Kehilangan Momentum, Jokowi Kalah Debat Ketiga

Preamble

Semalam telah dilakukan debat capres yang ketiga dengan tema Politik Internasional dan Ketahanan Nasional. Saya nonton di YouTube jadi lebih santai nontonnya dan bisa lebih melihat ulang pernyataan yang kurang jelas. Anyway, sebelum mulai masuk ke reviewnya, baca juga review saya tentang debat-debat sebelumnya:

Debat 1. Coming From Behind, Prabowo-Hatta Unggul Tipis Debat Pertama

Debat 2. Lebih Seru, Prabowo Kembali Menang Tipis Debat Kedua

Segmen 1: Pemaparan Visi Misi

Ada 2 hal yang dibawa oleh mas Bowo:

  1. Politik luar negeri adalah cerminan keadaan dalam negeri. Politik luar negeri tidak akan berarti kalau kekuatan dalam negeri kita lemah. Jika rakyat kita serba cukup dan sejahtera, ketahanan kita akan kuat. Ketahanan, keamanan dan keselamatan sosial terletak pada kesejahteraan rakyat. Tidak mungkin kita jadi negara terhormat kalau rakyat kita miskin. Ini menjadi dasar politik luar negeri mas Bowo. Masalah dalam negeri harus dibereskan, ekonomi kita harus kuat, kekayaan harus kita amankan, baru kita perkuat semua sendi keamanan nasional, dan dengan demikian kita akan disegani semua negara.
  2. Intinya adalah, kita tidak ingin punya musuh. Kita ingin damai dengan semua orang, tapi kita cinta kemerdekaan kita. Tidak sejengkal tanah pun akan kita lepas. Kita akan pertahankan Indonesia sampai titik darah penghabisan.

Sedangkan mas Joko, menyebutkan bahwa prinsip dasar politik luar negeri kita adalah politik bebas aktif. Ada 4 prioritas pemerintahan mas Joko:

  1. Perlindungan WNI, terutama terkait TKI. Mas Joko juga menyampaikan dukacita atas kecelakaan kapal TKI di perairan Malaysia
  2. Perlindungan SDA maritim dan perdagangan
  3. Produktivitas dan daya saing
  4. Keamanan regional kawasan dan menjaga ketertiban dunia. Disini, Jokowi JK punya komitmen mendukung penuh Palestina menjadi negara merdeka, berdaulat, dan menjadi anggota penuh PBB.

Untuk kepentingan tersebut, ada 3 strategi diplomasi yang akan dikerjakan.

  1. Antar pemerintah antar negara
  2. Antar pelaku bisnis dengan pelaku bisnis antar negara
  3. Antar masyarakat antar negara

Dan politik luar negeri di atas perlu didukung ketahanan nasional yang kuat lewat:

  1. Kesejahteraan prajurit dan keluarganya harus diurus
  2. Modernisasi alat-alat pertahanan termasuk pertahanan cyber dan pertahanan hybrid
  3. Modernisasi dan perkuat industri pertahanan

Terakhir, mas Joko menambahkan penutup bahwa pergeseran geopolitik dari Barat ke Asia harus kita hadapi karena inilah kesempatan kita jadi negara besar. Ke depan kita harus menangkan pertarungan ini, di samudra, di maritim. Kita ingin jadi poros maritim dunia, dan menang di laut. Kita ingin negara ini berwibawa dan dihormati.

Saya rasa strategi welfare state nya mas Bowo sungguh menarik. Dengan fokus pada kestabilan dalam negeri, maka kita akan jadi kuat, saya setuju 100%. Sementara itu, mas Joko membawa pemikiran strategi pertahanan yang menurut saya mah konvensional dan biasa. Tapi, pemaparan visi misi mas Joko terasa lebih memukau dan komprehensif. Mas Joko tampak menguasai betul konsep yang dia bawa, dan konsep konvensional yang dikuasai masih lebih baik daripada konsep yang menarik tapi baru tersentuh kulit luarnya saja. Mas Joko lebih baik.

Segmen 1: Mas Bowo vs Mas Joko 0 – 1

Segmen 2: Penajaman Visi Misi

Moderator menanyakan 2 pertanyaan ke mas Joko. Bagaimana kebijakan yang akan dijalankan terkait perlindungan SDA? Bagaimana memodernkan alutsista tanpa mengundang kekhawatiran negara lain terutama negara tetangga?

Mas Joko memulai jawaban dengan mengutip data yang menyatakan ada 300 trilyun hilang karena illegal fishing. Karena itu pertama harus diperjelas dulu batas-batas laut kita, dan kedepan Indonesia harus punya drone (pesawat tanpa awak) yang dipasang di 3 kawasan, barat-tengah-timur sehingga kita bisa mendeteksi pencurian kekayaan laut dan illegal logging. Kita bisa mendapatkan kordinat pencurian, dan kita bisa kerahkan tentara untuk mengejar. Artinya drone ini selain memperbaiki alutsista, juga untuk ketahanan ekonomi nasional kita. Ke depan drone ini sangat diperlukan sekali. Cara ini yang lebih efisien, drone juga tidak terlalu mahal. Inilah pertahanan kedepan, pertahanan cyber, dan juga pertahanan hybrid.

Selanjutnya moderator melempar 2 pertanyaan untuk mas Bowo. Secara spesifik, apakah kekayaan nasional yang disampaikan pada pemaparan visi misi terkait dengan apa yang disampaikan mas Joko, atau lebih dari itu? Apa yang menjadi kepentingan nasional kita saat ini ketika kita berhadapan dengan negara-negara yang mempunyai hubungan bilateral maupun dengan negara-negara besar yang ada di kawasan?

