Jokowow, Pencapresan yang Prematur

Semua indah pada waktunya. Tagline yang sering sekali saya dengar diucapkan ke mahasiswa yang lagi ngebet ingin kawin ini sepertinya tidak ada dalam kamus PDI-P. Sore ini, ketika curi-curi ngecek twitter di sela-sela kerja, saya melihat link berita bahwa PDI-P resmi menjadikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden Indonesia 2014. Karena sekarang saya lagi banyak yang harus dikerjakan juga, jadi tulisannya to the point aja. Saya pribadi merasa ini bukan waktunya Jokowi (atau kalau saya biasa menyebutnya Jokowow karena beliau memang wow) untuk maju jadi presiden Indonesia.

Saya termasuk penggemar Jokowow meski tidak sampai level orang-orang yang menjadikan beliau layaknya Nabi. Saya sudah tahu sepak terjang Jokowow dari sejak beliau masih jadi walikota Solo. Waktu itu, di salah satu milis yang saya ikuti, moderatornya berhasil mengundang beliau untuk nimbrung selama satu jam melayani tanya jawab live dengan para peserta milis. Di sana, saya bisa melihat pribadinya yang positif dan serius mau bekerja untuk rakyat. Dan dari situlah kesukaan saya pada beliau muncul. Ketika Jokohok maju menjadi Cagub Jakarta, saya tiap hari mengompori teman-teman yang punya hak pilih untuk memilih mereka, karena saya sendiri tidak punya KTP Jakarta jadi tidak bisa memilih.

Lalu, kenapa sekarang saya tidak setuju dengan pencapresan Jokowow? Sederhana saja, saya tidak percaya beliau sudah memiliki kompetensi untuk menangani Indonesia. Indonesia sangat kompleks, area nya sangat luas sekali, permasalahannya sangat beragam, dan kultur masyarakatnya pun sangat berbeda dari Sabang sampai Merauke. Belum lagi seorang presiden selain mengurusi dalam negeri, masih harus ditambah memikirkan berbagai masalah luar negeri dengan berbagai intrik yang sama sekali berbeda dengan urusan dalam negeri.

Makanya, saya senang ketika Jokowow menjadi gubernur Jakarta. Di Jakarta, orang-orangnya sangat beragam, semua suku dan semua kelas sosial ada. Di Jakarta, banyak diplomat asing. Dengan menjalani tugas di Jakarta 5 tahun, harusnya bisa lumayan menambah pengalaman dan meningkatkan kapabilitas bapak Jokowow. Paling-paling yang tidak bisa dipelajari di Jakarta hanya masalah terkait area, karena Jakarta sangat kecil dan metropolis, sementara masih sangat banyak (atau bahkan sebagian besar?) area Indonesia jauh, jauh lebih luas dan tidak semegah Jakarta.

Tapi, jika sekarang baru 1 tahun menjadi gubernur bapak Jokowow ini sudah maju menjadi capres, maka yaa jujur saja, saya ragu akan kemampuannya. Pengalaman beliau “hanya” menjadi walikota, dan baru benar-benar aktif di dunia politik akhir-akhir ini (setau saya, silakan koreksi kalau salah). Jika beliau terpilih jadi presiden, saya yakin beliau akan bekerja keras semampunya untuk Indonesia. Tapi, kerja keras saja sering tidak cukup. Lihatlah Jakarta 1 tahun di bawah beliau. Saya merasa Jakarta sudah lebih baik, tapi perbaikannya masih belum ada apa-apanya, masalah masih menumpuk dimana-mana, padahal kelihatan bahwa duet Jokohok sudah berusaha keras membenahi Jakarta. Sebaiknya selesaikan dulu masalah Jakarta selama 5 tahun sambil meningkatkan jam terbang. Jika sukses membenahi Jakarta dalam 5 tahun, beliau akan membungkam para haters dengan bukti nyata dan jadi memiliki jalan yang mulus dan lapang untuk menjadi presiden.

Selain itu, saya agak antipati dengan partai pengusungnya, PDIP. Masih ingat kasus Risma? Beliau diusung PDIP untuk menjadi walikota Surabaya karena beliau populer di mata masyarakat, tapi lalu setelah Risma diangkat, PDIP mulai merecoki dengan memilih wakil walikota yang tidak diinginkan Risma untuk menggolkan proyek-proyek yang konon tidak pro-rakyat. Buat yang tidak familiar dengan kasus Risma, silakan Google saja. Belum lagi, menurut data di artikel ini, PDIP adalah partai sarang koruptor. Ada kekhawatiran saya, bahwa PDIP hanya akan menjadikan Jokowow alat untuk berkuasa. Tapi walau bagaimanapun, cerita-cerita tentang PDIP ini hanya saya baca di internet yang patut diragukan kebenarannya, jadi mudah-mudahan sangkaan buruk saya ini salah.

Lalu terakhir, kalau memang Jokowow belum waktunya memimpin negeri ini, siapa seharusnya presiden Indonesia pilihan saya? Per saya membuat tulisan ini, jujur saya tidak tahu. Mungkin Prabowo atau Mahfud MD, tapi masing-masing ada kekurangannya juga. Yang saya tahu hanya, saya tidak akan memilih Rhoma Irama (itu pun kalau dia jadi dijadikan capres), dan tidak akan memilih Win-HT  karena katanya MNC TV mau mengambil alih hak siar Serie A dari TVRI tapi ternyata sampai Maret begini masih tidak ada saluran TV terestrial yang menyiarkan Liga Italia, huh.

2 thoughts on “Jokowow, Pencapresan yang Prematur

  1. Saya seneng Jokowi jadi capres, tapi saya lebih seneng Jokowi jadi gubernur Jakarta. Bukan apa-apa sih, tapi saya ngerasa kalau Jokowi seolah2 disuruh/diajak/didorong/apalah namanya buat jadi capres oleh partai nya. Ya pokoknya gitudeh, kang. I love Bandung! (loh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s