Lebih Seru, Prabowo Kembali Menang Tipis Debat Kedua

Preamble

Semalam telah dilakukan debat capres kedua dengan tema Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial. Saya, sekali lagi mau mencoba mereview dua capres yang ada berdasarkan debat kemarin. Baca juga review saya tentang debat capres yang lain:

Debat 1. Coming From Behind, Prabowo-Hatta Unggul Tipis Debat Pertama

Segmen 1: Penyampaian Visi Misi

Jokowi memulai penyampaian visi misi dengan bercerita tentang pertemuannya dengan berbagai orang kecil di berbagai daerah, Manado, Jawa Barat, dst yang menitipkan pesan tentang pembangunan ekonomi yang lebih baik. Visinya adalah Ekonomi Berdikari, yaitu ekonomi ditujukan untuk kemakmuran rakyat. Caranya melalui 2 hal: Pertama, revolusi mental. Membangun manusia Indonesia yang berdaya saing, dengan kartu Indonesia Sehat dan kartu Indonesia Pintar. Kedua, pemerataan. Pembangunan koperasi, UMKM, dll akan dimulai dari daerah.

Prabowo memulai dengan mempertanyakan anggaran untuk melaksanakan berbagai program. Ia mengutip pernyataan ketua KPK bahwa ada kebocoran anggaran 7200 trilyun rupiah, dan menurut tim pakarnya, ada kebocoran anggaran 1000 trilyun. Kebocoran itu yang akan ditangani untuk hasilnya disebarkan dari ibukota ke desa-desa, dipakai untuk meningkatkan penghasilan rakyat hingga 6 juta per bulan, menambah sawah, lahan bioetanol, membangun jalur kereta api, pelabuhan, dll.

Saya, merasa landasan visi nya Jokowi lebih tepat. Saya setuju 100%, problemnya memang di mental dan di pemerataan, dan itu yang harus diperbaiki. Sayang, mas Joko kurang mengelaborate tentang pembangunan ekonominya. Saya ga merasa teryakinkan bahwa selain kartu-kartu, mas Joko tahu apa lagi yang mau dia lakukan. Mas Bowo malah yang kelihatan clear apa yang mau dilakukan. Tanpa contekan, dia bisa mengatakan apa-apa saja dengan detail berikut angka misi ekonomi calon pemerintahannya.

Mungkin ada yang komentar, banyak amat janji mas Bowo, yakin tuh bisa ngelakuin? Kalau menurut saya, masalah negara memang sangat besar dan kompleks, dan wajar janjinya banyak karena memang sangat banyak hal yang harus dilakukan, dan orang yang bisa membuat program dengan banyak dan detail mestinya sudah melakukan kalkulasi dan yakin bisa melakukannya. Khusnudzon aja.

Segmen 1: Draw. Mas Bowo vs Mas Joko 0,5 – 0,5

Segmen 2: Penajaman Visi-Misi

Pertanyaan moderator untuk Prabowo: Kenapa harus ekonomi kerakyatan dan bagaimana kebijakannya? Investasi Indonesia didominasi oleh penanaman modal asing padahal ada pelaku ekonomi lain seperti BUMN, UKM, koperasi, dll, gimana tuh?

Prabowo menjawab ekonomi kerakyatan adalah ekonomi jalan tengah. Disesuaikan dengan amanat konstitusi UUD 45, sumber ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikuasai pemerintah. Pemerintah harus turun tangan memberi perlindungan untuk rakyat, tidak hanya sekedar menjadi wasit. Ini yang membedakan dengan ekonomi neolib. Di sisi lain, penanaman modal asing boleh silakan tapi tidak boleh mematikan ekonomi rakyat. Untuk memperkuat rakyat, koperasi, UKM akan diperkuat dengan diberi kucuran dana masif. Saat ini pemerintahan SBY telah memulai hal ini dengan PNPM dll, dan Prabowo akan melipatgandakan kucuran dana pemerintah ini.

Pertanyaan moderator untuk Jokowi: Kenapa harus ekonomi berdikari dan bagaimana kebijakannya? Bagaimana sikap Anda terkait hutang negara?

