Passion and Work

Saking ga tau lagi mau ngapain malam ini, saya iseng buka facebook. Scroll timeline beberapa detik, klik salah satu temen lama, klik lagi, klik lagi, scroll lagi, dan saya terantuk pada status salah satu temen kuliah (temen SMA juga sih, tapi baru kenal pas kuliah). Statusnya pertanyaan klasik menggelitik: do what you love or love what you do?

Ini kayanya pertanyaan yang sering terlintas di benak orang-orang yang bekerja (terutama yang ga puas sama kerjaannya :P). Keliatannya, biasanya kondisinya adalah orang-orang suka maksain untuk “trying to love what you do” alih-alih mencoba maksain untuk “do what you love”. Karena, biasanya orang-orang nganggap “do what you love” itu adalah sesuatu yang riskan, dan suatu kemewahan yang tidak setiap orang bisa dapat kesempatan untuk melakukannya.

Tapi, saya pikir sebenernya ga gitu-gitu banget. (Hampir) semua orang bisa kok harusnya bekerja sesuai passionnya dan do what they love. Tapi, pertama yang harus dilakukan adalah membuka sedikit cara pandang alternatif terhadap yang namanya passion ini.

Passion != hobi

Passion ga mesti sama dengan hobi. Biasanya, hobi standar orang ga jauh-jauh dari kuliner, game, musik, film, olahraga, otomatif, fashion, jalan-jalan. Memang ada orang-orang yang sukses dari ngerjain hobinya, sampai-sampai ada cewe Korea yang dibayar untuk makan.

Tapi ya, realistis aja. Orang yang sukses dari menekuni hobi itu persentasenya kecil sekali. Dan lagi, ada sebuah fakta pahit tentang hobi ini. Yaitu, jika kita menyukai sesuatu, bukan berarti kita bagus dalam hal itu. Contohnya, saya sangat menggilai sepakbola dari kecil. Tapi sampai sekarang, skill main bola saya sangat cupu. Skill taktik bola juga pas-pasan, main FM juga sering quit ga di-save kalau kalah. Kalau saya maksain nyoba ngejar karir di dunia sepakbola, mungkin ya wassalam jadinya.

Passion membawa keberhasilan itu terbalik

Kita mungkin pernah denger bahwa mengerjakan sesuatu yang sesuai passion itu akan membawa keberhasilan. Tapi, sebentar, kalau misalnya passion itu ternyata bukan hobi atau sesuatu yang kita sukai (lihat poin 1 di atas), dari mana kita tahu passion kita apa?

Jawabannya adalah, cari dan pikirkan apa pekerjaan apa yang kita biasanya berhasil melakukannya. Dan passion kita, mungkin adalah pekerjaan itu. Karena, passion itu tumbuh dari keberhasilan.

Contoh. Seorang anak kecil yang suka menggambar (dan gambarnya memang lumayan) lalu dipuji oleh orang-orang di sekitarnya, dia akan makin tertarik untuk menggambar. Setiap keberhasilan dia mengundang pujian orang lain atau menjuarai lomba akan semakin membuat dia senang menggambar. Makin tertarik dia menggambar, makin sering dia menggambar, makin bagus hasilnya. Dan jadilah menggambar itu passion si anak, dan jadilah seolah-olah karena anak itu passionnya menggambar maka hasil gambarnya bagus. Padahal mah yang terjadi passionnya tumbuh karena gambarnya sering dibilang bagus.

Oke, contoh di atas mungkin imajiner. Saya ambil contoh yang lebih real, saya sendiri. Saya, awalnya tidak suka programming. Saya sarjana telekomunikasi, dan lebih senang utak-atik angka. Tapi, lalu di kantor, saya pernah terpaksa harus modifikasi program orang. Lama-lama, tugas saya di kantor meningkat jadi bikin aplikasi sederhana, bikin aplikasi ruwet, dan sampai bikin requirement + coding aplikasinya. Tugas-tugas dengan tingkat kesulitan bertahap itu sejauh ini bisa saya selesaikan. Hasilnya, sekarang saya relatif enjoy banting setir karir jadi programmer.

Inisiatif dan Explore

Oke, kalau sudah tahu bahwa keberhasilan dalam melakukan sesautu itu mendrive passion, sekarang gimana cara menemukan pekerjaan apa yang kita sering berhasil melakukannya? Caranya ya harus eksplorasi dan mencoba sesuatu yang lain dari yang biasa kita lakukan.

Tapi lalu, gimana cara explorenya kalau ga ada kesempatan atau tawaran untuk melakukan hal lain? Ya mau ga mau memang harus inisiatif. Misal di kantor kita ditempatkan di bidang teknik, tapi kita bosan dan ingin coba berkontribusi di divisi keuangan, ya coba aja inisiatif nanya ke teman yang di bagian keuangan apa yang bisa dibantu. Tawarkan bantuan mulai dari hal seremeh apa pun, karena kita memang niatnya mau belajar.

Atau misal kita orang kantoran tapi ingin buka hostel, ya coba aja inisiatif cari kerja part-time dulu di hostel, atau belajar buka sewa kontrak kecil-kecilan. Lihat apakah benar dunia perhostelan benar-benar bisa mendrive passion kita. Yang penting, saat eksplorasi kita jangan sampai lalai kewajiban utama.

Paling satu hal aja yang harus jadi pegangan, yaitu pekerjaan yang mau kita coba eksplore itu harus bisa dibuat tingkat-tingkat targetnya. Misal, kalau mau belajar jualan, kita bisa bikin target seperti dalam 1 tahun harus laku 1 per bulan, dalam 2 tahun harus laku 20 per bulan, 3 tahun udah bisa jual franchise ke orang lain. Atau, kalau mau belajar bikin web, kita bisa bikin target seperti dalam 1 tahun harus bisa bikin static web, dalam 2 tahun harus udah khatam AJAX, 3 tahun udah master security, dll. Yang penting ada “level-levelnya”, supaya bisa ada sense pencapaiannya.

Dan akhirnya yaa, gitu. Ga akan gampang, tapi saya pikir kebanyakan kita harusnya bisa kok menemukan sesuatu yang kita passionate about. Begitu kita ketemu passionnya, insya Allah kita bisa “do what you love” dan ga perlu lagi coba-coba maksain “love what you do”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s