Coming From Behind, Prabowo-Hatta Unggul Tipis Debat Pertama

Preamble

Semalam, telah dilakukan debat capres-cawapres yang pertama. Posting ini akan memuat opini pribadi saya terkait debat semalam, apa yang terjadi, dan siapa yang lebih baik. Sebelum nonton debat, saya berada pada situasi dimana saya sama ga sukanya ke kedua capres.

Saya suka Prabowo karena menurut saya beliau visioner, tapi saya bener-bener ga suka bagaimana dia menggandeng ARB yang dulu dia maki-maki, dan saya kurang suka gaya dia yang agresif ga karuan dalam menyerang Jokowow walau sekarang ga segitunya. Jokowi, dari dulu banget waktu masih jadi walikota Solo saya udah suka dengan pribadinya, yang singkatnya, beliau orang baik. Tapi, saya sangat ga suka dengan partai pendukungnya dan orang-orang di belakangnya, serta saya sama sekali ga yakin dengan kemampuan mas Joko memimpin negara.

Untuk JK, saya dulu suka banget beliau, tapi sekarang biasa aja, somehow saya merasa beliau eranya udah lewat. Untuk Hatta, netral, saya bener-bener ga pernah tau sebelumnya mas Hatta itu seperti apa selain bahwa dia pencetus MP3EI (positif) dan bapak dari Rasyid Rajasa (negatif).

Jadi, situasinya awalnya adalah saya netral, swing voter istilahnya. Meski penilaian saya tentang debat semalam pasti subjektif, tapi mudah-mudahan ga setidakrasional para fanboys kedua pihak yang masya Allah.

Segmen 1: Penyampaian Visi Misi

Prabowo menyampaikan visi misi tentang demokrasi adalah alat, tangga menuju cita-cita Indonesia kuat dan sejahtera. Bicaranya muter-muter normatif kesana kemari, ga jelas, dan tidak meyakinkan. Hatta menambahkan bahwa demokrasi bukan sekedar alat, tapi sistem yang harus ditegakkan untuk mengantar pada kemakmuran. Hatta juga mengatakan bahwa hukum harus berlaku sama, jangan tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Ngelantur sedikit dulu tentang komentar Hatta. Sepanjang debat, beberapa kali Hatta menyatakan pentingnya persamaan hukum. Dan, buanyak banget orang yang mencecar komentar Hatta ini, dengan mengingatkan ke kasus tabrakan anaknya yang berakhir dengan anaknya tidak dipenjara. Kalau opini saya pribadi mah, ini masyarakat ga rasional. Pada kasus tersebut, korban setuju berdamai. Kenapa harus memperpanjang masalah kalau korban saja mau damai?

Jika ga suka karena mengasumsikan damai itu pasti karena disogok uang banyak, apa bedanya dengan Ahmad Dhani yang membiayai keluarga korban hingga korban mau damai, kok ketika Ahmad Dhani membiayai keluarga korban dianggap bertanggungjawab dan Dul ga perlu dipenjara? Jika ga suka karena mengasumsikan damai itu pasti keluarga korban diancam, tahu dari mana, buktinya apa? Selain itu, seandainya orang-orang yang ga suka itu ada di posisi Hatta, apa mereka akan ingin mereka terus tetap diproses pidana sementara mereka telah berupaya keras minta maaf dan korban pun memaafkan ?

Seorang teman saya berkomentar, kasus Rasyid ini justru over blow up karena Hatta adalah menteri, dan saya setuju. Saatnya balik lagi ke acara debatnya.

Jokowi bilang, demokrasi adalah mendengar suara rakyat dan melaksanakannya. Oleh karena itu, kami blusukan kemana-mana. Pemerintahan bersih dibangun lewat dua hal, pembangunan sistem seperti e-government dll, dan pola rekrutmen yang benar lewat seleksi dan promosi terbuka. Penjelasannya enak, kalem, impresif. JK menambahkan, negara harus menghormati HAM, dan hukum harus diperkuat.

Segmen 1: Jokowi  – JK menang telak. Wota vs Wila 0-1

Segmen 2: Pertanyaan Moderator terkait Visi Misi

Jokowi-JK ditanya pandangan tentang pembangunan jangka pendek, menengah, dan panjang. Jokowi menjawab dengan muter-muter dan ga jelas maksudnya ngomong apa. JK menjawab dengan sama ga jelasnya. Jokowi lalu menimpali dengan rencana itu penting, tapi yang lebih penting adalah eksekusi. Good point di akhir dari Jokowi, sayang saya ga nangkep dia punya rencana, prinsip, dan ideologi apa padahal dia nyebut-nyebut soal ideologi.