Mas Joko menjawab bahwa dia sudah menjalani dan membuktikan membangun pasar tradisional dan ruang untuk PKL. Pengalaman dia menunjukkan bahwa yang kecil-kecil ini harus diurus. Mas Joko lebih lanjut menjelaskan PKL harus diberi tempat yang baik, bersih, tidak becek, zoning buah/sayur, dan PKL harus diberi space dalam perencanaan kota. Terkait hutang, dengan dilakukan efisiensi APBN, dan pembangunan e-budgeting, e-purchasing, e- e- e- lain maka permasalahan hutang bisa diselesaikan.

Gosh. Di saat mas Bowo berkilauan dengan memberi gambaran jelas bagaimana dia mau menyeimbangkan investasi asing dengan usaha lokal sambil memberi jawaban (yang bagi saya sangat menjawab) terhadap kritik bahwa visi ekonomi mas Bowo sangat liberal dan juga masih memberi ruang apresiasi untuk pemerintahan sekarang, mas Joko malah ngelantur dengan jawaban selevel Dirut PD Pasar, atau paling banter level walikota. Masih ditambah dengan gaya mas Joko yang terkesan sangat menyepelekan dan menggampangkan penyelesaian masalah hutang negara.

Segmen 2: Mas Bowo menang telak. Mas Bowo vs Mas Joko 1,5 – 0,5

Segmen 3: Pertanyaan Moderator

Q1: Apa yang salah dari anggaran yang besar untuk menghapus kemiskinan tapi kenyataannya tingkat kemiskinan masih sangat tinggi? Apa kebijakan soal penciptaan lapangan kerja dan pengupahan?

Mas Joko: Pemerintah harus membangun program khusus, bukan hanya disiapkan anggarannya, tapi dibangun sistemnya. Saat jadi walikota dan gubernur, konsentrasinya ke pendidikan dan kesehatan, karena keluhannya selalu disitu. Makanya wajib dibangun kartu sehat dan kartu pintar. Untuk ketenagakerjaan, investasi harus didorong ke daerah, jangan hanya di Jawa dan Sumatera. Infrastrukturnya harus disiapkan di daerah. Untuk pengupahan, saya sudah membuktikan bahwa saya gubernur pertama yang menaikkan UMP 44% meski diprotes pengusaha. Saya bergeming meski diprotes karena sudah 5 tahun tidak ada kenaikan signifikan.

Mas Bowo: Kemiskinan dan pengagguran adalah fokus kami. Strategi kami mengandalkan sektor pertanian, karena pertanian bisa menyerap banyak tenaga kerja dengan muncul hasil dalam waktu yang relatif singkat. Beras, jagung, bisa dipanen dalam beberapa bulan. Saat ini ada 77 juta hektar lahan rusak, yang dapat dikonversi jadi 2 juta hektar lahan sawah baru, dan 2 juta hektar lahan bioetanol. Dalam 5 tahun, bisa diserap 24 juta tenaga kerja. Orang yang tidak punya apa-apa, jadi punya penghasilan. Upah pun bisa naik karena terdapat kelebihan uang akibat peningkatan produktivitas. Masalahnya, meningkatkan produktivitas harus dengan strategi besar untuk hasil yang besar, tidak bisa bekerja sedikit-sedikit.

Saya sama sekali ga puas dengan jawaban mas Joko yang tidak terasa menjelaskan sama sekali kenapa kemiskinan masih banyak padahal anggaran besar, tapi, mas Bowo malah sama sekali tidak menyebut-nyebut hal ini dalam jawabannya. Terkait dengan penciptaan lapangan kerja, saya lebih suka jawaban mas Bowo. Mas Bowo punya fokus dan gambaran bagaimana dia mau meningkatkan lapangan kerja, dibanding jawaban mas Joko yang normatif.

Untuk pengupahan, saya ga puas sih dengan jawaban mas Joko. Oke dia pernah meningkatkan UMP secara signifikan, tapi apa rasionalisasinya dibalik peningkatan besar itu? Kalau alasannya hanya karena sudah 5 tahun tidak ada peningkatan, buat saya itu bukan alasan. Peningkatan upah itu sesuatu yang harus diraih, bukan sesuatu yang tinggal ditunggu setelah sekian tahun tiba-tiba ada hak peningkatan upah.

