awal 80an, Tom Peters datang dan mempromosikan etos kerja Silicon Valley ke seluruh penjuru negeri sebagai “keunggulan” (excellence). Ia mendewakan raksasa teknologi seperti HP dan Apple untuk “passion” pekerjanya, dan mengatakan bahwa pengusaha industri lama dapat masuk ke era baru dengan mencari dan menghargai passion yang setingkat pada para pekerjanya. Meskipun Peters tidak menyarankan secara terang-terangan, dapat dimengerti secara implisit bahwa menurut Peters, bagi orang-orang yang “bergairah” (passionate), kerja 40 jam seminggu ketinggalan zaman dan membosankan. Di era baru tempat kerja, orang akan menemukan kebahagiaan dan makna termutlak pada kesenangan yang tak tertandingi: bekerja. Orang tidak akan mau berada di tempat selain tempat kerja.

Ada dua masalah dengan pendapat ini. Pertama adalah, paham “passion” ini tidak mengakui bahwa sebagian sangat besar orang memiliki kebutuhan fisik, emosional, dan psikologis – hal-hal seperti tidur, olahraga, relaksasi, dan hubungan sosial serta keluarga yang kuat – yang jauh lebih tinggi dibanding engineer-engineer teknologi tadi. Yang kedua adalah, sebagian besar manajer, tidak memiliki jendela untuk mengintip jiwa pekerjanya, memutuskan untuk mengambil jalan pintas dan mengukur passion dengan satu ukuran mudah: “kemauan untuk menghabiskan seluruh waktu di kantor”. (Sekitar sekaranglah, dengan kafetaria perusahaan, pusat fitness, dan penitipan anak bermunculan di semua kampus hi-tech di seluruh kota, aku menyadari bahwa jika perusahaan berusaha sekeras itu untuk menjadikan tempat kerja terasa seperti rumah, itu adalah pertanda kuat bahwa para karyawan beresiko disanksi jika mereka pernah mencoba mengunjungi rumah mereka yang sesungguhnya).

Pada awal tahun-tahun kepemimpinan Reagan, Serikat Pekerja – penjaga 40 jam kerja per minggu selama 150 tahun – jatuh di bawah serangan gencar konservatif; dan menggantikan tempat Serikat Pekerja, muncul kultus baru: wirausaha. Seluruh kesepakatan paternalistik lama antara pekerja dan pemberi kerja terkoyak. Sementara mulanya perusahaan berharap merekrut pekerja yang masih muda dan kemudian merawat karirnya hingga masa pensiun – hubungan seumur hidup yang mengharuskan manajer memikirkan bagaimana menjaga tempat kerjanya berkelanjutan dan nyaman dalam jangka panjang – sekarang kaum muda Gen X diberi gaji tinggi dan disuruh untuk bersiap berganti pekerjaan setiap 3-5 tahun. Sambil menuntut tingkat “passion” dan komitmen yang jauh lebih tinggi, pemilik kerja sekarang mengabaikan kewajiban lama mereka untuk menjaga kesejahteraan jangka panjang karyawannya.

Implementasi paham baru (yang tamak) para korporasi ini dapat diringkas dalam dua frase: “kocok mereka dan bakar mereka” (churn them and burn them, sebuah istilah yang menggambarkan kebiasaan Microsoft merekrut programmer yang baru lulus sekolah lalu memaksa mereka bekerja 70 jam seminggu hingga mereka tidak tahan dan kinerjanya menurun, lalu memecat mereka dan merekrut gelombang lulusan baru lagi), dan “bekerja 90 jam seminggu dan menyukainya!” (working 90 hours a week and loving it, sebuah tulisan yang benar-benar ada pada kaos yang dipakai dengan penuh kebanggan oleh tim Macintosh original. (Pakar produktivitas memperkirakan bahwa kita mungkin bisa mendapat Mac setahun lebih awal seandainya tim tersebut bekerja hanya setengah dari jumlah jam mingguan tersebut.)) Mentalitas ini lalu menyebar dengan sangat cepat dari sektor teknologi ke setiap industri di seluruh pojok negeri.