Prabowo-Hatta ditantang untuk meyakinkan masyarakat sebagai pemimpin yang adil, menjamin hukum, HAM, dan memberantas korupsi. Prabowo mengatakan bahwa gaji aparat negara harus dinaikkan, pendidikan harus ditingkatkan, dan Prabowo setuju dengan Jokowi bahwa rekrutmen harus sistem terbuka. Hatta menambahkan bahwa KPK harus diperkuat. Saya ga terlalu yakin kalau gaji aparat negara naik maka hukum lebih terjamin. Komentar lain pasangan ini juga terlalu normatif.

Segmen 2: Jelek semua. Wota vs Wila tetap 0-1

Segmen 3: Mengenai Parpol Pendukung dan Perilaku Koruptif, serta Penegakan Bhinneka Tunggal Ika

Pertanyaan 1 moderator: Bagaimana membangun pemerintahan yang bersih tanpa tuntutan balas budi (duit) dari parpol?

Prabowo mengatakan, syarat parpol bergabung menjadi mitranya adalah sepakat untuk tidak mengambil APBN/APBD sesenpun. Dana partai harus berasal dari pengorbanan kader partai. Hatta menambahkan bahwa kabinet harus diisi dari orang-orang ahli, bukan bagi-bagi kursi. Komentar Hatta saya sangat suka, hal ini sekaligus janji yang merupakan counter dari isu Prabowo akan bagi-bagi jatah kursi menteri. Gaya berpikir Hatta pun terlihat struktur dan runut pada saat ini.

Jokowi mengatakan perlu ada pola rekrutmen baru seperti dia yang dijadikan capres karena rekam jejaknya. Jokowi menyebutkan soal kabinet ramping yang bukan bagi-bagi kue, dan ia membuka rekening untuk sumbangan rakyat. JK menambahkan tentang perbaikan sistem demokrasi politik agar lebih efisien. Saya ngerasa rada bingung sama jawaban Jokowi, tentang kabinet bukan bagi-bagi kue oke, tapi kenapa menjadikan sumbangan rakyat sebagai poin andalan? Saya lebih sreg dengan konsep pengorbanan kader partai. Dan jawaban JK normatif sekali.

Pertanyaan 1, menang Wota. Wota vs Wila 0.5 – 1

Pertanyaan 2 moderator: Bagaimana penegakan prinsip Bhinneka Tunggal Ika?

Jokowi bilang, keberagaman sudah final. Ada contoh konkret tentang dia mengangkat lurah Susan, meski ditentang kelompok agama tertentu, tapi karena memang Susan dipilih karena kompetensinya, dia tetap yakin dengan lurah Susan. JK menambahkan rekam jejaknya mengatasi konflik Poso. Jawaban yang bagus sekali dari JK.

Prabowo bilang, ia sudah terbukti jelas dan tegas, terbukti berani mengajukan Ahok yang minoritas menjadi Wagub. Dalam kehidupan sehari-hari pun ia berusaha memelihara Bhinneka Tunggal Ika. Hatta menambahkan blablabla tentang multikultural, entahlah dia ngomong apa.

Pertanyaan 2, menang Wila. Wota vs Wila 0.5 – 1.5

Segmen 4: Pasangan Capres-Cawapres Saling Bertanya

Prabowo menanyakan masalah pilkada langsung dan pemekaran daerah yang membebani anggaran. Jokowi menjawab pilkada langsung adalah yang diinginkan rakyat saat ini, dan agar efisien harus dilakukan serentak. Pemekaran tidak masalah untuk daerah yang membutuhkan, tapi jika pemekaran bermasalah, dapat disatukan kembali. JK menambahkan bahwa pilkada langsung dijamin UU, dan pemilihan oleh DPR belum tentu lebih efisien.

Prabowo bertanya lagi, bagaimana kriteria daerah yang bisa dimekarkan? Hatta menambahkan dia setuju dengan JK tentang pelaksanaan pilkada serentak. Jokowi menjawab banyak yang harus dikalkulasi, ini-inu-anu, JK lalu menambahkan inti asas pokoknya tentang pemekaran adalah masalah jangkauan pemerintah kepada rakyatnya, bukan geografis, jumlah penduduk, dll.

Jawaban Jokowi sebenernya biasa banget (kalau bukan butut – kalau setelah dimekarkan mau disatukan lagi itu kaya gimana fungsi planning dan assesmentnya?), untung ada JK menyelamatkan dengan jawaban-jawaban yang keren. Skor setengah saja karena JK keren dan Jokowi sebagai capresnya malah tidak. Wota vs Wila 0.5 – 2.

