Quick Note Putusan UU Pilkada

Tadi pagi pas sarapan di warteg, di TV lagi ditayangin sesuatu yang menggelitik saya: DPR memutuskan Pilkada dikembalikan lewat DPRD. Sedemikian menggelitik sampai-sampai saya mau ngeblog, padahal lagi numpuk buanget kerjaan.

Sebenernya, pada prinsipnya, saya pikir memang idealnya pemimpin itu ga dipilih langsung oleh semua orang lewat voting. Baik di level daerah maupun nasional. Idealnya memang, pemimpin itu dipilih oleh orang-orang paling jujur, kompeten, dan cerdas yang jadi perwakilan rakyat di lembaga legislatif. Jadi, pilkada lewat DPRD itu idealnya benar. Tapi! Ada tapi yang besar saat ini.

Realita yang ada di Indonesia saat ini, membuat saya sungguh sangsi apakah benar mereka-mereka yang ada di lembaga legislatif itu lebih baik dari rakyat kebanyakan. Ga usah saya elaborasi lebih jauh lah ya. Yang pasti rasanya, opini subjektif saya, temen-temen saya di grup Whatsapp atau di kantor aja kayanya banyak yang pola pikirnya lebih berlogika dan rasional dibanding anggota DPR maupun DPRD.

Belum lagi, jika kita lihat, beberapa kepala daerah paling moncer saat ini seperti Ridwan Kamil dan Jokowi, datang dari koalisi partai minoritas. Kalau pilkada lewat DPRD, kecil rasanya harapan muncul Jokowi-Jokowi lain. Mungkin yang akan banyak malahan Foke-Foke baru. Walaupun, kalau mau fair, pilkada langsung juga tidak menjamin kualitas. Gubernur Riau – yang hasil pilkada langsung – juga lagi-lagi ditangkap lagi, ditangkap lagi karena korupsi.

Karena itu, sekarang masyarakat punya tugas berat saya pikir. Masyarakat harus lebih aware dengan politik, kenal dengan parpol-parpol yang ada dan calon-calonnya di daerah. Ini jelas kerja keras, karena yang harus dikenali jauh lebih banyak dibanding cuma mengenali calon pemimpin, karena jumlah caleg jauh lebih banyak dibanding calon eksekutif.

Orang baik-baik yang biasanya hanya jadi silent majority juga mungkin sudah waktunya lebih kritis dan bersuara. Jangan biarkan komentar di media dan kader parpol penuh dengan orang-orang yang ga punya kerja riil di dunia nyata. Lagi-lagi, tugas berat, karena biasanya orang-orang yang kerja beneran – seperti karyawan, bos, pengusaha, pedagang, profesional (dokter/pengacara), atlet, seniman, dosen, dll – energinya udah tinggal sedikit untuk ngurusin politik beneran, paling banter biasanya dijadiin topik ngobrol santai di rumah atau tempat kerja.

Semoga UU pilkada ini memicu Indonesia untuk memperbanyak caleg-caleg berkualitas di daerah, aamiin. Saatnya saya kembali ke JavaScript.

2 thoughts on “Quick Note Putusan UU Pilkada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s