Review: Divergent Trilogy

Dalam rangka menumbuhkan minat baca yang semakin tergerus sejak saya kenal TV series, saya maksain tiap bulan beli dan baca buku minimal 1. 3 bulan terakhir ini, buku yang saya baca adalah seri Divergent yang menang Goodreads Choice Award for Favorite Book of 2011. Berikut ini review saya.

Warning: Mungkin mengandung spoiler.

Buku 1: Divergent

Divergent_(book)_by_Veronica_Roth_US_Hardcover_2011

Buku pertama ini bercerita tentang keadaan dystopia di masa depan, dimana masyarakat terbagi kedalam 5 faksi sesuai: Dauntless, faksi para pemberani; Erudite, faksi para cendekia; Candor, faksi orang-orang yang mengutamakan kejujuran; Amity, faksi pecinta damai; dan Abnegation, faksi yang mengutamakan kepentingan orang lain. Masing-masing faksi memiliki peranan sendiri di masyarakat: Dauntless menjaga keamanan, Erudite mengembangkan ilmu pengetahuan, Candor mengatur jalannya hukum, Amity menyediakan pertanian dan makanan, sedangkan Abnegation memimpin pemerintahan.

Setiap orang harus pada saat berusia 16 tahun harus memilih untuk memasuki salah satu faksi berdasarkan sifat alami mereka. Sekali seseorang memilih faksi, mereka tidak dapat berpindah faksi di masa depan. Selain kelima faksi ini, juga ada kelompok orang factionless, yakni orang-orang yang terbuang dan tidak memiliki faksi. Para factionless hidup miskin dan sengsara.

Tokoh utama kita adalah seorang gadis bernama Beatrice/Tris yang berasal dari Abnegation. Tapi, saat upacara pemilihan, Tris memilih untuk pindah ke Dauntless dan meninggalkan keluarganya. Saat masuk faksi Dauntless, Tris harus menjalani berbagai ujian inisiasi untuk memastikan dirinya tidak tersisih dan terpaksa menjadi factionless. Di dalam proses inisasi, Tris mulai terjalin rasa-rasa yang lebih dengan instrukturnya, seorang pemuda badass yang dipanggil Four.

Di tengah proses inisasi, Tris mengetahui dari Four bahwa dirinya kemungkinan adalah seorang Divergent, yaitu orang yang tidak memiliki kecenderungan tergolong ke dalam suatu golongan tertentu. Situasi menjadi semakin rumit ketika Tris mengetahui bahwa ada orang-orang yang berusaha memburu dan membunuh Divergent.

Puncaknya, suatu ketika faksi Dauntless diperalat besar-besaran dan menyerbu faksi Abnegation. Tris harus berusaha untuk menghentikan kegilaan yang ada, meski itu berarti mengorbankan orang-orang yang disayanginya.

Komen gue: Good. Bagian awalnya rada-rada boring, tapi begitu lewat setengah buku jadi rame dan addictive. Premisnya tentang pembagian tatanan masyarakat juga menarik.

Rating: ☆☆☆☆

Buku 2: Insurgent

insurgentDi buku kedua, Tris dan Four dkk melarikan diri ke faksi Amity. Namun, faksi Erudite yang dipimpin Jeanine memburu mereka, sehingga Tris dan Four melarikan diri ke Candor. Namun, faksi Candor pun diserang oleh Erudite. Tris sempat tertangkap, namun berhasil melepaskan diri. Namun, faksi Erudite punya cara lain untuk menyerang. Mereka memperalat faksi Dauntless yang tersisa sehingga setiap 2 hari akan selalu ada anggota Dauntless yang bunuh diri, kecuali Dauntless mau menyerahkan seorang Divergent ke Erudite.

Four meminta Tris berjanji untuk tidak mengikuti permintaan Erudite, dan Tris menyanggupinya. Tapi, Tris kemudian malah diam-diam pergi ke markas Erudite untuk menyerahkan diri. Di markas Erudite, Tris dijatuhi hukuman mati, tapi sebelum dilakukan eksekusi, Tris akan dijadikan bahan percobaan. Tapi, Tris sekali lagi berhasil melarikan diri dengan dibantu Four dan Peter, seorang mantan Dauntless yang kejam tapi berhutang nyawa pada Tris.

Setelah melarikan diri, Tris berkumpul dengan koalisi dari sisa faksi Dauntless dan kaum factionless yang bermaksud menyerang Erudite. Namun, sebelum serangan dilakukan, Tris dibujuk oleh Marcus – ayah Four yang dibenci oleh Four – bahwa sebetulnya ada rahasia yang disembunyikan di markas Erudite, dan rahasia itu harus diungkap sebelum menjadi hancur akibat serangan gabungan Dauntless dan factionless, atau pengorbanan orang-orang yang dicintainya akan menjadi sia-sia.

Tris terkoyak. Haruskah ia mempercayai orang yang dibenci kekasihnya dan mengkhianati Four, atau haruskah ia mengabaikan makna pengorbanan orang-orang yang dicintainya?

Komen gue: Great! Really addictive dari sejak awal, dan endingnya pun intriguing, bikin bener-bener ga sabar baca lanjutannya. Seperti buku excellent lainnya, novel Insurgent ini ga bisa disimpen sekalinya mulai pegang baca.

Rating: ☆☆☆☆☆

Buku 3: Allegiant

allegiant veronica roth

 

Oke, di buku tiga ini, saya ga akan susah-susah bikin summary plotnya. Buku ketiga suck. Really.

– Alasan kenapa masyarakat terbagi jadi faksi-faksi, is so damn lame. Cupu banget. Ga masuk akal, ga science fiction banget.

– Penulisannya pake konsep dual narrative Tris dan Four, tapi ya ampun, ga ada bedanya narasi dari sisi Tris dan dari sisi Four. Pengarangnya sukses mengubah Four yang asalnya pemuda badass jadi cewe ABG labil. Crap.

– Boring story writing. Tokoh yang baru ada di buku ketiga ini karakternya ga kuat, banget kurang dieskplor tapi dipaksain berperan penting. Transisi antar cerita ga terasa mulus. Konflik dan ketegangannya relatif ga ada, apalagi dibanding buku satu dan dua.

– Endingnya lumayan sih. Beberapa orang di review lain benci endingnya karena menurut mereka banyak opsi lain yang lebih masuk akal yang bisa dilakukan oleh Tris, dan meski saya merasa pendapat orang-orang tersebut benar, somehow bagi saya endingnya masih sedikit terasa bisa dinikmati.

Rating: ☆☆

Overall.

Average total rating buku 1-3: ( 4+5+2 ) / 3 = 3,7 / 5 bintang.

Recommended, tapi jangan berharap terlalu banyak.

 

 

 

2 thoughts on “Review: Divergent Trilogy

    • masih mending bukunya. film divergent butut, banyak part yg dibuang padahal di bukunya mah berkesan.

      tp klo film insurgent ga tau, sy jg belum liat hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s