Saatnya Persib Menggunakan Direktur Teknik

Menjelang kompetisi yang konon akan bergulir kembali bulan Januari mendatang, persiapan Persib tampak tidak berjalan terlalu mulus. Coach Djanur masih belum mendapatkan komposisi tim yang lengkap sesuai keinginannya.

Transfer pemain masih macet sampai pengurus yang bukan bagian tim teknis ikut mencari pemain (baca di http://simamaung.com/umuh-mulai-resah-soal-center-back-asing/), perburuan pemain masih memaksakan harus mencari pemain asing demi memenuhi kuota yang sebenarnya tidak wajib dipenuhi daripada berburu pemain berkualitas ke pelosok daerah atau memanfaatkan pemain binaan sendiri (baca di http://id.berita.yahoo.com/bek-anyar-persib-harus-lebih-baik-dari-abanda-175829225–spt.html), sampai adanya pihak internal yang meragukan Diklat Persib (baca di http://simamaung.com/telan-biaya-besar-umuh-ragukan-diklat-persib/).

Hal-hal ini mungkin bisa diatasi jika ada orang yang benar-benar ditugaskan menjabat Direktur Teknik (DT) di klub. Seorang DT biasanya adalah seorang mantan pemain/mantan pelatih sukses yang dikenal luas di dunia sepakbola. Secara umum, tugas DT di klub sepakbola adalah menjadi perantara antara pelatih kepala dengan pemilik klub, dimana DT harus menyediakan pemain yang dibutuhkan pelatih namun dengan memenuhi batasan finansial yang diterapkan pemilik klub.

Oleh karena itu, DT sehari-hari bekerja dengan dua bagian: scouting dan akademi. Para scout terus menerus memantau pemain baik dari dalam maupun luar negeri dan mengembangkan database pemain yang dapat dipergunakan sewaktu-waktu, sementara tim junior di diklat/akademi terus berlatih dan bertanding di kompetisi amatir demi meningkatkan skill agar siap jika tiba-tiba dibutuhkan oleh tim senior. DT sama sekali tidak terlibat dalam latihan, persiapan matchday, penentuan taktik dan strategi, dan tidak ikut duduk di bench pada saat pertandingan. Berikut ilustrasi pekerjaan DT:

Guardiola adalah manajer Barcelona dan Txiki Begiristain adalah DT Barcelona. Guardiola berkata kepada Txiki bahwa ia membutuhkan seorang bek tengah yang pandai membaca permainan. Txiki lalu akan berkordinasi dengan seluruh scout dan pelatih tim junior untuk mengumpulkan daftar pemain yang kira-kira sesuai dengan kebutuhan Guardiola, lalu setelah berkordinasi dengan pemilik klub untuk mencoret pemain yang kira-kira terlalu mahal, Guardiola akan menentukan dari daftar tersebut apakah ada pemain yang memenuhi kebutuhannya.

Jika ternyata ada pemain yang diinginkan (dan kebetulan berasal dari klub lain), Txiki lalu akan berusaha sekuat tenaga menggunakan pengaruhnya sebagai orang terkenal untuk menarik pemain yang dibutuhkan tadi agar mau bergabung dengan Barcelona. Jika si pemain mau bergabung dengan Barcelona, maka Txiki akan menangani seluruh proses negosiasi dan administrasi, dan Guardiola cukup “tahu jadi” pemain yang diinginkan muncul di lapangan untuk latihan.

Selain untuk kebutuhan masa sekarang, DT juga bekerja untuk mempersiapkan tim di masa depan. DT harus mengkordinasikan bagian akademi/pembinaan agar seandainya ada pemain yang kontraknya akan habis atau ada pemain senior yang permainannya mulai menurun dan diperkirakan akan segera pensiun dalam beberapa tahun, selalu ada pemain junior yang mempunyai karakter dan kualitas permainan yang bisa menggantikan pemain yang akan pergi.

Dalam penerapannya, jika seorang DT suka melakukan intervensi terhadap kewenangan pelatih atau kurang memiliki kecakapan teknis sepakbola yang cukup, hasilnya malah akan sangat buruk. Oleh karena itulah, sebagian besar tim di Premier League Inggris enggan mempekerjakan DT.

Akan tetapi, sebaliknya sebuah klub yang mengimplementasikan fungsi DT dengan baik dapat meraih sukses besar meski suksesnya tidak didapat secara instan. Contoh tim yang sukses menerapkan DT diantaranya adalah Borussia Dortmund yang nyaris bangkrut pada tahun 2004, merekrut Michael Zorc sebagai DT, lalu setelah 9 tahun sekarang Dortmund bisa menjadi penantang serius Bundesliga (bahkan pernah jadi juara), dapat menghasilkan pemain binaan sendiri sekelas Mario Gotze, dan menemukan pemain hasil scouting sekelas Shinji Kagawa. Klub besar Eropa lain yang menerapkan DT diantaranya ada Barcelona, Real Madrid, AC Milan, Juventus, dll.

Berkaca dari kesuksesan tim-tim lain tersebut, mungkin ada baiknya sekarang Persib mempertimbangkan menggunakan DT. Ada banyak mantan pemain/pelatih berkelas di Indonesia baik yang berasal dari Bandung maupun bukan yang dapat direkrut untuk menjadi DT.

Perekrutan DT pada tahun ini mungkin tidak akan instan langsung melahirkan gelar juara, tapi mudah-mudahan dapat mewujudkan harapan walikota Bandung terpilih Ridwan Kamil bahwa, dalam masa kepengurusannya 5 tahun ke depan minimal Persib akan pernah sekali juara sekaligus mengakhiri dahaga kejayaan yang sudah terlalu panjang ini. Hidup Persib!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s