Q1 unggul mas Bowo, tapi karena saya ga terlalu puas dengan jawabannya, setengah poin aja. Mas Bowo vs Mas Joko 2 – 0,5

Q2: Pertumbuhan penduduk sangat tinggi, tapi kasus kematian ibu saat melahirkan semakin naik, bagaimana kebijakan mengenai pertumbuhan penduduk dan akses kesehatan khususnya bagi perempuan?

Mas Bowo: Strateginya dengan menutup kebocoran, hingga terdapat uang cash untuk kesehatan dan pendidikan. Program KB bisa ditingkatkan, dan bisa investasi di puskesmas dan posyandu, juga bisa menambah gaji dokter, perawat, bidan. Dari mana mendapat dana untuk menurunkan angka kematian ibu, investasi posyandu, puskesmas, dan menambah gaji tenaga kesehatan? Dari penghematan dan penutupan kebocoran anggaran negara. Dan harus dengan totalitas, dibangun irigasi, jalur kereta api, dll untuk meningkatkan roda ekonomi, hingga tersedia uang untuk diinvestasikan ke pendidikan dan kesehatan.

Mas Joko: Kita harus menggalakkan kembali program KB melalui BKKBN agar masyarakat sadar dua anak cukup. BKKBN harus diperkuat lagi anggarannya. Mengenai angka kematian ibu, saya tekankan lagi, anggarannya sebenarnya ada, tapi sistemnya tidak dibangun, tidak dikontrol di lapangan. Kalau nanti sudah ada kartu sehat, ibu-ibu bisa kontrol ke Puskesmas gratis. Sekali lagi, anggarannya ada, sistemnya yang harus dibangun.

Nah ini menarik. Mas Bowo bilang perlu produktivitas agar tersedia anggaran, mas Joko membantah dengan mengatakan bahwa anggarannya ada tapi sistemnya tidak dikontrol dengan benar. Kali ini, saya merasa lebih teryakinkan dengan jawaban mas Joko. Setidaknya, kalau mas Joko yang menangani, akan cepat ada program nyata untuk menangani pertumbuhan penduduk dan akses kesehatan. Apalagi mas Joko nyebut-nyebut BKKBN, berarti akan ada badan khusus yang mengelola jadi harusnya penanganan masalah pertumbuhan penduduk ini akan lebih fokus.

Btw, ngelantur sedikit sebelum ngitung skor. Ada banyak orang yang mengkritik mas Joko karena anaknya sendiri ada 3, padahal kata KB 2 anak cukup. Kalau menurut saya mah biar aja sih. Mungkin dulu mas Joko belum ada kesadaran, tapi sekarang mas Joko sudah tobat, kan bisa aja. Balik lagi, khusnudzon saja.

Ngelantur lagi. Mas Bowo lagi-lagi (dan sepanjang debat setelah segmen ini pun terus aja) ngomongin masalah kebocoran negara. Pemahaman saya, kebocoran negara yang dimaksud ini adalah opportunity cost yang hilang akibat salah kebijakan. Misalnya, akibat keberadaan Freeport dimana hasil eksploitasi SDA hampir semua masuk ke Freeport dan hanya sedikit sekali yang masuk kas pemerintah. Atau, kebijakan impor pangan karena salah perencanaan atau kalkulasi atau kordinasi. Ada yang bilang, Prabowo terus menyerang masalah kebocoran negara saat ini sebenarnya merupakan tamparan untuk cawapresnya sendiri, karena cawapresnya mas Bowo (mas HR) adalah Menko Perekonomian saat ini. Untuk hal ini, saya setuju. Poin mas Bowo di debat ini akan saya penalti -1,5 karena hal ini.

Kembali ke skor dari Q2, mas Joko menang. Mas Bowo vs Mas Joko 2 – 1,5. Lalu, mas Bowo penalti -1,5, jadi mas Bowo vs mas Joko 0,5 – 1,5

Segmen 4: Saling Tanya Antar Capres

Q1. Mas Joko ke mas Bowo

Mas Joko: Bagaimana pandangannya terkait DAU dan DAK?

Mas Bowo: Dana alokasi umum dan khusus harus ditingkatkan, tapi ini hanya bisa dilakukan kalau penghasilan negara bertambah. Saya telah berjuang bertahun-tahun agar penghasilan negara tidak bocor. Ini inti dari masalah, bagaimana caranya kita mengamankan kekayaan negara.

