Hari Madu Singapura

Sekitar sebulan setelah nikah, saya sama istri jalan-jalan 4 hari 3 malam ke Singapura. Jalan-jalan habis nikah gini biasanya kata orang mah bulan madu a.k.a honeymoon, tapi karena cuma 4 hari menurut saya istilah yang bener mah hari madu bukan bulan madu coz ga nyampe sebulan. Kenapa ga langsung melakukan hari madu setelah nikah, karena dari sebelum nikah saya udah diwanti-wanti sama bos bahwa siap-siap di bulan November saya mau disuruh training dan ujian sertifikasi CCNA. Males aja rasanya kalau mau jalan-jalan tapi di pikirannya kebayang-bayang bakal harus ujian habis itu. But, you know what? Setelah menunda sebulan, ternyata boro-boro sertifikasi, trainingnya aja ga jadi -__-

Sebenernya, awalnya ada beberapa tempat yang dipertimbangkan untuk jadi tujuan hari madu, yaitu Pangandaran, Derawan, Belitong, Lombok, Thailand, Singapura. Lalu, kenapa akhirnya kami milih Singapura untuk tempat tujuan hari madu? Simpelnya, karena saya ingin ke tempat yang ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan.

Pangandaran sebenernya menarik ada pantai ada hutan, tapi pantainya biasa aja sih, lagian terlalu deket juga, istri saya ga mau. Derawan kalau liat foto-fotonya luar biasa paling indah diantara semua alternatif, tapi harga ongkosnya aja udah mahal banget, dan di sana tampak ga banyak kegiatan/tempat yang bisa dilakukan selain santai-santai di pantai/laut, yang mana terdengar… membosankan. Belitong, walau ga seindah Derawan, ada situs Laskar Pelangi, tapi sayangnya kami ga minat sama sekali juga sih untuk liat-liat situs Laskar Pelangi ini.

Naah, kalau Lombok, ini sebenernya pilihan utama kami asalnya. Tapi karena temen-temen yang nikah 1-3 bulan sebelum kami pada honeymoon ke Lombok, kami ngerasa Lombok terlalu mainstream dan ga jadi deh pergi ke sana, cupu banget ya alasannya haha. Thailand, meski menawarkan pengalaman kebudayaan yang otentik, somehow ga menarik minat saya karena saya maunya kalau ke luar negeri harus ke tempat yang modern, dan kata orang Bangkok mah sama-sama aja dengan Indonesia, malah kalau pantai bagusan Bali. Dan akhirnya, kami pun memutuskan untuk ke Singapura aja, ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan, modern, harga mahal standar, pertama kali saya ke sana dulu saya sangat terkesan, dan sekalian ngajak istri ngerasain luar negeri untuk pertama kalinya.

Oke, udah kebanyakan banget prolognya, sekarang saatnya dongeng Singapurnya.

Hari 1

Itinerary: chinatown, little india, night safari.

Realita:

Perjalanan dimulai dengan nuker uang di bandara Soekarno Hatta. Boy, Rupiah rate was so damn bad. 2 tahun lalu saya ke Singapur, 1 SGD = 6500 IDR. Dalam 2 tahun, kurs nya berubah jadi 1 SGD = 9500 IDR. Gebleg poor Indonesia. Lalu, setelah delay setengah jam dan a safe flight, sampailah di Changi. Di sini kami nuker uang lagi dalam jumlah yang lebih banyak (hint: tempat nuker uang IDR ke SGD dengan rate terbaik selama perjalanan kami itu di Changi ini).

Begitu sampai, setelah check-in, hal pertama yang kami cari adalah: Sim Card buat ngenet. Dari awal, yang dicari adalah Singtel 10$an, tapi dimana-mana ga ada yang jual. Akhirnya, terpaksa beli kartu yang 18$ 2 biji masing-masing buat saya dan istri. Setelah beli, kita baru ngeh ngapain sama-sama beli, padahal kan cukup satu orang aja yang beli lalu dari hape yang satu dijadiin hotspot biar sama-sama ada akses internet, tapi yah sudahlah. Btw Singtel ini jaringannya bagus, tapi service nya butut. Jadi kan saya dan istri sama-sama beli paket data internet 7 GB, nah kalau saya mah berhasil, kalau istri saya mah entah kenapa gagal, dan pulsa nya tersedot dengan sangat cepat dan 18$ habis dalam kurang dari sejam.

Setelah internet available, kami sholat dan makan malam, dan hari pun keburu terlalu sore. Batal deh ke Chinatown dan Little India. Selesai makan, pas dihitung-hitung, ga akan keburu kalau ngejar Night Safari, akhirnya kami pergi ke Singapore Flyer. Tapi ga naik Singapore Flyer nya soalnya saya takut ketinggian hahahahaha.

