Karakter Pembeda Orang Sukses

Sekitar antara  akhir tahun 1960an hingga awal tahun 1970an, seorang profesor Stanford bernama Walter Mischel melakukan serangkaian penelitian mengenai penundaan kesenangan (delayed gratification). Penelitian ini menjadi dasar dari penemuan salah satu karakter penting dalam meraih kesuksesan dalam hidup.

Marshmallow Test

Marshmallow Test adalah percobaan pertama yang dilakukan Mischel (bersama Ebbe B. Ebbesen) pada tahun 1970. Mischel mengumpulkan sekitar 600 anak berusia antara empat sampai enam tahun sebagai subjek penelitian. Setiap anak lalu dibawa ke ruangan terpisah, dan didudukkan di kursi. Di depan anak tersebut, diletakkan sebuah marshmallow (atau Oreo, atau pretzel, tergantung makanan kesukaan anak) di atas meja.

Peneliti kemudian membuat deal dengan anak tersebut. Peneliti memberitahu anak bahwa peneliti akan meninggalkan ruangan selama 15 menit. Jika selama waktu tersebut anak mampu menahan diri untuk tidak memakan marshmallow di meja, maka ketika peneliti kembali ia akan membawakan sebuah marshmallow lagi sebagai hadiah.

Pilihannya sederhana bagi si anak: satu marshmallow sekarang, atau dua marshmallow nanti.

Hasilnya, sebagian kecil anak langsung memakan marshmallow di meja setelah peneliti pergi. Sebagian lain berusaha menahan diri dan mengalihkan perhatian: ada yang menutup mata, menendang-nendang meja, menarik-narik rambut, dll. Diantara anak-anak yang berusaha menahan diri, sekitar sepertiga di antaranya berhasil menahan diri hingga 15 menit dan mendapat hadiah marshmallow kedua. Sisanya menyerah dan memakan marshmallow di meja. Hasil penelitian ini kemudian dipublikasikan pada tahun 1972.

Penelitian Lanjutan

Tahun 1988, Mischel melakukan penelitian lanjutan. Hasilnya, tanpa ia duga, anak-anak yang dulu mampu menahan diri dan menunda kesenangan, digambarkan sebagai pribadi yang jauh lebih kompeten oleh orangtua mereka.

Berbagai penelitian lanjutan juga menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu menunda kesenangan memiliki skor SAT yang lebih tinggi, pencapaian akademis yang lebih baik, kemungkinan obesitas yang lebih kecil, respons yang lebih baik terhadap stress, skill sosial yang lebih baik, dan secara umum memiliki skor yang lebih baik pada berbagai metode pengukuran kualitas hidup yang lain.

Menunda Kesenangan dan Kesuksesan

Berbagai seri penelitian lanjutan ini membuktikan bahwa kemampuan untuk menunda kesenangan berperan penting dalam mencapai kesuksesan dalam hidup. Polanya dapat dilihat dalam kehidupan di sekitar kita:

  • Anak yang bisa menunda kesenangan menonton TV dan bisa memaksa untuk mengerjakan PR, akan lebih mengerti pelajaran dan mendapat nilai lebih baik
  • Orang yang bisa menahan godaan membeli kue saat di toko, akhirnya akan makan makanan yang lebih sehat di rumah saat ia pulang
  • Orang yang bisa menunda kesenangan makan saat berpuasa hingga waktu berbuka, akhirnya berhasil menyelesaikan ibadahnya

Dan masih banyak contoh lainnya yang bisa kita lihat di sekitar kita. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah kemampuan menunda kesenangan ini datang dengan sendirinya?

Replikasi Studi di Universitas Rochester

Tahun 2012, para peneliti di Universitas Rochester mencoba melakukan ulang Marshmallow Test, tapi dengan jumlah sampel yang lebih kecil, hanya 28 anak. 28 anak ini kemudian dibagi menjadi dua grup:

  1. Kelompok anak pertama diberikan janji-janji palsu sebelum mulai Marshmallow Test. Mereka diiming-imingi dengan berbagai hadiah, tapi hadiah-hadiah itu tidak pernah diberikan.
  2. Kelompok anak kedua diberikan janji-janji yang ditepati sebelum mulai Marshmallow Test. Mereka juga diiming-imingi dengan berbagai hadiah, dan hadiahnya benar-benar diberikan kepada si anak.

Ketika Marshmallow Test dilakukan, hasilnya bisa ditebak. Kelompok kedua memiliki kemampuan menahan diri yang jauh lebih baik dibanding kelompok pertama. Rata-rata kemampuan anak menunda kesenangan di kelompok pertama hanya 3 menit, jauh dibawah rata-rata kelompok kedua yang mencapai 12 menit.

Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor persepsi berpengaruh besar pada kemampuan menunda kesenangan. Anak yang harapannya sering terpenuhi (kelompok dua) memiliki persepsi yang lebih kuat tentang relasi antara disiplin dan keberhasilan, dan memiliki kemampuan menunda kesenangan yang lebih baik.

Kesimpulan

Sebelum masuk ke kesimpulan, mari kita tegaskan dulu satu hal. Kesuksesan dalam hidup adalah sesuatu yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kemampuan seseorang untuk menunda kesenangan di saat usia 4 tahun tidak akan menjadi satu-satunya faktor yang mempengaruhi kesuksesan.

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa untuk meraih kesuksesan, akan ada waktu-waktu dimana kita harus mampu disiplin dan memaksa diri untuk melakukan hal yang harus diselesaikan. Kesuksesan dalam segala aspek mensyaratkan kita untuk mampu mengabaikan hal-hal/godaan-godaan yang tidak penting (menunda kesenangan) dan fokus mengerjakan hal-hal berat yang memang krusial untuk diselesaikan.

Kita bisa mengembangkan kemampuan kita menunda kesenangan dengan meningkatkan kualitas persepsi kita. Hal ini dapat dicapai jika kita sering mampu mencapai harapan kita. Untuk itu, kita dapat melakukan latihan melalui langkah-langkah berikut:

  1. Buat suatu kebiasaan baik baru, berikan target yang sangat rendah (misal: lari pagi 10 meter sehari)
  2. Tingkatkan target tersebut secara sangat kecil per hari (misal: keesokan harinya targetnya jadi lari pagi 11 meter sehari)
  3. Lakukan secara konsisten

Semoga bermanfaat.

Disadur dari:
40 Years of Stanford Research Found That People With This One Quality Are More Likely to Succeed
Stanford marshmallow experiment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s