Mas Bowo mulai menjelaskan, bahwa yang dimaksud kekayaan nasional adalah seluruh kekayaan yang jadi milik bangsa Indonesia. Bumi, air dan semua kekayaan alam yang tergantung di dalamnya. Kekayaan nasional ini yang harus kita amankan, dan ini yang terlalu banyak bocor. Contoh, bauksit untuk bahan aluminum. Kita jual dalam gelondongan sebagai bahan baku, lalu kita impor aluminium nya. Itu namanya bocor, mengalir kekayaan ke luar, tidak tinggal di Indonesia. Kalau rakyat kita miskin, gaji aparat hukum kurang, banyak huru hara, infrastruktur militer kurang, kita tidak punya nilai tawar, wibawa di luar negeri. Kita tidak akan didengar dan dihormati, bahkan sebaliknya kita akan dilecehkan dan diganggu terus. Kalau ekonomi kita kuat, rakyat kita makmur, baru kita akan didengar, dihormati, dan bisa bertahan.

Dari jawaban keduanya, hal pertama yang saya notice adalah, tidak ada satu pun capres yang menjawab pertanyaan kedua dari moderator. Mas Joko sama sekali tidak menjawab pertanyaan tentang kekhawatiran negara lain terkait alutsista, dan mas Bowo hanya memberi jawaban samar tentang kepentingan nasional Indonesia di percaturan internasional. Huh.

Lalu, seperti biasa mas Joko memberi jawaban tentang kebijakan dengan contoh program yang spesifik. Tapi somehow, jawaban mas Joko kali ini rada lumayan. Mungkin karena ga terlalu kebablasan masuk detail teknisnya ga kaya waktu ngebahas pasar tradisional di debat kedua. Sementara itu, jawaban mas Bowo biasa banget, walau disitu dia sempat menyelipkan penjelasan tentang bocor-bocor yang disebut-sebut terus, saya ngerasa mas Bowo kurang spesifik dalam menjelaskan kekayaan nasional. Memang bauksit disebut-sebut, tapi itu kan baru contoh kekayaan dalam bumi. Kekayaan lainnya mana penjelasannya?

Segmen 2, saya rasa mas Joko lebih baik. Setengah poin aja karena hanya menjawab 1 pertanyaan moderator. Mas Bowo vs Mas Joko 0 – 1,5

Segmen 3: Pertanyaan Moderator

Q1: Indonesia merupakan negara yang kepentingannya kerap berbenturan dengan negara lain. Dari perspektif politik internasional dan ketahanan nasional, bagaimana Bapak menangani berbagai dinamika yang ada seperti masalah penetapan batas, klaim tumpang tindih, dan penanganan pencari suaka tanpa merusak hubungan baik antar negara? Dalam kaitan tersebut, apakah akan ada ruang untuk digunakannya diplomasi militer?

Mas Bowo: Pemerintah haruslah menjaga kepentingan nasional bangsa kita. Apabila kepentingan nasional bangsa kita terusik atau berbenturan dengan negara lain tentunya kita harus mempertahankan kepentingan nasional kita. Kita menghormati semua negara tetapi ada kepentingan inti yang tidak bisa kita tawar menawar yaitu keutuhan wilayah NKRI. Tidak ada satu jengkal pun wilayah Indonesia yang akan lepas atau kita biarkan lepas. Saya akan mengutamakan diplomasi persahabatan, saya ingin mengedepankan good neighbor policy, politik tetangga yang baik, kita akan selalu santun dan tenggang rasa dengan bangsa lain. Kita selalu harus berdialog, dan disinilah kita kembali pada kekuatan nasional. Dengan saling mengerti saya kira insya Allah kita akan mencapai persahabatan yang baik di semua lingkungan kita.

Mas Joko: Sudah saya sampaikan bahwa ada 3 strategi diplomasi yang akan kita gunakan. yaitu G to G, B to B, dan P to P. Sebab itu jika ada benturan, dinamika dengan negara lain tentu saja yang pertama kita kedepankan adalah diplomasi pemerintah dengan pemerintah. Dengan cara-cara seperti itulah saya kira nanti tapal batas kita akan bisa kita selesaikan. Tetapi kalau tidak selesai tentu saja masih bisa kita carikan jalan keluar lagi tanpa melalui perang . Mentok-mentoknya kita bawa ke Mahkamah Internasional untuk diputuskan, tetapi diplomasi harus dikerjakan terlebih dahulu seintensif mungkin sebisa-bisanya. Kami meyakini bahwa jika kita bisa mengirimkan diplomat-diplomat yang baik, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

Hmm. Intinya keduanya mengedepankan diplomasi untuk setiap konflik, mas Bowo lebih oke aspek preventifnya dengan terang-terangan akan mengedepankan kebijakan tetangga yang santun, mas Joko lebih prepared pada aspek penanganan konfliknya dengan menyebut-nyebut Mahkamah Internasional sebagai jalan termentok. I call it a draw, mas Bowo vs mas Joko 0,5 – 2

Q2: Ada 2 sub pertanyaan. Bagaimana upaya Bapak dalam memberikan perlindungan warga negara di luar negeri terutama para pekerja perempuan? Bagaimana Bapak membuat kebijakan-kebijakan untuk mengambil peran penting yang menjadikan Indonesia disegani oleh banyak negara termasuk di luar kawasan, lebih khusus Indonesia menjadi pemimpin di ASEAN?

Mas Joko: Untuk masalah TKI, pertama yang harus kita selesaikan adalah masalah sebelum penempatan. Seleksi dan pelatihan bagi TKI, harus benar-benar dilihat dan diawasi, jangan sampai ada yang belum melalui seleksi dan pelatihan. Kalau TKI sudah dikirim, data di kedutaan besar harus komplet agar kedubes bisa memberi perlindungan untuk warga di negara lain. KBRI terutama di negara-negara yang TKI nya banyak harus melakukan pengawasan kondisi TKI setiap bulan. Kemudian, kita juga tidak usah mengirim TKI kepada negara yang tidak mempunyai UU perlindungan yang jelas terhadap TKI. Lebih baik kita moratorium saja, kita harus tegas dalam hal-hal seperti ini karena ini menyangkut nyawa warga dan harkat martabat kita. Yang kedua, mengenai peran penting kita, saya kira kita pernah jaya saat kita mengadakan Konferensi Asia Afrika. Ini bisa kita ulang, apabila kita bisa membangun sebuah poros maritim dunia. Sehingga peran kita di situ jelas, negara lain akan mau tidak mau harus mendekati kita karena mereka punya kepentingan untuk masuk perairan kita. Peran-peran seperti itulah yang menjadi kunci negara kita berwibawa, disegani, dan dihormati negara lain.