Hari 2

Itinerary: Gardens by the Bay, Lockdown, Orchard, Singapore Flyer

Realita:

Tadinya, kami mau ke Gardens by the Bay dari pagi banget biar seger. Tapi apalah daya, setelah solat subuh kami tidur lagi baru bangun jam hampir 10 haha. Tapi akhirnya kita tetep ke Gardens by the Bay juga meski udah siang. Gardens by the Bay adalah sebuah taman yang sangat luas sekali dan keren. Selain taman biasa, di dalamnya juga ada 2 tempat khusus, yaitu Flower Dome dan Cloud Forest. Masuk ke Gardens by the Bay nya mah gratis, tapi masuk Flower Dome dan Cloud Forest ini bayar. Tadinya kami ragu mau masuk karena harganya lumayan mahal, takutnya boring, tapi karena udah terlanjur datang, yaudah deh kami masuk, dan ternyata… We feel the money was spent well. Terutama Cloud Forest nya kata saya mah, ini tempat keren banget. Hutan alami di rumah kaca raksasa buatan manusia, dan di dalamnya ada banyak layar untuk edukasi lingkungan dengan visualisasi yang keren.

Btw, ketika makan di Texas fried chicken di area Gardens by the Bay ini, ada lowongan untuk part-time waiter dengan gaji 5-7 SGD per jam. Kalau misal saya kerja 4 jam sehari selama 6 hari seminggu dan 4 minggu sebulan, maka gaji minimal saya adalah 5 x 4 x 6 x 4 x 9500 = 4,5 jt rupiah. Lebih gede dari gaji dasar saya di kantor haha.

Dari Gardens by the Bay, karena udah sore banget, kami mengcancel pergi ke Lockdown, dan juga cancel ke Singapore Flyer karena udah hari kemarin. Akhirnya kami pergi ke Orchard menyusuri jalan ngeliat-liat suasana jalanan yang katanya best shopping place no 1 dunia. Tapi karena istri saya ga begitu minat – padahal kalau di Indonesia kayanya hobi banget ke mall -, kami di Orchard cuma sebentar, dan lanjut ke Little India, dan pastinya di sana masuk ke Mustafa centre, dan beli oleh-oleh sedikit.

Hari 3

Itinerary: Universal Studio, Marina Bay

Realita:

Karena udah lama ga jalan kaki jauh-jauh, dan di Singapur buanyak banget jalan kakinya apalagi pas di Gardens by the Bay, kami udah mulai cape dan akhirnya pas hari ketiga ini baru bangun jam 11 siang dari asalnya dijadwalkan mau mulai pergi-pergi dari jam 9. Untung jalan-jalannya mandiri ga pake agen apa-apa, jadi bebas mau bangun jam berapa aja dan mau ngapain aja juga.

Agenda pertama di hari ketiga ini, kami pergi main Lockdown di daerah Clarke Quay. Buat yang belum tau, main lockdown ini adalah game simulasi escape/melarikan diri. Jadi, kami dikunci di suatu ruangan, lalu harus mengobservasi ruangan tersebut, dan mencari berbagai clue untuk dapat melarikan diri dari ruangan tersebut dalam waktu 1 jam. Kalau kita kesulitan mencari clue, kita boleh nelepon petugas yang stand by di luar ruangan untuk minta clue. Dan ternyata, gamenya susah boyyy, kami gagal total padahal udah nelepon minta clue sampai berkali-kali hahahaha. Pas setelah game dijelasin step-step untuk ngebuka ruangannya, ternyata pencapaian kami belum sampai setengah langkah-langkah yang diperlukan haha.

Dari Clarke Quay, kami pergi ke salah satu tempat wisata paling terkenal di Singapur, yaitu Universal Studio. Awalnya saya rada ragu mau ke sana soalnya mahal banget masuknya 75 SGD, apalagi saya fobia ketinggian, takut di sana jadi ga rame. Tapi-tapi-tapi, ternyata, Universal Studio emang seru. Meski pas masuk tiap wahana antri, semuanya worth it. Di sana kami nonton Shrek 4D adventure, Waterworld, Light Camera Action by Steven Spielberg, dan yang paling keren Transformers the Ride, wuih mantap super lah itu. Kami keliling-keliling Universal Studio dari siang sampe magrib, dan lalu karena udah pegel banget langsung balik, cari makan, dan pulang ke hotel.

Hari 4

Itinerary: Jurong East Swimming Complex, Changi Airport

Pas hari terakhir, tadinya kami mau santai-santai aja, mungkin main ke kolam renang, dan berwisata di Changi yang katanya bandara terbaik dunia. Tapi, karena belum punya oleh-oleh dan istri saya pengen liat Merlion, jadinya dari pagi – untuk pertama kalinya kami bisa bangun pagi pas di Singapur – kami jalan-jalan dulu ke Merlion Park dan Esplanade, di sini ketemu orang Indonesia yang foto-foto juga haha. Dari situ cari oleh-oleh ke mall Vivo City, check out dan langsung menuju Changi.

Sampai Changi, udah keburu mepet waktu boarding jadi ga sempet liat-liat ke berbagai terminal, apalagi masih cari oleh-oleh dikit di bandara nya. Nevertheless, dalam waktu liat-liat yang sangat terbatas aja kerasa Changi keren, bandara Soekarno Hatta masih harus berbenah habis-habisan kalau mau bersaing. Btw, konon kabarnya Angkasa Pura lagi proyek modernisasi bandara-bandara di Indonesia kaya di Medan, Yogya, dll, semoga aja bener, kalau ada bandara keren di Indonesia pasti bangga kok.

Dan, berakhirlah sudah liburan pertama saya bareng-bareng istri😀

Semoga liburan ini adalah awal yang seru untuk perjalanan hidup kami yang juga seru dan mudah-mudahan barokah. Thanks for the honey days my lovely wife Nindy Revhenska Putri🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s