Saya rasa jawaban mas Bowo acceptable, tapi pertanyaannya juga gitu doang sih. Mas Bowo vs Mas Joko 1,5 – 1,5

Q2. Mas Bowo ke mas Joko

Mas Bowo: Kondisi ekonomi dunia tidak menguntungkan, pertumbuhan ekonomi dunia hanya 3,3% dan Indonesia hanya 5%, apa target pertumbuhan ekonomi Indonesia Bapak? Bagaimana strategi mencapai target tersebut?

Mas Joko: Pertumbuhan ekonomi kita bisa 7% dengan catatan iklim investasi dan perizinan benar-benar terbuka dan membuka kesempatan bagi investor lokal. Kedua, perizinan harus dipermudah. SIUP, dll bisa online. Lalu, produk-produk dari desa harus diberi kesempatan berkompetisi di dunia. Dubes-dubes kita juga harus menjadi agen marketing negara. Saya sudah buktikan sebagai pelaku industri kecil, semua bisa dilakukan asal negara hadir.

Bravo mangstap well done, mas Joko. Mas Bowo vs Mas Joko 1,5 – 2,5

Q3. Mas Joko ke mas Bowo

Mas Joko: Jika kita punya uang banyak, selama 2 tahun ini kita mengalami defisit perdagangan dan anggaran, kemana larinya?

Mas Bowo: Terjadinya defisit anggaran, karena terjadi kebocoran. Itu esensinya. Contoh, harga minyak dunia naik, beban impor kita jadi sangat tinggi. Defisit perdagangan sama, anggarannya kan ujung-ujungnya dari APBN. Ini yang saya perjuangkan. Ketua KPK bilang bocornya 7200 trilyun, angka saya 1104 trilyun. Jika kebocoran itu sudah diatasi, barulah kita jadi macan Asia kembali.

Untuk defisit anggaran, oke boleh lah. Untuk defisit perdagangan, saya ga merasa terjawab dengan jawaban mas Bowo. Setengah poin aja. Mas Bowo vs Mas Joko 2 – 2,5

Q4. Mas Bowo ke mas Joko

Mas Bowo: Apakah setuju wajib belajar 12 tahun meski akan membebani anggaran 40 trilyun?

Mas Joko: Di depan sudah saya sampaikan, pembangunan manusia utamanya di bidang pendidikan. Harus ada evaluasi dan perubahan. Di tingkat SD harusnya 80% pendidikan karakter, 20% pengetahuan. SMP 60% karakter, 40% pengetahuan. SMA baru 20% karakter dan 80% pengetahuan. Pendidikan adalah hal utama yang tidak bisa ditawar-tawar. Jika kita bisa konversi BBM ke BBG saja itu sudah menghemat 70 trilyun, masukkan saja ke anggaran pendidikan.

Sebenarnya, jawaban mas Joko tentang wajib belajar dan anggarannya sudah bagus banget, tapi…. Pas SD 80% karakter dan 20% pengetahuan? Dan SMP masih dominan karakter? Mau kapan Indonesia maju dan mandiri teknologi dan ilmu sosial? Menurut saya, pendidikan karakter formal (lewat pelajaran agama/PPKn/dll) itu perlu, tapi ga perlu dominan. Pendidikan karakter itu justru dibentuk dari hal-hal informal (kecuali agama ya, karena kalau ilmu agama ada banyak hal yang harus dipelajari formal seperti fiqh, ilmu tajwid, dll). Jadi, setengah poin aja untuk mas Joko. Mas Bowo vs Mas Joko 2 – 3

Q5. Mas Joko ke mas Bowo

Mas Joko: Bagaimana cara meningkatkan peran TPID?

Mas Bowo: Singkatan apa itu TPID?

Mas Joko: Tim Pengendalian Inflasi Daerah

Mas Bowo: Ya, saya kan tidak tahu semua singkatan. Untuk masalah itu, itu kan tugas kepala daerah

Mas Bowo menjawab pertanyaan ini hanya dalam 40 detik. Dan yah, emang pertanyaannya aneh. Saya pun baru denger ada TPID. Dan jawaban mas Bowo juga masuk akal-masuk akal aja. Mas Bowo vs Mas Joko 3 – 3

Q6. Mas Bowo ke mas Joko

Mas Bowo: Tantangan negara kita sangat besar, bagaimana pemaparan bapak soal infrastruktur?