Mas Bowo: Tenaga kerja kita yang kerja keluar negeri berangkat karena terpaksa, karena di Indonesia tidak ada lapangan kerja. Dan saya pernah punya pengalaman membantu 1 TKW dari NTT daerah Atambua. Dia datang dari keluarga 10 anak yang sangat miskin, pergi pada usia 15 taun, dan di luar negeri dia teraniaya, tersiksa dan akhirnya dia snap psikologis dan membunuh majikannya. Akhirnya, kita harus membantu dan menyelamatkan nyawa TKW tersebut. Karena itu, saya dalam hal ini sependapat dengan mas Joko, ya beliau jika punya pendapat bagus saya hormati – kita harus menyeleksi, mendidik, menyiapkan dan mensertifikasi tenaga kerja. Kewajiban pemerintah menyiapkan tenaga kerja-tenaga kerja dengan pendidikan yang baik supaya pekerjaan mereka di luar pun penghasilannya baik tidak hanya jadi tukang sapu atau PRT. Ini membutuhkan uang, uang hanya ada kalau ekonomi baik dan ini menyangkut jawaban pertanyaan kedua. Indonesia akan disegani bukan hanya dengan konferensi-konferensi yang banyak, Indonesia akan disegani kalau rakyatnya sejahtera, makmur, bisa makan, bekerja, sekolah, dan mendapat rumah sakit dan pelayanan kesehatan yg baik.

Mas Joko membuat pernyataan ketegasan yang bagus sekali, moratorium saja pengiriman TKI ke negara yang tidak menjamin akan melindungi. Dan ide mas Joko bahwa kita harus menguasai maritim agar punya peran penting di dunia juga bagus, saya setuju memang di bidang kelautanlah potensi besar Indonesia. Di sisi lain, mas Bowo bisa menonjolkan bahwa dalam perlindungan TKI, beliau punya bukti dan pengalaman membantu penyelamatan TKI. Selain itu, mas Bowo menarik akar masalah lebih dalam lagi dalam problem TKI ini, ketika mas Joko berhenti di hal teknis mengenai persiapan pemberangkatan TKI, mas Bowo lebih jauh lagi menyasar akar masalah yaitu kurangnya pekerjaan layak di Indonesia. Lalu, dengan mulus mas Bowo mengaitkan masalah ekonomi ini dengan konsep ketahanan nasionalnya dan bagaimana ketahanan nasional ini akan menjadikan Indonesia negara yang disegani.

Mas Joko bagus, tapi mas Bowo yang sukses konsisten dengan konsep ketahanan nasionalnya lebih bagus lagi. Pertanyaan kedua mengakhiri segmen tiga dengan skor Mas Bowo vs Mas Joko 1,5 – 2

Segmen 4: Saling Tanya Antar Capres

Q1. Mas Joko: Bapak sering mengatakan mengenai soal perubahan dan pentingnya perubahan. Pertanyaan saya, bagian mana dari kebijakan luar negeri pemerintah sekarang yang harus diubah?

Mas Bowo: Saya sering bicara perubahan, tapi kalau yang tidak perlu diubah ya tidak usah diubah. Kebetulan, saya melihat bahwa politik luar negeri Indonesia sekarang di bawah pemerintah SBY sudah di dalam jalur yang benar. Jadi, jangan salah arti, saya ingin mengusung perubahan pada bidang dan sektor dimana perlu ada perubahan. Harus diakui bahwa dalam hal politik luar negeri pemerintah SBY saya kira cukup menonjol, cukup diakui itu salah satu prestasi beliau, 10 taun membawa stabilitas perdamaian dan hal ini jgn dianggap remeh. Good neighbor policy, stabilitas  dan perdamaian untuk Indonesia.

Hmm, bolehlah mengatakan kebijakan yang ada sekarang sudah bagus, tapi somehow saya ga percaya ga ada hal yang bisa diubah untuk meningkatkan yang sudah bagus ini. No point for anyone. Mas Bowo vs Mas Joko 1,5 – 2

Q2. Mas Bowo: Bagaimana pendapat Bapak tentang peran Indonesia dalam WTO? Apakah kita merasa manfaat  atau (kalau tidak) menurut Bapak jalan ke depan bagaimana?

Mas Joko: Kita ikut WTO memang ada plus minusnya. Dalam hal perdagangan, waktu barang-barang kita masuk ke sebuah negara ada barrier tariff dan non-tariff. Jika kita tidak ikut WTO, kadang barang kita juga sulit untuk masuk ke sebuah negara. Kita ikut WTO akan untung asal kita punya produktivitas dan daya saing dan barang-barang kita kompetitif di pasar dunia sehingga  kita bisa masuk ke semua negara. Dan jika ada barang masuk dari luar ke Indonesia tentu saja ini juga sangat mengganggu kita. Tapi sekali lagi kalau harga-harga kita kompetitif saya kira tidak ada masalah. Hanya saja daya saing kita saat ini rendah. Inilah yang harus kita kerjakan agar kita mempunyai harga-harga yang produktif, sehingga  industri yang berorientasi eksport bisa masuk ke semua pasar walaupun kita mengerti bahwa ingin masuk sebuah pasar pasti  ada barrier disana yang tariff maupun non-tariff.

Penyakit mas Joko kumat, ditanya apa jawabnya apa. Mas Joko tidak menjawab sama sekali tentang peran Indonesia di WTO. Tapi yah, karena setidaknya mas Joko sempat menyinggung manfaat ikut WTO, agak mending lah ga jelek-jelek amat. Karena jawaban mas Joko lumayan butut, setengah poin aja untuk mas Bowo. Mas Bowo vs Mas Joko 2 – 2

Q3. Mas Joko: Ancaman terbesar apa yang sedang dan mungkin dihadapi Indonesia dan bagaimana mengatasinya?

