Jangan Jadi Pengusaha!

Warning: ini adalah tulisan rada-rada demotivasional untuk yang mau jadi pengusaha. Kalau kira-kira malah bisa membuat jadi tidak semangat untuk jadi pengusaha, berhenti baca di sini.

*****

Minggu lalu, saya ada urusan bisnis *halah* dengan seorang bapak muda beranak 2, sebut saja nama si bapaknya Amat. Saya adalah pembeli, dan Pak Amat adalah penjual. Singkat cerita, tibalah waktunya saya melakukan pembayaran. Total nilai transaksi nya adalah 25 juta rupiah.

Saya: “Oke pak terimakasih, ini bayarnya gimana, transfer aja kali ya?”

Pak Amat: “Oh, ya transfer boleh, tapi cash aja juga gapapa, cuma 25 juta kan ya? Kecil atuh 25 juta mah”

Saya (dalam hati): What? Kecil? 25 juta itu lebih dari setengah tabungan saya😐

Karena penasaran, jadilah saya mengorek lebih jauh latar belakang Pak Amat ini.

Saya: “Oh oke transfer aja ya. Btw, selain ini biasanya usahanya Pak Amat apa ya?”

Pak Amat: “Oh, saya kan lulusan *sebuah universitas negeri terkenal di Bandung* jurusan peternakan, jadi saya mah punya banyak jaringan”

Saya: “Oh di bidang peternakan?”

Pak Amat: “Iya”

Saya: “Wah, jadi apanya pak, jadi produsennya?”

Pak Amat: “Wah ngga lah, jadi peternak mah cape, saya mah pengepul aja yang ngumpulin”

Saya: “Oh gitu, biasanya dari mana ngumpulinnya? Kalau dijualnya kemana?”

Pak Amat: “Ngumpulinnya mah dari berbagai peternak di Bandung aja, banyak di Bandung juga. Ngirimnya mah kemana-mana, Kuningan, kemana, saya udah keliling Jawa ini dari bisnis!”

Saya: “Wow, udah gede ya usahanya”

Pak Amat: “Oh iya, ini saya sekali ngirim ternak itu bisa sampai ratusan juta omzet nya! Saya punya truk 8! (sambil ngebuka dompet) Lihat ini kartu BCA Platinum saya aja ada 3!”

Saya (dalam hati): buset, pantes aja buat dia mah 25 juta mah receh😐

Saya: “Wuih, usahanya udah gede juga ya, itu modalnya dari kredit gitu ya?”

Pak Amat: “Yah, dulunya mah modal sendiri, tapi untuk mengembangkan usaha ya mulai saya pake pinjeman bank”

Saya: “Wah keren ya euy, sekarang udah berapa karyawannya?”

Pak Amat: “Yah karyawan mah 10, tapi ga tetap, kalau lagi mau ngumpulin atau mau ngirim ternak aja baru ada karyawannya, itu juga biasanya ga semuanya langsung kerja. Kan sekali ngirim ternak juga ga bisa langsung 8 truk berangkat semua, paling banyak 2 truk”

Saya: “Kenapa ga langsung sekalian semua truk berangkat supaya maksimal?”

Pak Amat: “Wah ga bisa kalau iring-iringan gitu mah, pokonya mah ga bisa, banyak gangguannya!”

Saya: “Oh, ada trik-triknya ya”

Pak Amat: “Iya, usaha mah gitu, banyak hal yang ga jelas! Dulu saya berdarah-darah pas baru awal mulai usaha soalnya banyak hal-hal yang ga karuan, sekarang mah sudah hapal”

Saya: “Oh tapi yang penting mah sekarang udah sukses ya udah keren heuheu, tapi masyarakat mah biasanya kalau ngeliat pengusaha teh ngeliat pas udah sukses aja”

Pak Amat: “Iya, masyarakat mah ga tau jadi pengusaha teh perih”

Saya: “Haha, tapi keren euy, saya juga mau jadi pengusaha sebenernya daripada kerja ngantoran gini”

Pak Amat: “Wah, jangan! Janganlah! Pusing jadi pengusaha teh! Sekali jalan aja untuk ngirim aja butuh modalnya bisa tembus ratusan juta juga! Sekarang aja utang saya milyaran, bener loh! Pusing tiap hari teh, tidur aja saya (bisa) cuma 1 jam aja sehari!”