Mas Joko: Saya sudah paparkan sedikit tentang infrastruktur, tapi belum dijelaskan. Yang penting adalah tol laut, sehingga kapal dari barat ke timur selalu ada bolak-balik. Saat ini harga semen bisa 50-60 ribu di Jawa, tapi bisa 500 ribu di Papua. Jika deep sea port dibangun di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Papua, akan memberi rasa keadilan agar harga semen sama. Saya, jika mengirim kontainer dari Jawa ke Papua masih lebih mahal daripada dari Jawa ke Eropa karena ga ada kapal yang bolak-balik. Double track kereta api juga penting untuk dibangun dimana-mana, karena ini angkutan yang sangat murah. Jadi infrastruktur penting bukan hanya untuk distribusi logistik tapi juga angkutan orang.

Jawaban yang bagus sekali dari mas Joko. Mas Bowo vs Mas Joko 3 – 4

Skor akhir segmen 4: Mas Bowo vs Mas Joko 3 – 4

Segmen 5: Debat Capres

Topik 1. Ekonomi Kreatif

Mas Joko: Bagaimana strategi mengembangkan ekonomi kreatif?

Mas Bowo: Ekonomi kreatif penting, karena anak muda kita sangat banyak. Siapa pun yang memimpin harus berinvestasi besar-besaran di bidang pendidikan. Saya sangat mendukung setiap program di bidang ekonomi kreatif. Di sini mungkin keunggulan bangsa kita, kita punya bakat di bidang-bidang seni, bisa dikembangkan untuk mendapat devisa yang banyak. Perkembangan abad 21 mengarah ke teknologi maya.

Mas Joko: Musik, animasi, video, ini belum diberikan ruang oleh pemerintah. Jika diberi dukungan pemerintah, ekonomi kreatif bisa dikembangkan. Dari seni pertunjukkan, dengan manajemen panggung dan promosi yang baik bisa kita tunjukkan ke dunia. Animasi kita banyak kita ekspor ke luar. Banyak anak muda berkecimpung di bidang ini.

Mas Bowo: Saya dinasehati tim saya, jangan pernah setuju apa pun yang dikatakan Jokowi. Tapi saya bukan politisi profesional, saya tidak mau dengar penasihat saya. Saya setuju dengan Jokowi, karena itu ide yang bagus. Masa ide yang bagus tidak dilakukan?

(Mas Joko nyengir, mas Bowo lalu menghampiri mas Joko sambil ngajak salaman dan berpelukan)

Mas Bowo lagi: Kalau ekonomi kreatif, saya hanya punya anak satu. Dan anak saya kerja di bidang ekonomi kreatif. Sebagai desainer, karya anak saya sudah muncul di mancanegara. Saya dukung saudara Joko Widodo.

Hahahaha, bagian ini lucu memang. Mas Joko sukses besar menunjukkan mas Bowo flop di bidang yang gaul, kekinian dan anak muda banget seperti ekonomi kreatif, tapi jalan keluar mas Bowo kalau menurut saya sangat elegan, santun, dan seperti sikap negarawan sejati. Jauh dari kesan bahwa mas Bowo sosok yang emosional. Poin 1 untuk mas Joko karena sukses menyerang dengan tepat dan menunjukkan pengetahuannya, poin setengah untuk mas Bowo yang memberi contoh yang baik (menurut saya). Mas Bowo vs Mas Joko 3,5 – 5

Topik 2. ASEAN Economic Community

Mas Bowo: Terkait dengan ASEAN Economic Community, bagaimana kita menyiapkan diri untuk pasar bebas tahun 2015?

Mas Joko: Ekonomi dan enterpreneur kita tumbuh baik, keberanian menembus pasar global sudah ada dari 20-30 tahun lalu, tidak ada masalah. Hanya pemerintah harus masuk pasar asing lebih dulu, sementara pasar domestik diproteksi tidak bisa dimasuki asing. Daerah bisa memberi izin dengan cepat untuk investor lokal, tapi memberi barrier untuk investor asing. Saya rasa semua negara melakukan itu. Melakukannya tidak perlu dengan instruksi terang-terangan, tapi dengan nasionalisme dan ekonomi berdikari, kita bisa melakukan itu.