Mas Bowo: Saya minta klarifikasi apakah ancaman dari dalam negeri atau dari luar negeri?

Mas Joko: Dua-duanya saya kira pak. (penonton rame)

Mas Bowo: Baik kalau begitu saya simpulkan ancaman terbesar dari luar negeri dan dari dalam negeri. Saya lihat ancaman terbesar dari luar negeri adalah bahwa ada negara-negara lain yang akan mengklaim wilayah nasional kita di laut maupun di berbagai pulau. Ini menurut saya kita harus siap menghadapi. Ancaman terbesar dari dalam negeri menurut saya adalah kemiskinan yang saya selalu dengung-dengungkan, terutama masalah kekuasaan bangsa Indonesia sendiri terhadap kekayaan alamnya. Ini menurut saya ancaman terbesar, tidak dikuasainya kekayaan alam kita. Dengan demikian, kita tidak punya tabungan kekayaan nasional untuk menghadapi kebutuhan mengurangi kemiskinan rakyat kita.

Err, gimana ya. Untuk ancaman luar negeri, tergantung perspektif dan prioritas masing-masing orang sih. Saya pribadi berpikir ancaman luar negeri yang paling bahaya adalah limpahan barang murah yang mematikan produk dalam negeri, atau budaya hedonis *gaya kan gue*. Tapi kalau bagi mas Bowo paling utama adalah kesatuan wilayah ya fine-fine aja. Untuk ancaman dalam negeri, mas Bowo masih tetap konsisten dengan idenya tentang kebocoran kekayaan negara. Sayang seribu sayang, mas Bowo ga menjawab gimana mau mengatasinya, apakah mau nasionalisasi perusahaan asing yang menguasai kekayaan alam Indonesia atau gimana haha. Setengah poin aja untuk mas Bowo, Mas Bowo vs Mas Joko 2,5 – 2

Q4. Mas Bowo: Kira-kira strategi atau kebijakan Bapak bagaimana seandainya ada wilayah nasional kita yang diduduki atau diklaim bangsa lain?

Mas Joko: Saya kira jawaban saya sama, bahwa diplomasi pemerintah dengan pemerintah akan kita kedepankan terlebih dahulu. Kalau memang masalahnya karena batas maritim atau patok daratan yang belum jelas, dipomasi pemerintah dengan pemerintah yang akan kita kedepankan. Tapi kalau memang pendudukan itu adalah jelas bahwa pulau itu adalah milik kita, ini akan berbeda karena sudah menyangkut kedaulatan, kepentingan nasional, dan kepentingan rakyat kita. Apa pun akan kita lakukan. Untuk hal-hal yang menyangkut kedaulatan dan itu jelas wilayah kita, ya kita akan buat rame. Jangan dipikir saya tidak bisa tegas. Karena tegas menurut saya adalah berani memutuskan dan berani mengambil resiko. Kalau memang bangsa lain menduduki wilayah yang merupakan kedaulatan kita, apa pun akan saya pertaruhkan.

Ketegasan mas Joko menutup sesi 4 membawanya unggul tipis di akhir segmen 4. Mas Bowo vs Mas Joko 2,5 – 3

Segmen 5: Debat Capres

Topik 1. Indosat

Mas Bowo: Bapak sering bicara tentang drone, tentang teknologi tinggi dsb. Kalau kita bicara tentang drone, masalah satelit menjadi salah satu hal yang strategis dalam ketahanan nasional kita. Masalahnya adalah, waktu pemerintahan dipimpin oleh Ibu Megawati, Iindonesia menjual perusahaan yang sangat strategis yaitu Indosat pada saat Indosat memiliki 2 geostasioner di atas wilyaah udara kita. Apabila Bapak jadi presiden, apa langkah Bapak, apakah akan membeli kembali atau bagaimana?

Mas Joko: Masalah drone ini adalah kita ingin melompati alutsista yang konvensional menuju ke alat pertahanan yang berteknologi tinggi. Ada 17 ribu pulau yang harus kita awasi dan laut kita begitu luasnya. Oleh karena itu drone di 3 wilayah ini penting sekali meskipun satelitnya masih ikut sewa negara lain. Tapi kalau kita tidak mulai dari sekarang kapan lagi. Satelitny sekarang kita bisa nebeng dulu, tapi harus ada target suatu saat punya sendiri. Dan yg kedua, mengenai Indosat ini perlu kami sampaikan bahwa saat itu tahun 98 itu krisis berat dan pada saat itu kondisi ekonomi masih belum baik. Oleh sebab itu waktu Indosat kita jual seharusnya kita juga  melihat ada klausul apa di situ. Klausulnya jelas, bahwa bisa kita ambil kembali, hanya saja sampai sekarang belum kita ambil.  Ke depan kuncinya hanya satu, yaitu kita buy back kembali, kita ambil kembali saham itu dan menjadi milik kita lagi. Oleh karena itu ke depan ekonomi kita harus diatas 7%.

Mas Bowo: Jadi bapak berniat akan membeli kembali Indosat apabila bapak jadi presiden. Jadi itu Bapak akui sebagai suatu sarana strategis yang harus dikuasai oleh bangsa Indonesia dan memang seharusnya tidak dijual ke bangsa lain, begitu?

Mas Joko: Tadi sudah jelas sekali saya sampaikan bahwa saat itu masih kondisi krisis dan masih terimbas krisis. Bayangkan kalau kondisi krisis, kemudian kita membutuhkan uang dan anggaran untuk menggerakan ekonomi kita dan yang kita punyai dan bisa kita jual adalah barang itu, tentu saja itu akan kita lakukan dengan catatan bahwa itu masih bisa kita beli lagi. Untuk hal-hal yang sangat strategis ke depan saya kira ini memang harus jadi incaran kita pertama bahwa Indosat harus kita beli kembali, tentu saja dengan harga yang wajar. Dan peran itu harus dilakukan pemerintah yang akan datang, jangan menyalahkan pemerintah yang dulu karena pemerintah yang dulu juga kondisinya jelas sangat berbada. Tidak bisa kita bandingkan saat tahun 98, 2003, dan sekarang 2014. Kita tidak usah melihat ke belakang, kalau saya inginnya melihat ke depan. Ke depan harus kita ambil lagi dan kita pakai untuk mengembangkan drone kita, dan kedepan kita ingin agar kita mempunyai pertahanan cyber dan pertahanan hybrid.

