Menyikapi Kecelakaan

Berita yang lagi sangat heboh di saat saya nulis posting ini adalah tentang kecelakaan yang melibatkan Abdul Qodir Jaelani (Dul) putra musisi kondang Ahmad Dhani. Dul yang masih berusia 13 tahun mengendarai mobil di jalan tol, menabrak pembatas jalan, lalu menyebabkan tabrakan beruntun yang menyebabkan 6 orang korban tewas. Kabar terakhir ketika saya nulis ini, operasi Dul sudah selesai, Ahmad Dhani mengucap syukur di twitter, Ahmad Dhani merasa sangat bersalah, keluarga Ahmad Dhani siap mengganti biaya dan memberi santunan kepada keluarga korban.

Mobil Dul

Dilihat dari sisi mana pun juga, jelas Dul memang bersalah. Dan kecelakaan kali ini menambah rentetan kecelakaan maut yang melibatkan orang beken, seperti belum lama juga ada kecelakaan yang melibatkan putra Menko Ekonomi Hatta Radjasa. Tapi, bukan kecelakaan dan statistik terkaitnya yang mau saya komentarin sekarang. Alih-alih, hal yang bikin saya gatel sampai nahan ngantuk untuk posting jam 2 pagi begini adalah, komentar orang-orang di berbagai forum maya tentang kecelakaan ini.

Sebagian komentar isinya menghujat dan menyalahkan anak 13 tahun ga bawa SIM di jalan tol dan jd penyebab kecelakaan, oke komentarnya bisa diterima, toh emang faktanya begitu. Tapi yang bikin greget adalah komentar-komentar lain yang (menurut saya) berlebihan.

Misal, ada berita Ahmad Dhani bersyukur di twitter. Lalu orang-orang komentar macem-macem, ada yang bilang, “tolol! bersyukur ya sholat, bukan main twitter!” Heloo tukang komen, tau dari mana Dhani ga syukur di dunia nyata? Atau, “goblok ada orang mati masih sempet bersyukur, mikirin anaknya sendiri, egois!” Helo again tukang komen, kalau Dul adalah anakmu, ketika ia selesai operasi, akankah km tidak peduli dan bisa mikirin orang lain aja?

Kemudian, berita psikolog anak kondang Kak Seto yang menyatakan bahwa Dul mengalami trauma yang sangat berat. Komentar orang? “pembunuh ngapain dipikirin! pikirin tuh trauma keluarga korban tewas!” Satu, yakin gitu kak Seto ga ngurusin anak-anak korbannya? Dua, sementara anak-anak korban (mungkin) akan tumbuh dengan rasa (mungkin) dendam dan ketidakikhlasan seumur hidup, coba pikir sedikit tentang Dul juga yang akan tumbuh dengan rasa bersalah seumur hidup. Ga sengaja menggilas kucing aja pasti bikin rasanya ga enak banget. Sekarang kamu bayangkan, kamu ga sengaja menewaskan orang dan bukannya kucing, ada lebih dari 1 orangnya, mungkin seumur-umur kerabat korban-korbannya akan terus meneror dan membenci km, tambah lagi km baru mulai masuk SMP. Mungkin rasa traumanya ga kalah dengan anak-anak korban. Terus yang ga kalah amazing, ada yg komentar, “dasar setoloyo! tempatmu spesial di neraka dengan si pembunuh!” Wow. Sekarang psikolog anak bisa masuk neraka hanya karena mengerjakan pekerjaannya.

Lalu, di berita keluarga Ahmad Dhani siap menyantuni semua keluarga korban, komentarnya orang, “Dasar orang kaya, enak aja bagi-bagi duit dan minta maaf, nyawa orang tuh ga bisa dibalikin!” Jadi, harusnya ga menyantuni dengan duit, ga minta maaf, dan kabur begitu saja, gitu? Atau Dul dan Ahmad Dhani harus bunuh diri bareng-bareng? Komentar lain, “Main bayar aja, emangnya ini acara show!” Err.. udah males ah ngomentarin komentar orangnya. Pokonya masih sangat banyak komentar-komentar lain yang bikin miris bacanya. Sumbernya cari aja di situs-situs berita indonesia.

Hmm, lalu jadi intinya apa ya. Ya, bukannya saya mau nyuruh untuk bersimpati sama pelaku penyebab kecelakaan sih, tapi ya… Ga usah berlebihan juga sih dalam menghujat. Dikira-kira dan mikir sedikit coba. Dan jangan terlalu sibuk memaki. Ada sangat banyak hal yang bisa diperhatikan utk jadi sasaran perbaikan, mulai dari penegakan aturan SIM, perbaikan teknologi pembatas jalan, sistem pertolongan pada musibah fatal, dll dll, yang mana hal-hal ini bisa luput dari perhatian jika kita terlalu larut dalam amarah yang tidak produktif.

Yah, gitu lah. Namanya kecelakaan di jalan mah kayanya akan selalu ada, tapi mudah-mudahan kalau kita lebih peka pada hal-hal yang esensial di balik kecelakaan-kecelakaan yang terjadi, semoga tingkat fatal kecelakaan dan jumlah korban di kecelakaan lalu lintas akan dapat dijaga selalu seminimal mungkin.

One thought on “Menyikapi Kecelakaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s