Mas Bowo: Jika ada perusahaan asing ingin membuka cabang bank atau penerbangan di Indonesia, apa itu tidak merugikan kepentingan nasional kita?

Mas Joko: Sebagai pemerintah, kita harus membuat regulasi yang memberi penghalang agar asing tidak mudah masuk. Jika kita mau membuka cabang bank di negara tetangga, sangat sulit sekali. Yang penting ekonomi rakyat. Jangan sampai ada yang masuk ke ruang udara kita tapi yang untung pengusaha asing. Kita bisa memberi hambatan dengan berbagai regulasi pemerintah, bisa dari dipersulit izin, dinaikkan bea masuk, dll.

Sekilas, terlihat bagus dan nasionalis jawaban mas Joko. Masalahnya, negara-negara ASEAN termasuk Indonesia sudah bersepakat untuk membentuk ASEAN Economic Community (AEC), dimana salah satu karakteristiknya adalah Single Market and Production Base, yang diantaranya ditandai dengan: aliran bebas barang, jasa, investasi, modal, dan pekerja. Coba baca di ASEAN Economic Community Blueprint.

Suka atau tidak, AEC ini sudah disepakati dan akan dilakukan tahun depan. Keinginan mas Joko untuk menghambat ini-itu, akan secara langsung berseberangan dengan karakteristik AEC. Dari topik ini, saya jadi agak meragukan pemahaman mas Joko terkait ekonomi internasional. Mas Bowo menang. Mas Bowo vs Mas Joko 4,5 – 5.

Topik 3. Program Kucuran Dana 1 Milyar per Desa

Mas Joko: Menurut UU saat ini, suatu desa bisa mendapat 1,2 – 1,4 milyar tergantung tingkat kemiskinannya. Mengapa di program mas Bowo hanya 1 milyar per desa?

Mas Bowo: Sejarahnya, dulu asosiasi desa datang ke DPR selama 7 tahun berturut-turut untuk menuntut hal itu, tapi selalu tidak ada aturannya. Akhirnya, tahun lalu saya membuat deklarasi program 1 milyar per desa. Hal ini memacu para fraksi untuk menggolkan UU desa pada tahun ini. Jadi, programnya sudah ada sebelum ada UU-nya. UU harus diikuti dengan aturan pemerintah. Jika bisa diatas 1 milyar, alhamdulillah. Kalau kurang, bisa kita tambahkan.

Mas Joko: Artinya bukan 1 milyar ya pak? Berarti visi misi bapak berasal dari undang-undang kan mas Bowo?

Mas Bowo: Buat saya tidak penting visi misinya dari mana, yang penting uangnya sampai ke desa. Perkara sudah ada UU desa itu alhamdulillah. Deklarasi saya itu komitmen, untuk menjamin pemerintahan akan bekerja keras untuk melaksanakan UU desa.

Clear jawaban dari mas Bowo, memang alhamdulillah saja jika sudah ada UU yang bisa memberi jumlah lebih besar untuk desa. Selain itu, saya juga sama, ga mempermasalahkan visi misinya dari mana. Mas Bowo vs Mas Joko 5,5 – 5.

Topik 4. Kontrak Asing yang Merugikan Indonesia

Mas Bowo: Bagaimana dengan kontrak asing yang merugikan Indonesia, apa dibiarkan saja?

Mas Joko: Kita harus menghormati kontrak yang ada, tidak bisa ujug-ujug kita ambil lagi. Ini bisa mempengaruhi kepercayaan terhadap Indonesia. Tapi kalau sudah selesai, harus dievaluasi lagi, apakah diteruskan kontraknya, atau diambil alih. Yang penting kalkulasi, agar sesuai UUD 45, kekayaan alam itu sepenuh-penuhnya untuk kemakmuran rakyat, harus menguntungkan negara, bukan negara asing.

Mas Bowo: Bagaimana dengan kontrak yang merugikan tapi waktunya masih panjang, misal 20 tahun lagi? Apa tidak sebaiknya di-renegoisasi?