Saya sungguh menghargai niat mas Joko untuk membeli lagi Indosat dengan harga wajar, apalagi ada klausul buy back (saya bener-bener baru tau ada klausul buy back nya). Tapi saya kurang suka dengan jawaban mas Joko yang seolah membenarkan bahwa pada saat kondisi krisis kita boleh menjual apa saja. Kalau ke depan ada lagi krisis ekonomi terjadi dan mas Joko sedang jadi presiden, apa mau mengulang kesalahan menjual aset strategis? Ga ada gitu solusi lain, sumbangan dana rakyat ala mas Joko lah, jual aset yang tidak terlalu strategis, diplomasi soft loan, mengurangi anggaran, atau apa pun yang lain? Dan btw, kalau memang ga usah melihat ke belakang, teman-temanmu itu loh mas Jok yang hobi banget nengok-nengok masa lalu mas Bowo sampai surat rahasia aja bisa beredar huehehe. Anyway, not bad overall, setengah poin lah buat mas Joko. Mas Bowo vs Mas Joko 2,5 – 3,5

Topik 2. Tank Leopard

Mas Joko: Kita ingin membangun industri pertahanan nasional kita. Oleh karena itu, telah diproduksi panser Anoa. Ini gagasan pak JK dan terlaksana. Pada saat yang sama, pemerintah juga membelikan tank Leopard. Leopard ini berat, 60an ton. Bagaimana pendapat Bapak mengenai hal ini?

Mas Bowo: Mengenai pemilihan alat pertahanan, tentunya sudah melalui rangkaian pembahasan dan penelitian dari pihak-pihak yang berwenang, Kementrian pertahanan, Angkatan Darat, dst. Jadi jika kita lihat jika ada yang berpendapat tank sejenis Leopard mungkin tidak cocok untuk wilayah Indonesia, ternyata itu adalah pandangan yang keliru. Pertama, main battle tank bisa dipakai di sebagian wilayah nusantara. Kedua, kita juga sangat aktif berperan dalam PBB. Kita sekarang punya pasukan di Lebanon, di Kongo, di Afrika Tengah, dan pasukan perdamaian kita sekarang kalau tidak salah ada 4000 prajurit. Dan tugasnya pasukan ini kadang tidak hanya peace keeping tapi juga peace making, peace enforcement. Dalam hal peace making dimana ancaman dari lawan sangat tinggi, saya kira main battle tank sejenis Leopard akan sangat-sangat berguna bagi pasukan TNI. Jadi saya merasa tidak ada masalah, Anoa kita butuh, tapi main battle tank kita juga butuh dan kita butuh helikopter, jet fighter generasi kelima, kapal selam, dan banyak sekali, untuk itu ekonomi kita harus kuat. Itulah perjuangan saya dan pak Hatta Rajasa.

Mas Joko: Kalau menurut saya, yang pertama masalah panser Anoa ini harus dikembangkan terus oleh industri pertahanan kita. Tidak hanya panser Anoa saja, mungkin nanti ada panser Banteng dll. Sehingga, kita betul-betul mempunyai kekuatan pertahanan yang kita produksi sendiri. Yang kedua, masalah tank Leopard. Beratnya sekitar 62 ton. Menurut saya, tank ini terlalu berat. Lewat jalan kita, jalan kita akan rusak. Jembatan kita jelas tidak kuat menahan tank seberat 62 ton. Oleh sebab itu, kembali lagi setiap kita ingin sebuah alutsista mestinya harus dihitung apakah medan/wilayah/cuaca kita cocok dengan barang itu. Dan kembali lagi, ke depan saya tetap ingin industri pertahanan kita ditingkatkan, dikembangkan, dan diberi anggaran dengan baik, sehingga betul-betul kita mempunyai industri pertahanan yang baik, sehingga kita disegani oleh negara-negara yang lain dan tidak tergantung dengan alat-alat pertahanan alutsista dari luar.

Mas Bowo: Pandangan atau pendapat tentang alutsista yang cocok atau tidak cocok itu kita serahkan pada para pakar yang sudah melakukan research dalam sejarah perang terakhir, perang Vietnam. Vietnam utara menyerang Vietnam selatan menggunakan main battle tank. Mereka pakai main battle tank buatan Rusia. Ada anggapan bahwa tank sebesar 62 dan 70 ton tidak cocok dengan wilayah-wilayah Indonesia, itu tidak sepenuhnya benar. Tapi saya sependapat dengan Bapak, kita harus memperkuat industri dalam negeri, dan saya siap mendukung setiap usaha untuk membentuk industri dalam negeri, itu jangan diragukan. Tapi tank Leopard ini sdah merupakan keputusan Angkatan Darat TNI, harus kita gunakan dan manfaatkan sebagai bagian arsenal kita. Saya kira itu, tetapi tetap saya utamakan di ujungnya adalah bahwa pandangan saya pertahanan terbaik adalah kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Kita boleh punya tank, jet fighter, tapi kalau rakyat kita tidak sejahtera, tidak ada gunanya.

Blunder mas Joko ini kata saya mah. Mas Joko keukeuh dengan statement tank Leopard tidak cocok di Indonesia, padahal argumen mas Bowo kuat: tank Leopard adalah pilihan para expert yang sudah melakukan penelitian, anggapan tank Leopard tidak cocok di Indonesia tidak sepenuhnya benar (somehow rasanya lebih percaya statement mantan militer daripada statement orang sipil yang dibisiki orang militer), dan tank Leopard bisa digunakan untuk pasukan perdamaian TNI yang bertugas di luar negeri. Mas Joko vs Mas Bowo 3,5 – 3,5

Topik 3. Laut Cina Selatan

Mas Bowo: Bagaimana pandangan Bapak mengenai peran Indonesia dalam masalah Laut Cina Selatan?

