Jutawan Tahu

Tahu sumedang

Tahu sumedang

Anda ingin jadi pengusaha jutawan? Jualan tahu sumedang bisa jadi solusinya. Tahu sumedang beneran ya, bukan wanita rambut sebahu sungguh menarik dipandang.

Bukan yang ini

Bukan tahu sumedang macam ini

Oh, dan jualan pop mie juga sekalian sambil jualan tahu sumedang.

pop mie

Pop mie lezat, pop mie praktis

Jadi, ceritanya hari sabtu kemarin saya ke Bandung dari Jakarta lewat tol. Di rest area KM 72, saya berhenti dulu mau beli minum. Sengaja milih rest area yang ini karena rest area ini relatif kosong, jauh lah kalau dibanding sama rest area favorit kaya KM 38 atau KM 57 yang nyari parkir aja susah ampun.

Nah, pas turun dari mobil, tercium semerbak tahu sumedang yang baru digoreng. Karena kabita, akhirnya saya pun memutuskan untuk beli.

Saya (S): “Ibu, sabarahaan tahuna?” (Ibu, berapa harga tahunya?)

Ibu-ibu yang jual (I): “Sarebuan hiji a” (Satunya seribu perak)

S: “Hah? Awis-awis teuing, ieu tahuna ge aralit kieu?” (Mahal amat, tahunya juga kecil-kecil gini? FYI, tahunya bener-bener kecil ukurannya, mungkin cuma sekitar 3/5 ukuran tahu sumedang standar)

I: “Muhun, margi ieu sewa tempatna awis” (Iya, soalnya ini sewa tempatnya mahal)

S: “Sabaraha kitu sewana?” (Berapaan gitu sewanya?)

I: “10 juta sabulan

Doeng. Ibu ini cuma jualan tahu (dan pop mie) pake gerobak yang ukurannya palingan sekitar 2 x 0.5 m, dan total area yang dipake paling cuma 2 x 1 m. Jualannya juga di rest area yang ga laku, pas saya datang kemarin Sabtu jam 11 siang aja sepi. Tapi harganya 10 juta sebulan. Jauh lebih mahal dari cicilan KPR saya sebulan. Dan sangat jauh banget kalau dibanding harga kontrakan rumah saya taun kemarin yang 16 juta setahun tapi udah dapet kontrakan LB 88m² di Depok.

S: “Katutup eta teh biayana tina ieu icalan tahu sareng pop mie?” (Ketutup itu biayanya dari jualan tahu dan pop mie?)

I: “Nya muhun alhamdulillah nutup. Asal wantun weh nyandak tempat ieu mah” (Iya alhamdulillah ketutup. Asal berani aja ngambil tempat disini mah)

S: “Ai ibu tos sabaraha lami icalan di dieu?” (Ibu udah berapa lama jualan di sini?)

I: (saya lupa jawaban ibunya, tapi sekian tahun lah yang jelas mah)

There, you have it. Saya ga ngorek lebih jauh lagi tentang profitnya sih, tapi itu ibu-ibu jualan berdua sama anaknya. Berarti, minimal omzet kotor bulanan dari jualan tahu di gerobak itu bisa mencapai 10 juta + biaya bahan baku (adonan tahu, minyak dll) + profit yang cukup untuk kehidupan ibu dan anak.

Padahal yah, masih di rest area yang sama, saya liat ada beberapa tempat makan yang tutup (mungkin ga laku karena tempatnya sepi), termasuk satu rumah makan Padang yang lumayan besar. Tapi penjual tahu mah masih bisa tetap survive.

Nah, jadi tunggu apa lagi? Selamat dagang tahu sumedang!

One thought on “Jutawan Tahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s