Mas Joko: Saya kan belum buka kontraknya. Kalau setelah saya buka kontraknya ada peluang renegoisasi, ya kita lakukan. Jika tidak ada klausul renegoisasi, kita harus hormati kontrak yang ada. Yang penting setiap kontrak harus diawasi agar jangan sampai negara dirugikan dan rakyat tidak mendapat keuntungan. Kontrak yang kedepan akan habis harus dikalkulasi dari sekarang.

Ini keliatannya mas Bowo lagi mau mancing masalah nasionalisasi perusahaan asing hehe. Tapi dalam kasus ini, saya berada di pihak yang sama dengan mas Joko, jangan nasionalisasi sembarangan, hormati aja kontrak yang ada, dan atasi kerugian yang ada sekarang dengan cara yang lebih halus. Mas Bowo vs Mas Joko 5,5 – 6.

Segmen 6. Pernyataan Penutup

Mas Bowo membuat pernyataan basa-basi biasa, diakhiri dengan kalimat bahwa agar rakyat bisa sejahtera adalah cita-cita Prabowo-Hatta. Kami akan menghormati keputusan rakyat, kami mohon do’a restunya.

Mas Joko pun berbasa-basi, diakhiri dengan kalimat, saya Joko Widodo, lahir, besar, dan dididik di sini, dan saya seutuhnya adalah Indonesia. Saya tegaskan, saya dan Pak JK siap memimpin Indonesia, dan saya hanya tunduk pada konstitusi dan kehendak rakyat. Salam dua jari.

Ada yang menarik buat saya di sini. Mas Bowo memohon do’a restu rakyat, dan mengatakan akan menghormati putusan rakyat. Sementara, mas Joko membuat penegasan bahwa dia siap memimpin, dan mengakhiri dengan salam dua jari. Untuk sebagian orang, gaya mas Joko bisa dilihat sebagai gaya orang yang sangat percaya diri, dan memang seharusnya begitu. Tapi, karena ini review saya, penilaiannya sesuai selera saya hehe, dimana saya mah merasa sikap yang ditunjukkan mas Bowo lebih elegan dan terasa seperti negarawan. Kalau lagi nyari Indonesian Idol boleh lah (harus malahan) untuk bersikap pede dan ego-sentris, tapi ini lagi nyari presiden, sikap santun dan rendah hati rasanya lebih oke.

Poin terakhir dari pernyataan tertutup, jatuh untuk mas Bowo. Skor akhir, Mas Bowo vs Mas Joko 6,5 – 6.

Epilog

Sebetulnya agak sayang debat kemarin ada banyak aspek ekonomi yang tidak terbahas seperti masalah mata uang, dll, pembahasan tentang sektor penting seperti pertanian, pemerataan dll pun tidak terlalu detail, tapi mau gimana lagi waktunya memang terbatas sementara ekonomi adalah aspek yang sangat luas. Namun, dari debat kemarin, saya mendapat gambaran bahwa secara umum kedua capres sama aja dan seimbang dalam penguasaan aspek ekonomi. Masing-masing ada aspek ekonomi yang dikuasai, dan masing-masing ada aspek ekonomi yang flop.

Meski relatif seimbang, secara skor lagi-lagi Prabowo berhasil unggul tipis dari Jokowi seperti debat pertama. Yes, saya sadar saya ngasih skor 1,5 poin untuk mas Bowo pada debat ini hanya karena gesturnya (mengatakan setuju dan memeluk Jokowi, dan kalimat penutup yang lebih santun). Tapi, saya juga ngasih penalti ngurangin 1,5 poin untuk mas Bowo, yang mana penaltinya mungkin bisa dihapus kalau nanti ada klarifikasi yang meyakinkan dari pasangan Prabowo-Hatta.

Dari dua debat capres yang telah dilakukan, preferensi dan opini saya udah mulai agak terbentuk sebenernya. Tapi, karena perbedaan skor di dua debat pertama ini sangat tipis, saya masih akan ngikutin dulu debat-debat berikutnya.

Baca juga review saya tentang debat capres yang lain:

Debat 3. Kehilangan Momentum, Jokowi Kalah Debat Ketiga

2 thoughts on “Lebih Seru, Prabowo Kembali Menang Tipis Debat Kedua

  1. Ping-balik: Coming From Behind, Prabowo-Hatta Unggul Tipis Debat Pertama | rizasaputra

  2. Ping-balik: Kehilangan Momentum, Jokowi Kalah Debat Ketiga | rizasaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s