Mas Joko: Ini adalah urusan negara yang lain dengan negara yang lain. Tetapi kalau kita bisa masuk dan berperan juga lebih baik. Tetapi perlu harus kita amati, kita cek apakah kita masuk ke sebuah konflik yang justru membuat kita menjadi berhubungan tidak baik dengan Tiongkok ataukah kita bisa memberikan jalan keluar bagi konflik itu. Kalau kita tidak mempunyai keyakinan kita bisa menyelesaikan itu, saya kira kita tidak usah ikut-ikutan dalam sebuah konflik yang belum jelas arahnya mau ke mana. Yang jelas, kepentingan nasional tetap nomor 1 tetapi kita juga ingin berperan dalam setiap masalah-masalah yang ada di kawasan regional kita dengan catatan kita bisa berperan dan mencarikan solusi konflik-konflik yang ada itu.

Mas Bowo: Masalahnya, sebagian wilayah maritim kita, termasuk diklaim oleh salah satu negara yang jadi masalah di Laut Cina Selatan. Yang saya ingin tanya, bagaimana sebaiknya kita bersikap dalam hal itu. Karena kita juga bagian dari ASEAN, ada 4 negara ASEAN yang punya klaim. Bagaimana kita sebagai katakanlah negara terbesar di ASEAN, apakah kita abstain sama sekali, atau kita membela empat kawan-kawan kita di ASEAN itu.

Mas Joko: Tadi sudah saya sampaikan, kalau kita berperan dan peran itu kita bisa memberikan keuntungan pada kawan-kawan kita di ASEAN itu kita lakukan, tapi kalau kita tidak mempunyai sebuah solusi yang benar, untuk apa proses diplomasi yang kita lakukan jika tidak ada manfaatnya. Setahu saya di Laut Tiongkok itu, kita tidak mempunyai konflik sama sekali. Hanya memang peran kita jika memang dibutuhkan, kita bisa masuk dengan catatan harus ada manfaatnya, harus bisa memberikan solusi dan jalan keluar agar konflik itu tidak meluas ke dinamika yang tidak baik terhadap kawasan di ASEAN. Konflik-konflik seperti itu saya kira memang baik jika secepatnya diselesaikan. Dan peran itu saya kira bisa dilakukan dengan strategi diplomasi yang sudah saya sampaikan di depan. Tapi jika peran itu tidak ada manfaatnya untuk apa kita lakukan.

Setahu saya, Laut China Selatan itu berbatasan dengan Indonesia. Saat ini memang ada beberapa perselisihan mengenai batas wilayah di area ini. Meski konflik yang lagi panas-panasnya tidak melibatkan Indonesia, salah satu perselisihan yang ada melibatkan Indonesia, yaitu pada area di utara Pulau Natuna, dimana Indonesia berselisih dengan China dan Taiwan. Lihat di laman Wikipedia ini. Jawaban mas Joko di atas jujur membuat saya ragu terhadap pemahaman beliau tentang dunia internasional. Selain itu, jawaban mas Joko terasa tidak mencerminkan keinginan agar Indonesia bisa jadi pemimpin kawasan. Negara sebesar Indonesia seharusnya siap memimpin negara-negara ASEAN dalam konflik yang mungkin terjadi. Poin untuk mas Bowo karena pertanyaannya tepat menyerang mas Joko. Mas Bowo vs Mas Joko 4,5 – 3,5

Topik 4. Indonesia – Australia

Mas Joko: Apa yang salah dengan hubungan Indonesia dan Australia sehingga seringkali naik-turun dan panas-dingin?

Mas Bowo: Secara jujur, saya merasa masalahnya tidak terletak di pihak Indonesia. Saya kira masalahnya adalah mungkin Australia ada semacam kecurigaan atau phobia terhadap kita. Mungkin kita negara yang jumlah penduduknya besar sekali, kemudian dianggap kita seringkali emosional kita pernah beberapa kali lakukan tindakan-tindakan militer, jadi mungkin bagi mereka kita dianggap ancaman. Mungkin ya. Saya kira dari kita tidak ada masalah, jadi tidak ada yang salah dari kita. Semua pemerintah Indonesia yang saya kenal ingin bersahabat baik dengan mereka. Jadi, kalau menurut saya nanti kewajiban kita untuk meyakinkan kawan-kawan kita di Australia bahwa kita ingin jadi tetangga yang baik, hidup damai dan bersahabat dengan Australia. Kita bukan ancaman bagi Australia, kita harus yakinkan mereka dan kita harus buktikan bahwa kita memang niatnya baik. Tapi kita juga harus tegas dalam mempertahankan core national interest kita.

Mas Joko: Kalau menurut saya, ada 2 hal penting dalam hubungan kita dengan Australia. Pertama, ada ketidakpercayaan sehingga terjadi penyadapan beberapa bulan yang lalu. Ini hanya masalah trust. Oleh karena itu, menurut saya diplomasi pemerintah dengan pemerintah, antar pelaku bisnis dengan pelaku bisnis, masyarakat dengan masyarakat harus terus digalakkan. Inilah yang akan mengurangi ketegangan itu, konflik-konflik, gesekan-gesekan yang ada antara Indonesia dan Australia. Dan diplomasi budaya, diplomasi pendidikan saya kira juga merupakan diplomasi yang harus terus kita galakkan. Kemudian yang kedua, masalah kewibawaan. Menurut saya, kita ini dianggap sebagai bangsa yang lebih lemah. Oleh sebab itu ke depan, masalah kewibawaan, kehormatan negara harus menjadi catatan khusus bagi presiden jangan sampai kita dilecehkan, diremehkan gara-gara kita dianggap lemah dan tidak berwibawa.