Ide baru yang menyebar adalah lepaskan “wirausahawan internal” – Randian übermenschen baru yang bersedia mencurahkan seluruh energi mereka untuk sukses perusahaan dengan harapan penghargaan yang luar biasa dan yang mau memangku semua resiko sendiri. Di dunia baru yang berani ini, orang yang rajin dan giat yang sesungguhnya adalah mereka yang mau mengorbankan weekend dan hari Sabtu, menunda urusan keluarga, makan di meja kerja dan tidur di kubikel. 40 jam seminggu adalah paham untuk para pecundang dan pemalas, yang mulai lenyap dari pemandangan bisnis Amerika. Dan seiring lenyapnya orang yang bekerja 40 jam seminggu, kita menjadi lupa semua alasan sangat bagus mengapa kita memiliki batas 40 jam tersebut.

Dalam 15 tahun, segala yang diketahui manajer Amerika mengenai memelihara produktivitas pekerja menjadi terlupakan. Sekarang, setelah 30 tahun dan beberapa krisis ekonomi, sebagian besar kafetaria, gym center, dan pusat penitipan anak di perusahaan-perusahaan menghilang bersama lenyapnya opsi pemilikan saham dan bonus yang pada mulanya menjadi penghargaan bagi pekerja yang bekerja dalam waktu yang lama tiap minggunya. Semua yang tersisa hanya kebiasaan (kewajiban?) bekerja 60 jam seminggu. Dan, kecuali Anda adalah pekerja per jam, satu-satunya rangsangan dari pemilik bisnis sebagai ganti dari kerelaan Anda menyerahkan diri pada penyalahgunaan waktu kerja ini adalah Anda bisa mempertahankan pekerjaan Anda.

Dapatkah Kita Mengembalikan Lagi Jam Kerja 40 Jam?

Mengembalikan jam kerja 40 jam seminggu akan membutuhkan perubahan sikap yang menyeluruh baik dari pekerja maupun pemberi kerja.

Untuk pekerja, pemahaman dasar yang harus dimiliki adalah seorang bos yang meminta Anda bekerja lebih dari delapan jam sehari atau 40 jam seminggu sesungguhnya sedang mencuri sesuatu yang vital dan berharga dari Anda. Setiap jam kerja tambahan yang Anda lakukan akan harus Anda bayar dengan waktu penting di beberapa area kritis lain kehidupan Anda. Bagaimana Anda akan menebus waktu yang hilang? Akankah Anda menyingkirkan makan malam dan menggantinya dengan junk food? Melewatkan jadwal olahraga? Melewatkan pertandingan anak Anda weekend ini? Tidur kurang? (Sex? Apa itu?) Dan berapa hari beruntun Anda dapat melakukan semua pertukaran itu sebelum Anda menjadi lemah secara permanen dan substansial? (Mungkin jawabannya tidak sebanyak yang Anda pikir). Mengubah situasi ini diawali dengan pengetahuan bahwa satu jam kerja lebih adalah benar-benar mengambil sesuatu dari kesejahteraan jangka panjang Anda – dan banyak pekerja yang memiliki gaji rutin bahkan tidak diberi kompensasi sama sekali untuk jam kerja lebih ini.

Saat ini ada sangat banyak industri dan cabang ilmu kedokteran yang bertujuan mengelola stress akibat pekerjaan, akan tetapi, intinya adalah orang yang memiliki waktu yang cukup untuk makan, tidur, bermain sedikit, berolahraga, dan memelihara hubungan sosial tidak membutuhkan pertolongan industri dan ilmu kedokteran tersebut. Pergerakan sosial di Inggris pada abad 19 yang menuntut waktu kerja pendek aslinya meminta “delapan jam untuk bekerja, delapan jam untuk tidur, delapan jam untuk apa pun yang kami mau”. Hingga hari ini, tuntutan itu masih merupakan rumus yang bekerja dengan baik.

Untuk pemilik bisnis / pemberi kerja, pergeseran paradigma kembali ke 40 jam seminggu akan jauh lebih sulit, karena hal itu akan membutuhkan perubahan menyeluruh di sebagian besar asumsi dasar kultur bisnis kita. Dua generasi manajer kini telah mempercayai bahwa “manajer yang baik” adalah manajer yang dapat menjaga pantat bawahannya di kursi selama mungkin. Asumsi ini secara implisit menunjukkan seberapa penting “produktivitas” dan “motivasi” pada tempat kerja masa kini. Seorang manajer yang bisa mendapat hasil kerja yang sama dari bawahannya dalam waktu yang lebih singkat tidak dihargai untuk kemampuannya menarik kemampuan terbaik pekerjanya. Sebaliknya, ia akan dianggap kurang memberi beban pada pekerjanya, yang jelas dapat memberi hasil kerja lebih andai saja ia mempekerjakan pekerjanya lebih lama. Untuk manajer seperti ini, jika anak buahnya bekerja 40 jam seminggu, ia akan diminta menaikkan jam kerja pekerjanya menjadi 50 jam. Jika jam kerja anak buahnya sudah 50 jam seminggu, manajemen akan menutut pekerjanya mengorbankan waktu malam dan hari Sabtu dan menaikkan jam kerja jadi 60 jam seminggu. Dan jika ia menentang – karena mengetahui bahwa produktivitas yang sesungguhnya akan menurun jika ia menurut – ia tidak akan dipromosikan.