JK bertanya tentang bagaimana Prabowo akan menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu? Prabowo menjawab, “HAM yang paling dasar adalah hak hidup. Pemerintah harus melindungi rakyatnya dari ancaman di luar dan di dalam. Sebagai abdi negara yang telah bertugas bertahun-tahun, saya telah mencegah kelompok-kelompok yang mengancam hidup orang tak bersalah. Saya mengerti maksud pertanyaan bapak, apakah bisa pelanggar HAM melindungi HAM? Bapak tidak mengerti, kami harus mengambil keputusan yang sulit. Tapi saya sudah melaksanakan tugas sebaik-baiknya, selebihnya atasan yang menilai. Nurani saya bersih, saya pembela HAM paling keras di negeri ini.”

Jokowi menanyakan, apa konkretnya pelaksanaan menjunjung HAM? JK menambahkan, bagaimana penilaian atasan? Prabowo menjawab, konkretnya adalah pendidikan di semua sektor. Tentang penilaian atasan, Prabowo mempersilakan JK menanyakan langsung ke atasannya saat itu. Hatta menambahkan, jika terpilih, mereka akan sangat serius mencermati diskriminasi di negeri ini.

Prabowo menskak-mat banget dengan topik HAM ini. Dia bisa memposisikan diri bersih, dan seolah mempermalukan JK karena atasan Prabowo saat itu, Wiranto, sekarang berpihak pada JK. Wota poin penuh, Wota vs Wila 1,5 – 2.

Segmen 5: Cara Menghadapi Tantangan

Moderator: Bagaimana menghadapi masalah faktual seperti pemda yang tidak kompak dengan pusat dan masalah kebijakan yang tumpang tindih?

Prabowo mengatakan, kuncinya adalah menentukan sektor yang menjadi prioritas yang mempengaruhi sektor lain karena tidak bisa membenahi semua sektor sekaligus. Management by objective. Menurutnya, kuncinya adalah sektor pangan, energi, infrastuktur, dan reformasi birokrasi. Kalau rakyat bisa melihat bahwa pemerintah punya niat yang baik, punya keinginan memperbaiki kehidupan rakyat, maka rakyat pun akan mendukung, dan dukungan rakyat akan melunakkan hati pemerintah (daerah) yang belum tahu apa yang harus dilakukan. Hatta menambahkan, oraganisasi harus efisien jangan gemuk, dan semua sasaran harus terukur.

Jawaban yang excellent menurut saya. Jawaban ini menunjukkan Prabowo-Hatta punya konsep dan ide yang jelas mau bagaimana membangun negara ini. Mas Hatta yang menyinggung soal pencapaian harus terukur pun tepat banget.

Jokowi mengatakan, bisa dilakukan politik anggaran. Pemerintah daerah yang sejalan dengan pemerintah pusat dapat diberi reward, sementara yang tidak kompak dapat ditahan anggarannya. Sedangkan untuk masalah kebijakan yang tumpang tindih, dapat diatasi dengan penerbitan kebijakan lewat satu pintu, misalnya lewat setneg. Selain itu untuk membangun kualitas birokrasi dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem, misalnya membuat e-government, yang sebenarnya mudah untuk dibuat tinggal mau atau tidak mau. JK menambahkan, tugas pemimpin membuat semuanya menjadi baik. Harus bisa mengkordinasikan daerah, karena saat ini Indonesia sudah desentralisasi.

Jawaban yang juga bagus dari Jokowi-JK. Berbeda dengan jawaban Wota, jawaban pasangan Wila teknis dan praktis. Sayangnya, justru karena jawabannya teknis, saya ga bisa ngeliat konsep/falsafah besar di baliknya. Somehow saya ngerasa, jawaban Prabowo-Hatta malah lebih tepat ke inti masalah, dan lebih mencuri hati saya. Coming from behind, Wota vs Wila 2,5 – 2.

Segmen 6: Penutup

Ga ada yang menarik disini. Skor akhir, Wota vs Wila 2,5 – 2.

Epilog

Debat kemarin sama sekali tidak membuat saya yakin mau milih yang mana. Masing-masing orang dari 4 tokoh yang terlibat punya momen mencuri perhatiannya masing-masing. Perbedaan skor saya untuk kedua pasang calon terlalu tipis, jadi 4 debat berikutnya akan saya tunggu. Tapi jika harus milih hari ini, preferensi saya condong ke Prabowo-Hatta.

Baca juga review saya tentang debat capres yang lain:

Debat 2. Lebih Seru, Prabowo Kembali Menang Tipis Debat Kedua

Debat 3. Kehilangan Momentum, Jokowi Kalah Debat Ketiga

2 thoughts on “Coming From Behind, Prabowo-Hatta Unggul Tipis Debat Pertama

  1. Ping-balik: Lebih Seru, Prabowo Kembali Menang Tipis Debat Kedua | rizasaputra

  2. Ping-balik: Kehilangan Momentum, Jokowi Kalah Debat Ketiga | rizasaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s