Mas Bowo: Saya kira, tanggapan pak Jokowi sebenarnya sejalan dengan jawaban saya. Bapak bilang trust, saya bilang mereka curiga sama kita, kita harus yakinkan mereka bahwa kita bukan ancaman sama mereka, kita ingin jadi tetangga yang baik. Jadi sebetulnya, dalam hal ini kita sama pak. (Mas Bowo ngejoke bentar, bilang ke mas Joko bahwa penonton lebih galak dari kita ya). Jadi dalam hal itu benar, kita harus build up trust, bahwa kita tidak ingin macam-macam. Tapi, jika kita dianggap lemah, kita harus cek ke dalam diri kita. Jangan-jangan kita memang lemah. Kalau negara, dihitung, pesawat terbang berapa, kapal selam berapa, yang bisa terbang berapa. Jangan-jangan kita punya dua skuadron tapi tidak bisa terbang. Jika kita tidak mau dianggap lemah tapi tidak punya kekuatan, ya akan tetap dianggap lemah. Oleh karena itu, marilah kita bangun kekuatan ekonomi Indonesia.

Di sini, saya rasa mas Bowo berhasil menunjukkan bahwa mas Joko malah hanya menguatkan pendapatnya tentang masalah trust. Ditambah lagi, mas Bowo kena banget bilang bahwa jangan-jangan kita memang lemah, dan bisa mengembalikan lagi ke konsep utama dia: ketahanan nasional berbasis kesejahteraan. Mas Bowo vs Mas Joko 5,5 – 3,5

Topik 5. Jumlah prajurit dan alutsista

Mas Bowo: Menurut Bapak apakah postur angkatan perang kita sudah cukup kuat, apa perlu ditambah atau dikurangi? Kalau ditambah, dengan keterbatasan dana, caranya bagaimana agar kita punya kekuatan? Kalau tidak salah, dari pasukan darat saja kita punya 160 batalyon padahal kita punya 500 kabupaten berarti ada sekitar 350 kabupaten yang kosong pertahanannya. Bagaimana mengisi kabupaten-kabupaten yang kosong tidak ada tentaranya?

Mas Joko: Kita tahu semua bahwa anggaran untuk pertahanan kita sekarang ini mencapai kurang lebih 80 trilyun. Kalau ekonomi kita tumbuh di atas 7%, kami meyakini dalam 4-5 tahun dapat mencapai 3 kali lipat, kurang lebih 210 trilyun. Ini sebuah angka yang besar. Oleh sebab itu kuncinya ekonomi kita harus tumbuh diatas 7% sehingga kita akan memiliki anggaran yang lebih besar dan bisa kita gunakan untuk menambah jumlah prajurit dan menambah alutisista kita sehingga betul-betul semuanya yang berada di wilayah negara kita bisa kita kuasai dengan baik. Dengan peralatan dan personel yang cukup, baru kita berani menyampaikan bahwa kita memang betul-betul siap dan negara punya wibawa dan akan dihormati negara lain.

Mas Bowo: Apakah Bapak pernah memikirkan apakah Indonesia memerlukan tentara cadangan atau tidak? Semacam tentara perlawanan rakyat, tentara cadangan teritorial?

Mas Joko: Sangat diperlukan, karena sekarang ini kita ingin melatih cadangan-cadangan yang ada di sipil, baik menwa, hansip, maupun sipil yang dilatih, sehingga saat diperlukan mereka akan siap untuk medan apa pun. Inilah pertahanan semesta kita agar kita tidak tergantung pada tentara yang ada, karena anggarannya memang belum mencukupi. Kesiapan kita di personel akan didukung oleh pertahanan dari sipil kita seperti tadi yang saya sampaikan.

Fine answer from mas Joko. Terindikasi mau mengadakan wajib militer pula nih mas Joko. Baguslah biar pada ga lembek orang Indonesia. Mas Bowo vs Mas Joko 5,5 – 4,5

Topik 6. Komunitas ekonomi ASEAN

Mas Joko: Komunitas ekonomi ASEAN akan berlaku akhir 2015. Untuk itu, daya saing ekonomi kita akan menjadi penting. Apa yang akan Bapak lakukan untuk meningkatkan daya saing itu, dalam hal hubungan dengan negara yang lain?

Mas Bowo: Inti dari meningkatkan daya saing adalah bahwa kita memberi fasilitas, insentif, dukungan kepada perusahaan-perusahaan kita tanpa kita melanggar ketentuan-ketentuan dalam perjanjian internasional. Insentif-insentif yang bisa diberikan diantaranya pendidikan, kredit yang diperlancar, perizinan yang dipermudah, lahan yang dipermudah, banyak sekali yang bisa dilakukan pemerintahan yang ingin mengunggulkan perusahaan-perusahaan nasional untuk bisa bersaing di komunitas yang akan datang. Ini juga butuh investasi besar-besaran di bidang pendidikan, kita mau tidak mau harus menyiapkan SDM kita yang akan berhadapan dengan keterbukaan nanti yang sudah kita setujui dan harus kita hadapi. Tetapi, pemerintah tentunya harus menjaga kepentingan nasional kita. Kita harus waspada dan mengevaluasi semua dampak dari keterbukaan itu kepada ekonomi kita dan kepada keselamatan pengusaha dan perusahaan-perusahaan kita. Kembali, kita harus sangat ketat dalam menjaga kekayaan nasional kita, terutama kita harus paksakan processing industry supaya diterapkan di semua sektor industri di dalam negeri di Indonesia.

Mas Joko: Pertama terkait pembangunan manusia. Karena kita sudah dalam waktu yang sangat mepet, pembangunan technopark, tempat-tempat pelatihan bagi anak-anak muda harus segera dikerjakan karena ini sudah tinggal setahun, sudah tidak ada ruang lagi untuk kita berbicara mau atau tidak mau. ASEAN economy community ini harus kita hadapi. Yang kedua, diplomasi perdagangan kita harus diperkuat bagi dubes-dubes yang berada di ASEAN. Artinya, dubes-dubes kita harus mampu jadi marketer, harus mampu memasarkan produk-produk yang ada di daerah, baik produk-produk industri kecil maupun UKM yang sebetulnya mempunyai daya saing yang tinggi karena harganya masih sangat kompetitif, hanya saja mereka perlu diberi ruang untuk memasarkan produknya ke luar negeri oleh dubes-dubes kita. Kita ingin dubes-dubes kita diplomasinya 80% harus diplomasi di bidang perdagangan, dan mereka harus bisa melakukan transaksi sehingga kita betul-betul bisa menyerang kesana lebih dahulu bukan kita yang diserang oleh produk-produk mereka. Cara tercepat itulah yang ingin kita kerjakan, jangan sampai pasar kita justru dikuasai oleh barang-barang impor.