Tentu saja, merekrut pekerja baru tidak pernah dipikirkan – lagi-lagi, terutama jika pekerjanya bersifat digaji rutin seperti di kantoran. Memeras jam tambahan dari pekerja yang ada sementara tidak perlu membayar lebih dilihat sebagai cara gratis bagi manajer yang hidup di bawah ilusi bahwa mereka mendapat 50% hasil kerja lebih dengan tambahan 50% waktu kerja. Ilusi ini juga mendorong pendapat yang keliru yakni seorang manajer dapat memecat seseorang lalu membagi dua pekerjaannya kepada dua orang lain, yang akan bekerja ekstra 20 jam dengan gratis – dan tidak ada keburukan bagi perusahaan yang melakukan ini.

Dan, tentu saja, itu ilusi dan pendapat yang salah.

Kesalahan ini juga menyakiti negara. Untuk setiap empat orang Amerika yang bekerja 50 jam seminggu, setiap minggu, terdapat satu orang Amerika yang seharusnya memiliki pekerjaan penuh-waktu tapi kenyataannya tidak. Masalah pengangguran kita yang merajalela dapat hilang dalam semalam seandainya kita bekerja sebagaimana seharusnya seperti diatur dalam hukum.

Kita tidak akan membalikkan situasi ini hingga kita melakukan apa yang dilakukan nenek moyang kita di abad 19: mengkonfrontasi bos kita, memberi mereka data, dan membuat mereka mengerti bahwa yang mereka lakukan adalah penyiksaan pekerja – dan penyiksaan yang mereka lakukan berdasar asumsi yang secara langsung berdampak pada potensi keuntungan mereka. Kita mungkin harus memohon pada pemilik saham, yang investasinya berada pada ancaman serius jika pekerja dipekerjakan berlebihan. (Setidaknya satu tuntutuan pemegang saham telah dilayangkan kepada sebuah perusahaan game komputer yang terkenal buruk karena mempekerjakan karyawannya 80 jam seminggu selama beberapa tahun terakhir. Tuntutan itu diselesaikan di luar pengadilan dengan kesepakatan yang menguntungkan penggugat). Kita mungkin harus lebih kuat ketika bernegosiasi dengan bos pada saat pertama kali kita akan mengambil suatu pekerjaan, dan meminta jam kerja kita tertulis lebih awal di kontrak – dan kemudian meminta bos kita akan mematuhi kontrak tersebut ke depannya. Dan kita juga perlu bersandar pada legislatif untuk mulai mendesak UU Ketenagakerjaan terkait masalah jam kerja pekerja ini.

Tapi inti dasarnya adalah: untuk kebaikan tubuh kita, keluarga kita, masyarakat kita, keuntungan perusahaan Amerika, dan masa depan negara, kegilaan ini harus berhenti. Bekerja dalam waktu yang lama per hari dan per minggunya telah dengan sangat meyakinkan terbukti sebagai cara terbodoh dan termahal untuk memastikan suatu pekerjaan terlaksana. Bos-bos kita menguras SDM yang ada tanpa mengisi kembali. Mereka mengambil waktu, energi, dan sumberdaya yang nyata-nyata milik kita, dan merupakan bagian kekayaan umum bangsa kita.

Jika kita akan berbicara tentang membuat dunia yang lestari, mari mulai dengan berbicara tentang bagaimana cara hidup rendah stres, menjalani kehidupan dan pekerjaan dengan seimbang yang menjaga kita tetap segar, kuat, dan mampu untuk terus memberi kontribusi ekonomis selama empat atau lima dekade, alih-alih menjadi jenuh dan rusak pada usia paruh baya. Karir 40 tahun yang penuh dan produktif diawali dengan 40 jam kerja per minggu yang produktif. Dan tak seorang pun berhak mengambil hak bekerja 40 jam tersebut dari kita, bahkan tidak demi gaji.

3 thoughts on “Bekerjalah 40 Jam Saja Seminggu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s