Saya: “Err.. Yah tapi yang penting hidup masih enak kan ya”

Pak Amat: “Iya, yah saya mah kalau bisa ingin sukses seperti Bakrie, utangnya trilyunan loh Bakrie itu! Tapi kaya dan sukses dia itu”

Saya: “Nah kan iya bagus, salut saya mah sama yang jadi pengusaha teh”

Pak Amat: “Iya, tapi jangan mau jadi pengusaha! Pokonya mah jangan mau lah! Sengsara! Perih! Lieur!” (dan ngulang-ngulang terus begini sampai saya beres transfer dan urusan kita beres)

Saya: “Oke pak, terimakasih, semoga deal kita barokah”

Pak Amat: “Aamiin, yah sama-sama terimakasih”

Saya: “Oke pak. Langsung pulang sekarang?”

Pak Amat: “Saya mau nyebrang itu ke sebrang ke dealer Honda, saya mau ganti mobil jadi new CRV matic (fyi, harga pasaran new CRV matic baru sekitar 400 jutaan), tapi yah kredit aja palingan hehe”

Saya: “Oke pak, bye”

*****

So, kira-kira begitulah sisi gelap kehidupan pengusaha. Sibuk, pusing, dan banyak hutang. Tapi masih bisa punya 3 kartu Platinum BCA, beli Honda New CRV, dan nganggap receh 25 juta. Masih mau jadi pengusaha?

3 thoughts on “Jangan Jadi Pengusaha!

  1. Halo Riza, salam kenal, narasi yang menarik, dan sangat realistis, saya suka yang model begini, lebih mendewasakan.

    GDP kita 8000 T, kalau dibagi rata ke 210 juta penduduk tanpa mempertimbangkan usia produktif untuk berkarya, jadinya pendapatan perbulan rata- rata harusnya di angka 3.1 juta/ orang ya. Pendapatan segitu baru bisa disebut bisa layak hidup, entah di propinsi/ kota mana, karena di beberapa kota 3.1 juta/ bulan itu juga statusnya masih subsistensi.

    Seorang warga sipil menjadi pengusaha, artinya dia membuka peluang terjadi kecepatan putaran kas yang lebih dari 3.1 juta/ bulan di tangannya, karena jika sama, mending bekerja/ mendapat insentif dari perusahaan. Kalau dalam neraca kesetimbangan ( balance sheet), pengusaha itu ada di sisi kredit, dia mendapat lebihan kas setelah akhir termin anggaran antara dua sisi debit- kredit disetimbangkan, pengusaha bisa menjalankan perusahaan dengan harta ( ekuitas) sendiri, atau bisa juga dengan hutang, tentunya dengan beban tambahan amortisasi.

    Seorang profesional yang menjual keahlian kepada pengusaha, posisinya di sebelah kanan, debit. Ada standar gaji dan standar keahlian sehingga layak digaji.

    Sepengalaman saya, narasi yang berkembang di kampus- kampus semacam ITB ( yang keren itu lah ya🙂 ), pengusaha identik dengan barang atau jasa yang diperdagangkan, atau diproduksi, tapi jarang yang memasukkan unsur monetaris ( perputaran uang) di narasinya. Jadinya fokus semata di transaksi antara barang/ jasa dengan alat tukar ( currency).

    Ada banyak manusia kaya yang fokusnya di perputaran currency tanpa fokus ke urusan transaksional riil barang/ jasa. Jadi ya mereka tidak mengandalkan penjualan untuk bisa mendapat margin.

    Ya begitulah, sekali lagi, tulisan yang bagus🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s