Mas Bowo: Sebetulnya saya kurang menangkap tanggapan dari Bapak, tapi arah pembicaraan, gagasan-gagasan Bapak tidak bertentangan dengan pemikiran saya. Masalahnya, menurut saya itu agak terlalu teoretis. Bapak sendiri mengatakan tinggal satu tahun. Membangun technopark (butuh waktu) berapa lama? Jadi kadang-kadang, kita ini gampang mengeluarkan slogan, jawaban-jawaban teoretis tapi masalahnya Bapak sendiri mengatakan kita tinggal satu tahun. Tidak semudah itu dalam satu tahun kita harus membuat industri-industri yang bisa menahan serangan. Saya kira marilah kita realistis. Kita benahi diri kita, hemat anggaran, hemat APBD, hemat APBN, tutup kebocoran, tutup kebocoran, tutup kebocoran, kurangi semua yang menghambur-hamburkan uang rakyat, baru itu kita punya uang, kita bisa investasi, baru kita kompetitif, baru kita menghadapi serangan-serangan dari luar.

Jawaban mas Bowo lumayan kalau kata saya mah. Contoh insentif yang bisa diberikan pemerintah memang semuanya bisa diberikan. Di sisi lain, pemikiran mas Joko juga sebetulnya tidak buruk. Ada orang yang bilang, kalau dubes disuruh jadi marketer, buat apa ada atase perdagangan? Tapi kalau kata saya mah, memangnya kenapa kalau dubesnya juga bantu-bantu marketing? Hak presiden untuk menentukan tugas utama dubesnya apa, kalau memang presiden ingin meningkatkan perdagangan keinginan mas Joko wajar-wajar saja, walau kalau dari jawaban-jawaban mas Joko pada debat ini mah kayanya tugas dubes berat sekali – 80% fokus untuk perdagangan, dan di sisa fokus 20% harus bisa mendata dan mengontrol kondisi TKI.

Sementara itu, kalau mas Bowo menyerang mas Joko dengan mengatakan bahwa gagasan mas Joko membangun technopark terlalu teoretis dan sulit dilakukan dalam setahun, apalagi membangun processing industry, butuh berapa lama? Saya split skor untuk jawaban ini. Mas Bowo vs Mas Joko 6 – 5

Segmen 6: Penutup

Mas Joko memberi statement penutup dengan mengingatkan kembali pada gagasan utamanya bahwa Indonesia harus menjadi poros maritim dunia dan mengutip pernyataan Jendral Sudirman. Mas Joko lalu menutup dengan salam 2 jari khasnya. Mas Bowo mengulang gagasan utamanya bahwa ketahanan dan pertahanan yang paling kuat adalah kemakmuran rakyat, dan kita harus mengurangi pemborosan dan kebocoran. Tapi kali ini mas Bowo tidak mengeluarkan gestur santunnya seperti pada penutup debat kedua. Saya rasa penutup keduanya fine-fine aja, no score for both. Skor akhir Mas Bowo vs Mas Joko 6 – 5

Epilog

Hal yang paling menarik bagi saya dari debat ketiga tentang pertahanan nasional ini adalah mengenai kontrasnya konsep dan gagasan yang dibawa kedua capres. Mas Joko yang berlatar belakang pengusaha sipil/birokrat daerah membawa konsep penguasaan maritim, hal yang sekilas lekat dengan militer. Sementara itu, mas Bowo yang berlatar belakang militer justru membawa konsep pertahanan terkuat adalah kesejahteraan rakyat. Siapa pun yang menang, saya rasa kedua konsep tersebut bagus asal bisa direalisasikan.

Dari debatnya sendiri, saya sempat surprised. Saya pikir topik ketahanan nasional ini harusnya makanan empuk buat mas Bowo untuk menjadikan mas Joko bulan-bulanan. Tapi, mas Joko ternyata tampil baik dan selalu memimpin di scoreboard saya sampai akhir segmen 4. Sayang, pada saat segmen 5, pertanyaan, jawaban, dan tanggapan mas Joko banyak yang lemah, dan akhirnya bisa diungguli mas Bowo di akhir. Somehow saya punya kesan, tim sukses di belakang mas Joko kurang siap dalam mempersiapkan mas Joko, karena jatuhnya mas Joko di topik Laut China Selatan dan tank Leopard harusnya bisa diantisipasi.

Dari semua debat yang sudah dilakukan, saya rasa alhamdulillah sudah clear bahwa bagi saya, untuk saat ini Prabowo capres yang lebih baik dari Jokowi. Bukan Jokowi tidak bagus, tapi mungkin memang pencapresannya saja yang terlalu cepat sehingga kalah persiapan. Prabowo mungkin sudah menyiapkan diri untuk pencapresan sejak 2009, sedangkan Jokowi paling baru mulai mempersiapkan diri secara intensif pada 1-2 tahun terakhir ini.

Terakhir, saya yakin bukan hanya capresnya saja yang penting dalam menentukan pilihan. Kualitas cawapres dan chemistry antara capres-cawapres juga merupakan hal yang penting. Karena itu, saya masih akan ngikutin dua debat terakhir nanti.

2 thoughts on “Kehilangan Momentum, Jokowi Kalah Debat Ketiga

  1. Ping-balik: Lebih Seru, Prabowo Kembali Menang Tipis Debat Kedua | rizasaputra

  2. Ping-balik: Coming From Behind, Prabowo-Hatta Unggul Tipis Debat Pertama | rizasaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s